Pameran Batik Artisan Memikat Pengunjung Museum Tekstil Jakarta

Artisan batik Sutoyo Slamet bersama Sekretaris AMI DKI Jakarta dan Dewan Pembina YBI Dipo Alam. (DOKUMEN PRI)

JAKARTA (8/10/2023), AMUNISI.CO.ID — Pameran Batik Karya Artisan Batik Indonesia yang dibuka di Museum Tekstil Jalan KS Tubun Nomor 2-4, Jakarta Barat, sejak 5 Oktober 2023 dinilai oleh para pengunjung museum tersebut cukup memikat. Pengamat budaya dan pariwisata Jakarta H Abu Galih dan warga penggemar batik Umi Kinanthi yang melihat sendiri pameran tersebut, Minggu (8/10/2023) mengakui hal itu.

Kurator pameran batik memberikan penjelasan kepada tamu.

“Memang sangat menarik, seperti karya perancang busana Iwan Tirta juga dipajang di ruang utama,” kata Umi Kinanthi. Sementara Tony Trihartono Winata, ahli desain batik asal Klaten mengenali karya Iwan Tirta itu dengan sebutan batik Sawunggaling.

Batik karya artisan Indonesia.

H Abu Galih melihat batik Arjuna Wiwaha yang dipajang vertikal dan dominan warna hitam putih banyak menarik perhatian pengunjung. Motifnya seperti wayang beber. Batik ini karya artisan Dudung Alisyahbana. Karya artisan senior Go Tik Swan dari Solo dengan corak Tumurun Sri Narendra tampak berwarna terang. Batik tulis buatan tahun 1956 itu beragam hias parang rusak, padi kapas, mahkota, serta bulan dan bintang.

Batik tulis dengan tumpal tahun 1950 karya Setyawati dari Solo dan Betawi dengan corak Merak Catleya dan ragam hias sogan kelir, tampak dipajang ayu bernuansa warna biru. Sementara batik beragam hias kontemporer berwarna gelap tak kalah menarik meskipun tergolong muda buatan tahun 2000-an. Contoh batik tulis dari Yogyakarta bercorak Ceplok Perisai dari kain sutera dengan pewarna alam koleksi Yayasan Batik Indonesia dari Afif Syakur. Karya Sutoyo Slamet artisan batik muda dari Pekalongan bahan kain katun cukup menarik perhatian tamu di antaranya Mis’ari ahli batik dari Cirebon yang pernah lama menjadi tutor workshop batik di Museum Tekstil ini.

Sutoyo Slamet saat ini berusia 46 tahun mengaku tertarik menjadi artisan batik sejak tahun 2006. Namun menggeluti batik sejak kecil. “Mainnya di hutan makanya saya senang ragam hias flora dan fauna,” kata Sutoyo Slamet kepada Amunisi.co.id. Salah satu yang dipamerkan bercorak ayam kalkun dan flora yang dominan warna hijau dan kuning dengan gradasinya, coklat dan sedikit warna merah.

Batik Arjuna Wiwaha karya Dudung Alisyahbana.

Kepala Satuan Pelayanan Museum Tekstil Jakarta Dewie Novie mengungkapkan tiga hari terakhir ini pengunjung Pameran Batik Karya Artisan Batik Indonesia di museumnya terus meningkat. Tercatat Jumat (6/10/2023) ada 63 orang, termasuk peserta workshop batik dan tie die (ikat celup), Sabtu 350 orang dan Minggu 163 orang, yang ikut workshop batik 45 orang.

Menurut Dewie Novie, pameran kali ini menampilkan 63 batik karya 11 artisan batik Indonesia. Mereka itu di antaranya Ibu Sud dari Jakarta, Ibu Pusponingrat dan Iwan Tirta dari Solo, Oey Soe Tjoen dan Sapuan dari Pekalongan, dan Komar dari Cirebon.

Kali ini pameran hanya sampai dengan 19 Oktober mendatang. “Sebab 20 Oktober Museum.Tekstil tutup karena akan direnovasi. Diperkirakan pekerjaan tersebut sampai dengan Desember tahun ini,” imbuh Dewie.

Pameran diselenggarakan atas kerja sama Dinas Kebudayaan DKI dan Museum Seni Jakarta dengan Yayasan Batik Indonesia (YBI), yang mendapat bantuan biaya dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud Ristek RI.

Hadir pada pembukaan pameran 5 Oktober antara lain Pustanto mewakili Dirjen Kebudayaan, Dipo Alam dan Tumbu R Ramelan dari YBI, Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Imam Hadi Purnomo, dan Kepala Unit Pengelola Museum Seni Sri Kusumawati.

Sri Kusumawati mengharapkan dengan pameran ini artisan atau seniman desainer motif batik Indonesia lebih dikenal. Tidak seperti sekarang ini hanya hasil karyanya saja yang dikenal masyarakat. (PRI)

Total Views: 1085

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *