PEMALANG (24/4/2025), AMUNISI.CO.ID — Ternyata daerah terpencil sekalipun seperti Desa Bongas di Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, memiliki pertumbuhan ekonomi yang tidak terbelakang. Justru dengan memproduksi gula aren, Bongas jadi terdepan dibandingkan daerah lain, yang jauh dari kota besar. Ada sekitar 30 produsen yang menghasilkan ribuan linting (satuan cetak) gula aren padat tiap harinya.
Menurut Isti Faiyah, salah satu produsen gula aren setempat, saat ini pemasaran melalui online terbilang lancar dan menjanjikan. Sejak memanfaatkan penjualan melalui jejaring internet media sosial, pendistribusian produk merambah ke berbagai daerah. Bukan lagi di seputaran pasar Kecamatan Watukumpul, atau Kabupaten Pemalang saja.
“Saya mulai produksi pada 2012, sampai 2018 menjual produk secara manual ke pasar-pasar, atau pengepul. Harga jual rendah, tak sebanding dengan biaya operasional, mengingat jarak tempuh ke pasar-pasar cukup jauh,” cerita Isti, tentang produksnya.
Pada 2019, dia coba memasarkan lewat online di grup-grup Facebook, Instagram dan lainnya. Ternyata respons dari masyarakat cukup positif. Pesanan terus mengalir lewat media sosialnya. Jumlah produknya pun bertambah. Namun mengingat masih di bawah 200 kilogram perhari, ia dan suaminya, Fukron, yang mengerjakan tanpa karyawan.
“Belum terbilang produk massal. Pemasaran sebagian besar di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jobodetabek), beberapa di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Bahkan gula aren cair saya kirim ke Taiwan lewat TKW. Belum banyak, masih kecil-kecilan. Sifatnya masih promo,” jelas produsen gula aren yang mengaku pemilik 100 batang pohon di area satu hektare itu.
Dari 100 pohon itu, lanjut Isti, baru sekitar 50 batang yang sudah bisa diolah, diambil air nira sebagai material gula aren. Hasil yang diperoleh antara 50 sampai 80 kilogram tiap harinya. Satu kilogram dikemas jadi satu bungkus isi lima tangkap linting gula aren.
“Harga jual produsen sekitar Rp27.500 perbungkus (satu kilogram). Pedagang Sembako di pasar kawasan Pemalang menjualnya sekitaran Rp.8.000 pertangkap, atau dua linting. Di Jabodatabek atau daerah lainnya mungkin lebih mahal. Gula aren asal Bongas dikenal keasliannya. Tanpa campuran dan bahan pengawet,” jelas Isti.
Dijelaskan, keaslian produknya gula arennya bisa diuji di laboratorium, atau secara konvensional, dengan membandingkan keasliannya dengan gula aren lain. “Gula aren produk saya jika diletakan di suhu ruang, dalam kurun waktu dua jam, akan mengembun, dan mudah meleleh, karena tanpa pengawet. Warnanya pun kecoklatan bukan kehitaman, karena prosesnya masih tradisional, yakni menggunakan kayu bakar. Bukan diproses secara modern, atau pabrikan,” paparnya.
Sejauh ini pihak Pemkab Pemalang belum terlibat langsung terhadap petani gula aren. Keterlibatannya hanya sebatas seremonial saja, seperti menyertakan di dalam acara pameran atau ekspo. Padahal ditinjau dari sudut pertumbuhan ekonomi masyarakat, produk olahan gula aren cukup potensial dan menjanjikan. Alangkah bijaknya jika pelaku UMKM ini ditangani dengan baik melalui penyuluhan Pemkab Pemalang. Petani gula aren Desa Bongas sangat berharap adanya sentuhan dari pihak berkompeten, agar menjadi pebisnis professional. (HSE)





