Pameran Peta Kuno di Museum Bahari, Sunda Terpisah dari Jawa, Nusa Tenggara Disebut Iova Menor

Lukisan spontan halaman dalam Museum Bahari (DOKUMEN PRI)

JAKARTA (28/1/2024), AMUNISI.CO.ID – Mengamati peta atau kartografi kuno yang dipamerkan di Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan Nomor 1, Penjaringan, Jakarta Utara, terasa banyak yang asing atau aneh. Yang paling menarik perhatian adalah peta Pulau Jawa yang terbelah oleh perairan atau selat menjadi dua bagian.

 

Bacaan Lainnya
Peta Tanah Sunda terpisah dari Pulau Jawa.

Sebelah barat disebut Sunda dan sebelah timur disebut Jawa namun ejaannya IAWA atau IAOA. Malahan di sebelah kanan belahan pulau itu tertulis huruf lebih kecil, Matarom. Maksudnya wilayah Mataram.

Daerah yang menunjukkan wilayah Kesultanan Banten tertulis Bantam. Sedangkan ibukota Tanah Sunda tertulis DAIO maksudnya Dayeuh, yaitu pusat kerajaan Pakuan dan Pajajaran.

“Memang peta Pulau Jawa yang terbelah ini salah satu yang sangat menarik,” kata Firman Faturrohman kurator pameran Kartorupa, Warisan Kartografi Nusa Jawa, Rabu (24/1/2024), ketika memandu Amunisi. Namun Firman meyakinkan pada umumnya semua yang disuguhkan itu termasuk sangat menarik dan perlu diketahui.

Saat dikonfirmasi Minggu (28/1/2024), Firman menegaskan peta itu dibuat oleh Pieter van der Aa tahun 1707. Menurutnya, tulisan Matarom di peta itu bisa diperjelas kemungkinannya Kerajaan Mataram.

Suasana ruang pamer tokoh tokoh pembuat peta/kartografi.

Amunisi mengamati pada peta itu diperlihatkan pula bagian ujung selatan Sumatra dan sebagian Pulau Bangka. Namun yang tertulis bukan Sumatra melainkan Samatra. Sedangkan untuk Bangka ditulis I. Banca.

Kartografer Belanda dan kartografer Nusantara

Di sebelahnya ada lagi peta Pulau Jawa, namun lebih gemuk. Pantai selatan Jawa dilukiskan menggembung ke arah samudra tanpa teluk satupun. Peta kuno tersebut bertahun 1595, karya kartografer Portugis bernama Abraham Ortelius.

Tertulis huruf kapital IAWA dan di bawahnya ada tulisan iaoa. Ujung selatan Sumatra juga digambarkan lokasi Palembang namun ditulis Palimban. Pelabuhan Sunda Kelapa ditulis Cunda Calapa.

Peta Asia Tenggara dengan pulau pulau serba tambun.

Perairan Laut Jawa sampai kepulauan Riau ada tulisan Ciriman Iaoa, yang maksudnya kepulauan Karimunjawa. Sedangkan kepulauan Nusa Tenggara atau Sunda Kecil ditulis IAVA MENOR atau Java Minor. Di salah satu pulaunya yaitu Sumbawa ada beberapa titik lokasi di antaranya tertulis Bima. Berarti kota ini sudah ada sejak abad 16.

Sangat menarik membandingkan peta kuno dan nama-nama pulau maupun daerah dengan kenyataan sekarang. Begitu berbeda, walau ada alur benang merahnya. “Jumlah peta kuno yang dipamerkan lebih dari 20. Maaf nanti siang saya cek untuk pastinya,” kata Firman.

10 Kartografer Dunia
Beralih ke ruang pamer berikutnya kita menyaksikan deretan 6 balok berdiri tegak setinggi perut orang dewasa. Di tiap puncak balok terdapat foto dan informasi tentang 10 tokoh pembuat peta atau kartografer dari seluruh dunia.

Yang berasal dari Nusantara adalah Karaeng Pattingelloang (1600- 1654). Nama lainnya Mangangada’cina I Daeng I Ba’le Karaeng Pattingaloang Sultan Mahmud Tumanangari Bantobiraang.
Dia dikenal sebagai tokoh yang haus ilmu pengetahuan termasuk ilmu kartografi. Dia memesan dua globe atau peta bola dunia yang kelilingnya antara 157 -160 inchi terbuat dari kayu dan tembaga. Ini dimaksudkan untuk menentukan kutub utara dan selatan.

Kartografer tertua adalah Muhammad Al Idris (1100- 1165) dari Afrika Utara. Ia dikenal sebagai ahli geografi Muslim yang bekerja di istana Raja Roger II di wilayah Palmermo, Sisilia. Sedang kartografer termuda bernama Shanawdithit, hidup tahun 1801- 1829. Shanawdithit dikenal pula dengan nama Nancy April. Dia anggota suku Benthuk, suku bangsa asli Pulau Newfoundland, Kanada. Dia ahli gambar peta.

Ke ruang pamer paling utara kita melihat karya lukisan terkait dengan kartografi. “Ada 10 seniman yang karya dipamerkan di sini,” kata Firman. Terlihat antara lain karya A Iskak yang berjudul Ruang Batin, dan satu lagi judulnya bernada petuah: All That Glittering is not Gold (Tak semua yang gemerlap itu emas).

Ada karya Shavira Mada diberi judul Nusantara XII dan Andi Fadilla memamerkan karyanya, Kebuntuan. Satu lagi karya lukis peta Pulau Jawa yang dihiasi wajah raja-raja bermahkota dengan warna dominan abu-abu kebiruan dan krem.

Ruang pamer yang digunakan merupakan bagian bangunan Museum Bahari yang hangus dalam musibah kebakaran besar 16 Januari 2018 yang silam. Yaitu ujung utara Blok A. Namun kini sudah bagus setelah direhab dengan konstruksi baja.

Pameran yang dimulai 16 Januari itu akan berakhir 30 April 2024, atas kerja sama UP Museum Kebaharian Jakarta dengan Tim Riset Departemen Geografi Universitas Indonesia.

Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta Mis’ari menjelaskan, Museum Bahari sudah dilengkapi bangku-bangku kayu berbentuk perahu sebagai ciri khasnya. Juga banyak meja dan bangku taman di sudut sudut halaman Museum Bahari dan Menara Syahbandar.

“Itu hasil pengadaan anggaran tahun 2023. Tujuannya untuk memfasilitasi pengunjung museum agar bisa bersantai setelah kunjungan. Bahkan bisa untuk tempat santai keluarga dan untuk Gen Z bisa sambil mengerjakan tugas-tugasnya,” ujar Mis’ari.

Menurut catatannya, selama tahun 2023 pengunjung Museum Bahari mencapai 48.000 orang lebih. Tepatnya 48.144 orang. Terbanyak bulan Agustus 6.000 orang lebih. Paling minim April hanya 1.265 orang. Dan Januari 2023 juga hanya 2.066 orang. Atau rata rata 76 orang per hari.

Dalam bulan Januari 2024 ini pengunjung Museum Bahari juga sama dengan awal tahun lalu, rata-rata 76 orang per hari. Tercatat selama 20 hari buka, pengunjungnya 1.524 orang. (PRI)

Total Views: 2384

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *