JAKARTA (4/2/2025), AMUNISI.CO.ID – Taman berbentuk seperempat bundaran di kantor Walikota Jakarta Timur kini semakin indah. Begitu juga Cafe Difabis Baznas Bazis Jakarta Timur yang berada di taman itu kini makin maju dan mandiri dengan dilayani tiga orang difabel tuna rungu. H Abu Galih pengamat budaya dan pariwisata Jakarta mengungkapkan hal itu pada Senin (3/2/2025).
“Aksesabelitasnya dari gedung blok A maupun dari Gedung Serbaguna dan Masjid Baitul Muhyi di Blok C juga memadai,” ujar Abu Galih lagi. Hal itu menyebabkan mudah dijangkau sekalipun oleh kaum difabel.
Aditya Pratama warga Harapan Indah Bekasi dan Jonathan Siahaan warga Gunung Putri Bogor yang berkantor di gedung Blok B kantor Walikota Jakarta Timur juga merasakan perkembangan itu. “Saya termasuk sering ngopi di situ. Kopinya enak harganya pun terjangkau,” kata Aditya kepada Amunisi.co.id, Selasa (4/2/2025).
Jonathan juga mengakui hal itu. “Semua jenis kopinya enak, kecuali yang dicampur coklat, saya nggak suka,” katanya. Harga teh satu cup Rp12.000 sedang kopi dan kopi kombinasi harganya Rp16.000,- sampai Rp 18.000,- per cup.
Mengenai hal itu Koordinator Baznas Bazis Jakarta Timur Eka Napisah Senin (3/2/2025) menjelaskan Cafe Difabis dengan tiga orang tenaga difabel itu memang makin maju. Sejak diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan 29 Maret 2022, semula tenaga kerjanya digaji oleh Baznas Bazis DKI Jakarta. “Tetapi sejak Mei 2024 yang lalu sudah menerima hasil penjualan mereka sendiri ,” kata Eka.
Diakui oleh Eka Nafisah fasilitasnya kini semakin lengkap dengan perbaikan taman. Untuk itu Baznas Bazis akan berkontribusi untuk renovasi taman itu. “Memang sekarang belum. Tetapi nanti akan kita bayarkan,” tegasnya.
Menurut Eka, Cafe Difabis tersebut kini dikelola Anas Abi Anzah dari Seksi Distribusi dan Pendayagunaan Baznas Bazis Jakarta Timur dan perkembangannya menggembirakan.
Anas sendiri kepada Amunisi.co.id, Selasa (4/2/2025) mengakui sejak Mei 2024 cafe yang mempekerjakan tiga orang difabel itu hingga kini pendapatanya fluktuatif. Tetapi tidak pernah merugi. Tiga orang difabel tersebut masing masing Rafli sebagai barista dibantu Rara dan Zahwa di bagian dapur yang memproduksi burger dan kue-kue lainnya.
“Mereka digaji dari hasil penjualan di cafe tersebut, masing masing Rp 2.000.000 perbulan ditambah benefit uang makan Rp15.000 per orang per hari,” kata Anas lagi. Ketika Amunisi.co.id, singgah di Cafe Difabis Senin (3/2/2025) lewat pukul 15.00 tampak wajah baru yang melayani di kios kue Cafe Difabis.
Dengan bahasa isyarat dan tulisan di kertas petugas kios Difabis itu menjelaskan ia bernama Zahwa (23) dan baru 10 bulan di situ. “Saya anak bungsu dari 3 bersaudara,” tulisnya sambil tersenyum. Gadis warga kelurahan Pulogebang tersebut mengaku alumni SLB Santi Rama, Cipete, Jakarta Selatan.
Mengenai hasil atau keuntungan penjualan roti, kue dan burger yang dijualnya, Zahwa mengaku paling sedikit Rp 100.000. “Itu minimal,” katanya dengan isyarat tangan kanannya naik ke atas.
Amunisi.co.id pesan burger. Dengan sedikit mengangguk Zahwa memekarkan kedua telapak tangannya yang mungkin maknanya : baiklah, tunggu.
Tidak berapa lama burger mengepul dan Zahwa menawarkan 3 jenis topping, saos sambal, saos tomat dan keju. Setelah dibungkus diberikan untuk dibawa pulang. Mengenai renovasi taman sekitar Cafe Difabis dan Green House itu Kepala Bagian Umum Walikota Jakarta Timur Anton Widodo mengatakan itu gagasan Plt Walikota Jakarta Timur I’in Mutmainnah. “Hingga kini sudah berlangsung sebulan. Diharapkan akhir bulan ini selesai,” pungkasnya. (PRI)



