JAKARTA (20/3/2024), AMUNISI.CO.ID — Cafe Difabis Baznas Bazis DKI Jakarta yang berada di lingkungan halaman Kantor Wali Kota Administrasi Jakarta Timur bulan Maret 2024 ini sudah genap dua tahun beroperasi. Sudah banyak pelanggannya yang begitu menikmati berbagai jenis kopi atau teh hitam dan hijau yang diseduh oleh barista yang terlatih. Begitu juga pelayan di kios kue yang juga bagian dari kafe tersebut cukup cekatan melayani pelanggannya.
Kedua tenaga kerja tersebut direkrut Baznas Bazis DKI Jakarta dari kalangan difabel yaitu tuna rungu dan tuna wicara. Itulah keistimewaan Cafe Difabel yang diresmikan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi DKI Jakarta Hj Fery Farhati Baswedan pada 29 Maret 2022 yang silam, dengan dihadiri Gubernur DKI Jakarta saat itu Anies Rasyid Baswedan.

“Untuk gaji mereka selama ini masih dari Baznas Bazis Jakarta Timur. Namun ke depannya diusahakan gajinya full dari hasil penjualan di kiosnya,” kata Koordinator Baznas Bazis Jakarta Timur, Eka Nafisah, Rabu (20/3/2024).

Diakuinya, selama Ramadaan ini kafe dan kios kue Difabis Baznas Bazis di lingkungan kantor Wali Kota Jakarta Timur itu memang tutup. Namun, setelah Idul Fitri nanti akan dibuka lagi seperti biasa.
Sementara Anas Abi Anzah dari seksi Distribusi dan Pendayagunaan Baznas Bazis Jakarta Timur menambahkan, penjualan kopi dan teh di Cafe Difabis sehari antara 30-an sampai 70-an cangkir. “Pernah lagi sepi hanya 11 cup seharian,” kata Anas.
Semula tenaga difabel yang dipekerjakan memang hanya dua orang. Yaitu seorang di kafe sebagai barista dan seorang lagi di kios kue/makanan. “Namun yang di kafe kini diproyeksikan dua orang,” kata Anas lagi.
Sekitar lima hari sebelum Ramadan memang terlihat di Cafe Difabis dua orang sedang melayani para pelanggan. Seorang bernama Rafli (23), pria berwajah ceria yang menjadi barista, bersama seorang gadis bernama Rara (22) yang membantu Rafli.
Dengan bahasa isyarat dan akhirnya melalui tulisan di buku catatan, Rafli mengungkapkan dia sudah bekerja di Cafe Difabis ini dua tahun. “Saya belajar menjadi barista di Sudirman selama setahun,” ungkapnya. Sementara ia mengaku menempuh pendidikan formal di SLB Santi Rama, Cipete, Jakarta Selatan.
Seorang difabel yang lain bernama Nurbani Karima (33) ditugaskan melayani pembeli kue-kue dan roti di kios Difabis berdampingan dengan kafe Difabis. Dengan bahasa isyarat Nurbani menuturkan, ia bekerja di situ baru 2,3 bulan.
Ketika ditanya pendidikannya Nurbani menjawab dengan tulisan di atas secarik kertas : SLB Santi Rama, Cipete, Jakarta Selatan. Berarti sama dengan Rafli, hanya lebih senior dengan selisih waktu 10 tahun.
Mengenai pelayanan oleh para difabel ini para pelanggan menyatakan senang. Seperti Anisah seorang karyawati Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur, Abu Raihan warga Cakung serta Jonathan warga Kecamaran Cipayung menyatakan puas dengan kopi mix seduhan barista Cafe Difabis di lingkungan kantor Wali Kota Jakarta Timur tersebut. Hanya pada umumnya mereka merasa sulit mempraktikkan bahasa isyarat yang dianjurkan.
“Soalnya bahasa isyarat untuk difabel tersebut kamusnya tidak per kata melainkan per huruf,” kata seorang pengamat ketika pesan kopi gula aren di Cafe Difabis lima hari sebelum Ramadan. (PRI).





