JAKARTA (9/12/2022), AMUNISI.CO.ID – Selama tahun 2022 hingga akhir November yang baru lalu Taman Arkeologi Onrust di Kepulauan Seribu dikunjungi 26.863 orang wisatawan. Sehari menjelang akhir bulan yaitu Selasa (29/11/2022) terjadi peristiwa langka, ribuan ikan berlompatan ke darat termasuk ke dermaga Pulau Onrust.

Memasuki awal Desember pengunjung tetap datang, terutama di akhir pekan mencapai puluhan orang. Kepala Satuan Pelayanan (Kasatpel) Taman Arkeologi Onrust Agung Priosusanto mengungkapkan hal itu Rabu (7/12/2022) atas pertanyaan wartawan.
Namun Agung Prisusanto mengakui jumlah pengunjung Taman Arkeologi Onrust sejak September cenderung menurun. Tercatat bulan itu 2.456 orang, padahal bulan sebelumnya (Agustus) 3.612 orang. Oktober turun lagi menjadi 1.970 dan November berkurang tinggal 1.688 orang.

Menurut Agung, menyusutnya pengunjung itu karena faktor cuaca yang kurang mendukung untuk penyeberangan di laut. “Kemungkinan karena masalah itu,” ujarnya.
Pada bulan September yang lalu telah terjadi perubahan angin dan cuaca. Masuk Oktober mulai musim hujan sedang November bertambah banyak hujan turun sehingga pengunjung menyusut.
Dari laporan para pemandu di Taman Arkeologi Onrust seperti Ridwan Saide, Rosadi dan Yusup, diketahui bahwa minat pengunjung Taman Arkeologi Onrust bermacam-macam. Ada yang tertarik pada reruntuhan bangunan, seperti fondasi barak haji, ruang bawah tanah, museum Onrust, benteng di Pulau Kelor, bekas RS Karantina Haji dan berenang maupun bermain di pantai Pulau Cipir (Kahyangan).
Mengenai berlompatannya ratusan atau ribuan ikan ke darat termasuk ke dermaga Onrust, Ridwan Saide dan Rosadi ketika dikonfirmasi Rabu (6/12/2022) menyatakan mereka menyaksikannya sendiri bersama orang orang yang bertugas di pulau termasuk security dan tukang yang sedang mengerjakan renovasi bangunan di dekat dermaga.
“Waktu itu hari Selasa. Kami semua senang karena dapat banyak ikan tanpa dipancing ataupun dijaring,” kata Saide yang dibenarkan Rosadi sambil menambahkan ikan ikan itu dimasak untuk lauk.
Sejarah Haji Onrust
Menurut Saide, ia Sabtu lalu memandu pengunjung open trip dari Muara Kamal, Jakarta Utara. Ketika melihat bekas bekas barak haji tidak jauh dari rumah dokter yang dijadikan Museum Onrust, Saide bercerita sejarah perhajian tersebut.
Demikian pula Rosadi hari Sabtu yang lalu memandu 30-an wisatawan rombongan dari Pulau Bidadari.
Pada jam yang berbeda rombongan ini juga sampai ke lokasi bekas barak haji. Atas pertanyaan pengunjung Rosadi pun bercerita sejarah karantina haji di Pulau Cipir dan Onrust tersebut yang berlangsung tahun 1911 sampai 1933.
“Barak haji di pulau Onrust ini ada 35 bangunan khusus untuk karantina haji Jawa Bali. Kapasitasnya tiap barak 100 orang sehingga seluruh pulau itu menampung 3.500 jemaah haji,” kata Saide.
Sementara untuk jamaah haji lainnya seperti dari Sumatra dan lainnya dikarantina di Pulau Rubiah, Aceh.
Dari pelayaran pulang haji yang memakan waktu lebih dari sebulan itu jemaah haji Jawa Bali diturunkan di Pulau Cipir.
Di sini jamaah haji di-screening agar tidak menularkan penyakit. Semua pakaian dan bawaan jamaah haji disteam agar terbebas dari penyakit. Setelah dinyatakan sehat mereka dari Pulau Cipir diangkut dengan ponton menyeberang ke Pulau Onrust yang jaraknya hanya sekitar 100 meter. Setelah minimal 5 hari diobservasi di Onrust dan dinyatakan sehat, baru jamaah haji boleh pulang ke kampung halamannya masing masing.
Tercatat tahun 1911 jumlah jamaah haji dari Indonesia (Hindia Belanda) mencapai 18.400 orang. Tahun 1930 tercatat 17.000 jamaah haji.Namun karena perjalanan laut yang mencapai ribuan mil itu banyak mereka yang meninggal dunia yang mencapai 10%.
Kebijakan Pemerintah Hindia Belanda untuk mengkarantina jamaah haji di Pulau Onrust sejak tahun 1911 itu dianggap tidak manusiawi oleh Perserikatan Muhammadiyah tahun 1912.
Pada tahun 1926 Muhammadiyah mengirim delegasi untuk mendapatkan informasi persyaratan haji. Akhirnya embarkasi haji Pulau Onrust pada tahun 1933 di pindahkan kembali ke pelabuhan Tanjung Priok agar manusiawi.
Selain bekas barak haji, di Pulau Onrust dan Pulau Cipir masih banyak peninggalan bangunan periode karantina haji tersebut. Di antaranya tempat cuci dan wudhu, rumah dokter, dapur umum, bekas rumah sakit, dan bekas asrama perawat. (PRI).




