JAKARTA (9/7/2024), AMUNISI.CO.ID – Nama Ir H Djuanda, pencetus Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 dan Perdana Menteri RI 1957-1959 di zaman Presiden Soekarno diabadikan sebagai nama aula Museum Bahari di Jl Pasar Ikan nomor 1 Penjaringan, Jakarta Utara.
Peresmian tersebut dilakukan oleh putri Almarhum Djuanda yaitu Noorwati Djuanda bersama Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta Mis’ari, Minggu (7/7/2024).
Acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan perayaan HUT ke 47 Museum Bahari disaksikan Ismeth Wibowo dan Shahandra Hanitiyo selaku cucu Djuanda dan para peserta Jelajah Jalur Rempah Jakarta.
Hadir pula pimpinan Indonesia Hidden Heritage Creative Hub Nofa Farida Lestari Wazir dan Sriwulantuti serta mantan Kepala UP Museum Kebaharian Jakarta Husnison Nizar dan Lurah Penjaringan Makhrus Nugroho.
Dalam sambutannya Mis’ari menyampaikan terimakasih kepada keluarga Djuanda yang berkenan hadir.
“Bapak Djuanda dengan deklarasinya telah berjasa menyatukan kedaulatan laut negara kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari banyak pulau pulau. Sebab sebelummya, laut di antara pulau pulau kita bebas dilayari kapal kapal asing dari mana saja,” kata Mis’ari.
Sementara Ismeth Wibowo selaku cucu Djuanda menambahkan kakeknya itu juga pernah menjabat Menteri PU dan Menteri Pertahanan di jamannya. Ketika wafat tahun 1963 diakui sebagai Pahlawan Nasional dan dimakamkan di TMP Kalibata.
“Bandar Udara di Waru Surabaya juga memakai nama Djuanda,” tambahnya.
Acara dilanjutkan pertunjukan tonil fabel oleh Harry De Fretes di Cafe Museum Bahari dengan cerita kehidupan ikan dan penutupan Bahari On Screen di Ruang Djuanda.
Acara ini dilanjutkan talkshow dengan finalis Lomba Film Pendek tentang kebaharian yang dipandu Nofa Farida Lestari, Direktur Eksekutif IHH Creative Hub.
Kenapa yang hadir hanya pemenang ke 3 saja, yaitu SMK Negeri 53 Jakarta?
Sriwulantuti selaku Direktur Kemitraan dan Kerjasama IHH HC Selasa (9/7) menjelaskan,
Juara 1 nya tinggal di Kandanghaur, Kabupaten Indramayu yaitu
Nazwa Mecha Ananta dengan filmnya berjudul Mancing.
Sedang Juara 2 Nazwa Wahyuni tinggal di Sumatra Barat dengan karya filmnya berjudul “Cemar.”
Mengenai Juara 3 dengan film pendeknya berjudul “Nenek Moyangku Seorang Pelaut lalu Aku” karya
Shandy Putra Jaya.bersama timnya cukup membuat kagum penonton saat diputar di Ruang Djuanda tersebut.
“Walaupun pendek, tetapi pesan film tersebut sampai kepada penonton. Yaitu mengobarkan kembali semangat kelautan dari masyarakat bawah diiringi pentingnya teknologi,” kata H Abu Galih pengamat budaya dan pariwisata yang sempat menghadiri talkshow tersebut.
Menurut Sriwulantuti Juara Harapan 1 film berjudul “Mengejar Tawa” karya Gabriela Audrey Lim
Tangerang Selatan dan
Juara Harapan 2 film “Pesan dari Alam,” karya Manalgina Nabila, Sidoarjo, Jawa Timur
GURU KEHIDUPAN
Sementara museolog Kartum Setiawan yang memandu Jelajah Jalur Rempah Jakarta 2024 menjelaskan, peserta jelajah kali ini benar benar 100 orang.
Yang termuda berumur 14 tahun bernama Banyu warga Cibinong, Bogor, dan yang tertua berumur 78 tahun bernama Harjo warga Jakarta Timur. Kemudian disusul Robiyah (73) warga Bekasi nenek dengam
3 orang cucu dari kedua anaknya.
Bahkan karyawan dan karyawati UP Museum Kebaharian juga ikut menjelajah sebagai seperti Sumardi dari Rumah Si.Pitung Marunda dan Dian Alfiani dari kantor Unit Pengelola.
Yang terjauh peserta dari Surabaya yaitu Ida dan dari Semarang yaitu Rinda Ayu mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro.
“Ini ketiga kalinya saya ikut menjelajah bersama Komunitas Jelajah Budaya,” kata Rinda Ayu ketika ditemui Amunisi.co.id, di bawah Menara Syahbandar yang dibangun tahun 1839 itu.
Yang pertama Jelajah ke permukiman tua industri tembakau di Parakan, Temanggumg dan kedua ke perkampungan kuno industri pembatikan di Lasem, Jawa Tengah.
Rinda mengaku senang menjelajah kota atau daerah yang berkaitan dengan sejarah.
“Historia Magistra Vitae,” kata Rinda menyitir kata bijak filsuf Yunani, Cicero.
Guru sejarah yang menjabat Wakil Kepala Sekolah SMPN 221 Jakarta Utara,
Idris Prabowo juga sering berucap Historia Magistra Vitae. Tetapi menurut dia kata bijak berbahasa Latin itu aslinya berbunyi Historia Vitae Magistra.
“Yang maknanya tetap sama, yaitu Sejarah adalah Guru Kehidupan,” imbuh Prabowo.
Sementara Kartum Setiawan selaku Ketua Komunitas Jelajah Budaya menorehkan moto senada; “Kenali Sejarah Agar Tak Salah Melangkah.”
Saat rombongan jelajah jalur rempah mengunjungi restoran sea food di Jl Kakap 4 Jakarta Utara, Kartum menjelaskan bangunan itu dahulunya Galangan Kapal VOC.
“Dibangun tahun 1628. Hampir bersamaan dengan pembangunan Jembatan Kota Intan,” katanya.
Bentuk dan bahan material galangan kapal tersebut hampir sama dengan Museum Bahari yang dibangun dua lantai pada abad 17 dan 18.
Seperti pada tembok luar terlihat banyak angkur besi berbentuk huruf kapital Y terbalik dan pilar pilar balok kayu jati berpenampang bujur sangkar dengan sisi antara 35-45 cm.
Setelah menyusuri sebelah barat Kali Besar (Hilir Ciliwung) rombongan menjelajah ke selatan melewati kolong jalan tol dan kolong jembatan KA sampai ke Jl Tiang Bendera. Menyisir ke timur sampailah ke jembatan jungkat jungkit dan berfoto bersama di Jembatan Kota Intan tersebut.
Rombongan penjelajah wilayah dan bangunan bersejarah itu memyeberang ke sebelah timur Kali Besar dan menyusuri Jalan Tongkol, kembali ke utara menyeberang Jalan Pakin dan masuk halaman Menara Syahbandar, menara miring 2 derajat lebih ke selatan, dan kembali ke plaza Museum Bahari. (PRI)





