Perlu Diberi Fungsi Baru Heritage yang Selesai Direstorasi Sekitar Museum Bahari

Para peserta Heritage Walking Tour (DOKUMEN SUPRIHARDJO)

JAKARTA (18/4/2024), AMUNISI.CO.ID- Perlu segera diberi fungsi baru semua bangunan bersejarah dan fasilitas yang sudah direstorasi maupun dibangun di sekitar Museum Bahari di Jl Pasar Ikan, Panjaringan, Jakarta Utara. Dengan demikian ada tindak lanjut manfaat bagi masyarakat dan semua fihak, disamping bangunan cagar budaya dan fasilitas sosial maupun fasilitas umum tersebut tetap terpelihara dan tidak sia sia.

Demikian rangkuman pendapat yang disampaikan Arkeolog Candrian Attahiyat, Sabtu (20/4/2024), selaku peserta Heritage Walking Tour Kamis yang lalu.

Bacaan Lainnya

Begitu pula pandangan Kapolsek Penjaringan Kompol Agus Adiwijaya dan Kasubag Tata Usaha UP Museum Kebaharian Ismail Fahreza usai mengikuti Heritage Walking Tour di sekitar Museum Bahari, Kamis (18/4/2024).

Ikut juga Kasudin Parekraf Jakarta Utara Shinta Nindyawati, para ahli Pelindungan Budaya Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, para pemandu Taman Arkeologi Onrust dan Kasudin Kebudayaan Jakarta Utara Ny Cucu Rita Sary.

Tour berjalan kaki tersebut dipandu edukator Museum Bahari Fiman Faturrahman yang diikuti 18 peserta inti dan belasan peminat lainnya. Mereka dilepas Kepala UP Museum Kebaharian Jakarta Mis’ari di Museum Bahari.

Tour itu dalam rangka memperingati Hari Heritage Dunia 18 April, yang berawal dari Tembok Kota Batavia abad 17 ke Pasar Hexagon Pasar Ikan dan TPI terus berakhir di Menara Syahbandar yang dibangun tahun 1839 di atas puing Bastion Culenburg Benteng Batavia.

Sedangkan bangunan bersejarah maupun fasos dan fasum yang dimaksud Candrian dan peserta tour tersebut adalah Pasar Hexagon milik PD Pasar Jaya, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) milik Dinas KPKP DKI Jakarta dan jalan serta taman di sekitar Museum Bahari maupun sebelah utara Tembok Kota Batavia.

“Kalau tidak dimanfaatkan dan dipelihara, bisa rusak lagi dan sia sia saja dibiayai dengan anggaran yang besar,” tambah Candrian Attahiyat.

Kepolsek Penjaringan Kompol Agus Adiwijaya pada akhir acara tersebut mengakui begitu banyak bangunan heritage di wilayah kerjanya.

“Itu semua perlu diketahui kapan didirikan, didatangi dan kemudian ditinggalkan,” ujarnya

Kesan Bung Karno

Ketika rombongan tour tersebut menuju bagian utara Tembok Kota Batavia sempat menyaksikan lampu lampu taman yang tinggal tiangnya saja. Namun bangku bangku taman dari bahan semen yang halus mengkilap terlihat masih utuh.

“Semua yang dari besi sudah hilang. Makanya tutup riool yang semula dari besi kini diganti dari beton,” kata Satpam Museum Bahari maupun masyarakat dari lingkungan museum itu.

Pada kesempatan tersebut Kompol Agus Adiwijaya dan Ismail Fahreza bertukar pendapat pentingnya memanfaatkan taman sebelah utara Tembok Kota Batavia agar semua pihak ikut bertanggungjawab memeliharanya.

Pada akhir acara tour tersebut Kapolsek Penjaringan mengingatkan bahwa kawasan Pasar Ikan dan sekitarnya cukup memiliki nilai sejarah yang tinggi dan ada peninggalannya.

Sebab di pelabuhan Pasar Ikan tersebut Bung Karno (Proklamator dan Presiden pertama RI) menjejakkan kakinya di Jakarta lagi untuk perjuangan bangsa pada 9 Juli 1942, setelah dibebaskan Jepang dari pengasingannya oleh Belanda di Bengkulu.

. “Pasar Ikan penuh sesak dengan hasil penjualan dari laut airnya kotor, daun-daunan, kepala ikan, dan sampah, kelihatan mengapung dalam air. Bau hanyir dari ikan mata, memenuhi udara, seketika itu. Akan tetapi, ketika aku dibantu melangkahkan kaki ke tangga batu yang membawaku ke atas daratan, aku berbicara dalam hatiku. Alangkah indah pemandangan ini. Seperti tak pernah aku melihat jang lebih indah seumur hidupku,” ucap Kompol Agus Adiwijaya mengutip kalimat Bung Karno yang diabadikan dalam prasasti tembaga di Gedung TPI.

Wisman 680 Orang (7,4%)

Sementara itu Kepala Sudin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Utara Shinta Nindyawati ketika diminta kesannya mengikuti Heritage Walking Tour kemarin menilai sangat bagus dan cukup menyenangkan.

“Kita menjadi bertambah wawasan. Terutama dengan tembok kota itu, karena baru pertama kali saya melihatnya,” kata Shinta.

Juga mengenai Pasar Ikan dan Tempat Pelelangan Ikan Dinas KPKP DKI Jakarta, Shinta menyatakan baru tahu bahwa ada banyak artefak di tempat itu.

“Pastinya sangat menarik kalo sudah siap dikunjungi dan terbuka untuk umum,” pungkasnya.

Mengenai Museum Bahari, Kepala UP Museum Kebaharian Jakarta mengakui pengunjungnya tahun 2024 sampai dengan medio April mencapai 9.150 orang. Dari jumlah itu wisatawan mancanegara (wisman)nya 680 orang atau 7,4 persennya.

Menurut Catur seorang pemandu wisata senior yang tinggal di Penjaringan, Museum Bahari termasuk sering dikunjungi wisatawan mancanegara terutama para bule karena dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa yang banyak berlabuh kapal kapal tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. (PRI).

Total Views: 1082

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *