Rumah Si Pitung Dikunjungi 16.500 Orang Wisatawan, Pekan Depan Ditutup untuk Renovasi

Rumah panggung si Pitung. (DOKUMEN PRI)

JAKARTA (8/10/2022), AMUNISI.CO.ID – Rumah Si Pitung di Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, memiliki keunggulan tersendiri. Di samping bentuknya unik, rumah panggung yang dibangun Safiudin saudagar kaya berasal dari Makassar tahun 1880 itu merupakan bangunan cagar budaya yang berada di daerah pesisir Jakarta Utara dan masih terjaga serta terus dilestarikan.

Latihan tari Betawi di halaman Rumah Si Pitung.

Demikian dikatakan Triyadi Purnomo, Pjs Kepala Satuan Pelayanan Rumah Si Pitung Situs Marunda kepada wartawan Amunisi, Jumat (7/10/2022). Pascapandemi yang lalu hingga sekarang, setiap Sabtu dan Minggu selalu ada kegiatan latihan tari Betawi oleh sanggar tari yang ada di lingkungan Rumah si Pitung. Karena itu bagi pengunjung Rumah Si Pitung di situs Marunda ini, tiap Sabtu dan Minggu dapat menyaksikan atraksi tersebut.

Bacaan Lainnya

Sementara mengenai atensi masyarakat pada destinasi wisata sejarah bahari ini, Triyadi mengakui cukup memadai. Tercatat selama tahun 2022 sampai September mencapai 16.516 orang. Bila dihitung rata-rata tiap bulan Rumah Si Pitung didatangi 1.835 orang pengunjung. Atau tiap hari rata rata ada 70 sampai 71 pengunjung. Dengan catatan tiap bulan ada 26 hari buka. “Tiap Senin kami tutup,” tambahnya.

Dari catatan Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta, Mis Ari, terlihat, bahwa minat masyarakat mengunjungi Rumah Si Pitung seimbang dengan Museum Bahari di Pasar Ikan, Jakarta Utara, yang juga di bawah unit pengelolaannya. Sampai akhir September pengunjungnya sama-sama sekitar 16.500 orang. Tercatat pengunjung Museum Bahari 16.485 sebanding dengan Rumah Si Pitung dengan pengunjung 16.516 orang.

Bang Roy tukang kerak telor.

Namun bulan Mei 2022, pengunjung rumah adat situs Marunda ini mencapai 6.343 orang. Itu merupakan top ranking di antara tiga destinasi wisata sejarah kebaharian berikut Taman Arkeologi Onrust dengan 3.105 pengunjung, dan Museum Bahari 1.686 pengunjung.

Tutup Dua Bulan
Sementara itu Triyadi mengungkapkan mulai pekan depan (10/10/2022), Rumah Si Pitung ditutup selama 2 bulan. “Akan ada renovasi dua bangunan pendukung Rumah Si Pitung,” ujarnya. Bangunan tersebut juga berlantai dua. Yang satu berfungsi untuk musola, toilet, dan untuk persiapan pentas, sedang gedung di sebelahnya untuk cafe dan penjualan cinderamata khas Betawi pesisir.

Seperti tiap Sabtu dan Minggu atau hari libur tersedia makanan khas Betawi yaitu kerak telor di halaman sebelah Rumah Si Pitung. Sebelumnya kerak telor hanya muncul bila ada event tahunan Jakarta Fair atau bazaar tertentu saja.

Sukma Wijaya, pemandu wisata di Rumah Si Pitung mengakui, hingga Jumat ini masih ada saja pengunjung. Termasuk komunitas sepeda gowes, pecinta tempat tempat bersejarah, maupun pesepeda olahraga. Seperti Agus Wiratmoko anggota komunitas sepeda gowes mengakui bahwa Rumah Si Pitung sebagai peninggalan sejarah cukup terpelihara. “Semoga tempat0tempat bersejarah terpelihara seperti ini,” ujar Agus sambil duduk di sadel sepedanya.

H Zulfan dan Mustofa tokoh masyarakat Kampung Kembar RW 03 Malaka Jaya, Jakarta Timur, juga mengakui senang bersepeda onthel ke Rumah Si Pitung. “Kami sudah tiga kali ke sana berempat. Kami mengambil jalan sepanjang BKT. Setelah jembatan sampai Sekolah Tinggi Pelayaran Cilincing, kami terus sampai Marunda ke Rumah Si Pitung. Sesekali kami berhenti melihat orang mancing sambil ngobrol,” tutur Zulfan.

Hal itu dibenarkan oleh Mustofa, Ketua RT 10/03 Malaka Jaya. “Kami berempat dengan Pak Jalil dan Pak. Hartono sudah tiga kali ke sana bersepeda,” kata Mustofa.

Komunitas sepeda.

Bang Roy, penjual kerak telor di Rumah Pitung yang tinggalnya di Pulogebang, Cakung, merasakan sudah banyak pelanggan sejak dia mendapat izin memperkenalkan penganan khas Betawi di situ. Terutama pada hari Sabtu dan Minggu, serta hari-hari liburan sekolah, cukup lumayan yang beli kerak telor.

Dia juga sudah terbiasa menyusuri rute jalan sepanjang Banjir Kanal Timur (BKT) sampai Cilincing dan Rumah Si Pitung di Marunda Pulo. Namun ketika mengetahui Rumah Si Pitung akan tutup Bang Roy merasa bingung.

“Sampai hari ini belum dapat tempat lagi,” kata Bang Roy yang nama sebenarnya Nanang Hermawan itu.

Tetapi harus diakui, dengan pendekatan pelestarian budaya khususnya budaya Betawi sebagai bagian dari budaya nasional Indonesia, mungkin saja kerak telor Bang Roy dapat hadir kembali di Rumah Si Pitung.

“Apalagi bila dilakukan pendekatan dari hati ke hati. Apa pun menjadi sangat mungkin,” kata pengamat budaya dan pariwisata Jakarta H Abu Galih yang sudah beberapa kali ke situs Marunda tersebut. Termasuk ke Masjid Al Alam dari abad 16 serta ke sentra batik Betawi pesisir di Rusunawa Marunda. (PRI)

Total Views: 1154

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *