“Manis Garam Madura” dan “Lagu Nenek Moyangku” Mengiringi Pameran Artefak Suku Bangsa Bahari Nusantara

Tarian budaya Madura dan Makassar dipadukan dengan iringan lagu "Nenek Moyangku". (DOKUMEN PRI)

JAKARTA (4/12/2022), AMUNISI.CO.ID — Lagu “Beramai-ramai ke Laut” ciptaan Ibu Soed (Ny Saridjah Niung Bintang Soedibyo) yang lebih dikenal sebagai lagu “Nenek Moyangku” mengiringi pembukaan Pameran Artefak Suku Bangsa Bahari Nusantara di Museum Bahari, Jaln Pasar Ikan Nomor 1, Jakarta Utara.

Bacaan Lainnya
Kurator Supratikno Rahardjo menjelaskan materi pameran. (DOKUMEN PRI)

Pameran yang dibuka Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Imam Hadi Purnomo 2 Desember 2022 yang lalu itu diminati banyak orang. Seperti Minggu (4/12/2022) terlihat puluhan pengunjung datang menyaksikan pameran.

Para mahasiswa melihat pameran ArtefaK Suku Bangsa Bahari Nusantara. (DOKUMEN PRI)

“Hari ini wisman (wisatawan mancanegara) belum kelihatan. Tetapi sejak pukul 11.00 sampai saat ini masih ada kunjungan dari Universitas Muhammadiyah Jakarta,” kata Christiano Rae Sukirman, seorang edukator Museum Bahari yang tengah bertugas hari itu.

Para mahasiswa perguruan tinggi tersebut menyimak satu persatu materi pameran. Informasi yang disampaikan cukup menarik, baik narasi maupun judulnya. Christiano yang juga Humas Pameran menuturkan event yang akan berlangsung sampai 2 Maret 2023 mendatang itu cukup mengundang minat.

Mengenai Madura yang dikenal sebagai salah satu suku bangsa bahari, diungkapkan hal yang menarik. Judulnya pun menggelitik “Manis garam dari Madura”. Narasinya mengenai tradisi petani garam di pantai Kalianget, Kabupaten Sumenep yang menjalani ritual tahunan dengan berbagi kepada masyarakat bagaimana cara membuat garam.

Di sampingnya ada replika kapal layar Makassar dengan perbandingan 1:10 yang diberi judul Kapal Penakluk Lautan. Kapal tersebut memiliki 7 layar dengan beberapa macam ukuran.

Di dekatnya ada lukisan pencak silat Buton dengan kuda-kuda yang mirip silat dari berbagai daerah di lndonesia. Di tembok sebelah barat ada judul “Bajo, Hidup dan Mati di Lautan”. Di papan lain ada judul berbunyi Gappa dari Etika hingga Hukum Niaga yang bernarasi tentang proses lahirnya hukum laut di sekitar Makassar 1 April 1676 Masehi.

Di tengah ruang pamer ada contoh bekal nelayan Goa, Sulawesi Selatan. Bekal tersebut terdiri nasi bungkus dengan lauk serundeng yang tahan sampai 3 hari. Petugas pameran di sini pada saat pembukaan dua sejoli yang berbusana adat Goa. Hadir waktu itu tetua Ikatan Kerukunan Keluarga Goa (IKKG) berbusana tradisional.

Di sebelah utara ruang pamer tertulis “Senandung dari Lautan”. Disebutkan lagu lagu tradisional tentang laut dari berbagai daerah, seperti “Tenggang
Tenggang Lopi” dari Mandar (Sulawesi Barat), “Tanduk Majeng” (Madura), “Anging Mamiri” (Makassar), dan “Totona Pasompee” (Bugis).

Juga lagu lagu pop tahun 1980-an yang melukiskan kehidupan di lautan disebutkan di situ. Di antaranya “Ombak” oleh Ebiet G. Ade, “Nelayanku” oleh Iwsn Fals, “Balada Anak Nelayan” oleh Yulius Sitanggang dan “Burumg Camar” oleh penyanyi Vina Panduwinata.

Ada lagu pop tentang kehidupan nelayan dengan suara duet oleh Koes Bersaudara tahun 1960-an berjudul “Angin Laut”. Namun itu tidak masuk hitungan tim riset dan data Pameran Artefak ini. Firman Fatturohman selaku anggota Tim Riset dan Data menegaskan pihaknya belum menemukan datanya secara lengkap karena terbatasnya waktu.

Tetapi Firman menegaskan selama pameran Artefak Suku Bangsa Bahari Nusantara itu berlangsung, lagu “Nenek Moyangku” diperdengarkan di ruang pameran. Hal itu membuat pengunjung teringat masa sekolah di TK maupun SD.

“Nenek moyangku orang pelaut. Gemar mengarung luas samudera.
Menerjang ombak tiada takut, menempuh badai, sudah biasa…”

Lirik lagunya cukup menggugah semangat kemaritiman pendengarnya.

Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Imam Hadi Purnomo ketika membuka pameran tersebut menandaskan Indonesia merupakan bangsa bahari. Dengan geografis yang banyak memiliki lautan, berbagai suku bangsa di Indonesia akrab dengan budaya kemaritiman.

“Ini membuktikan lautan bukan memisahkan tetapi justru menyatukan suku suku bangsa Indonesia,” ujarnya.

Dengan kemampuan kemaritiman tersebut, para pendahulu mampu menembus lautan menciptakan pertukaran budaya dan ekonomi. Karenanya diharapkan pameran ini bisa mengingatkan kembali peran dan budaya kemaritiman Indonesia.

Sementara Kepala UP Museum Kebaharian Jakarta, Mis’ari mengatakan, pameran menampilkan berbagai artefak budaya kebaharian dari suku bangsa di kawasan Madura dan Sulawesi Selatan dan memamerkan berbagai koleksi miniatur perahu dan alat tangkap ikan. Sejumlah karya seni sketsa yang memotret kehidupan masyarakat kedua suku bangsa juga ditampilkan.

Pemilihan budaya suku bangsa dari dua wilayah tersebut karena mereka memiliki budaya kebaharian yang kuat dan memialiki berbagai teknologi dan kemampuan kebaharian, sejak dahulu.

“Kami berkewajiban melestarikan dan mengembangkannya ke generasi sekarang melalui pameran ini,” kata Mis’ari.

Di hadapan pejabat Ditjen Kebudayaan Kemdikbudristek Kustanto, Mis’ari berterimakasih atas bantuan biaya pameran. Digelar pula tarian budaya Madura dan Sulawesi Selatan oleh Sudin Kebudayaan Jakarta Utara serta tari Pulang Baba dengan membawa bubu oleh Sudin Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Seribu. (PRI) .

Total Views: 977

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *