JAKARTA (28/11/2023), AMUNISI. CO.ID – Penggalian oleh tim arkeologi untuk mencari jejak benteng di Pulau Onrust Kepulauan Seribu, DKI Jakarta sejak 8 November 2023, kini telah selesai. Terakhir dilakukan pematokan di 33 titik bekas penggalian pada Rabu (22/11/2023).

Dari penggalian atau ekskavasi tersebut terbukti lokasi bastion utara Benteng Onrust yang terdapat depo amunisi, berdekatan dengan bunker berisi air. Karena itu disimpulkan bahwa keberadaan bunker air tersebut berfungsi sebagai pendingin bagi depo amunisi di dekatnya.

Demikian diungkapkan Ketua Tim Ekskavasi Pulau Onrust, Arkeolog Candrian Attahiyyat di Jakarta, Selasa (28/11/2023). Lebih lanjut Candrian Attahiyat menjelaskan, fungsi bunker air untuk pelengkap depo amunisi bastion utara itu baru hipotesa. Tetapi jelas tiap depo amunisi pasti ada fasilitas pendinginnya.
“Seperti benteng Martello di Pulau Bidadari, ada bak air di belakang depo amunisinya,” kata Pak Can, panggilan akrab di lingkungan kerjanya. Begitu pula dengan 9 gudang amunisi bawah tanah (bunker) di Rawa Terate, Cakung yang dikenal dengan nama Benteng Sembilan, juga ada fasilitas pendinginnya.
Ketika melakukan penggalian untuk.memasang patok kuning A7 di lokasi bekas bastion utara Candrian teringat pada tahun 1986. Waktu itu ia menemulan granat kuno dan tim ekskavasi waktu itu sempat ketakutan.”Kalau meledak bisa ramai,” kata Candrian yang suka bercanda.
Menurut Candrian patok yang telah ditanam di bekas benteng Onrust abad ke 17 itu semuanya 33. Terdiri dari 16 patok kuning sebagai tanda sudut-sudut bangunan benteng dan 17 patok merah sebagai tanda garis dinding benteng.
Patok itu kata Candrian penting untuk keperluan penelitian selanjutnya, dan untuk pedoman bagi pemandu Museum Onrust menjelaskan kepada pengunjung akan alur cerita bangunan cagar budaya yang ada.
Dijelaskan Candrian dari penggalian di sayap timur ditemukan batu amdesit untuk umpak. Diperkirakan benda itu tempat pintu keluar masuk benteng bagi orang. “Adanya di sayap timur benteng menghadap ke utara,” ujarnya.
Diakuinya bagian benteng yang terbuat dari kayu sulit ditemukan jejaknya. Karena itu diperlukan penggalian selanjutnya sampai ke tahap pelestariannya.
Arkeolog yang lebih muda Ade Alamando Harnanto selaku Pamong Budaya Museum Onrust menambahkan, nama benteng segilima ini berdasarkan keberadaannya di Pulau Onrust jadi disebut Benteng Onrust.
“Itu bukan nama resminya pak. Benteng ini dibangun sekitar tahun 1671 berdasarkan pengembangan dari benteng segi empat yang dibangun pada tahun 1656. Kemudian sekitar 1740 digambar oleh JW Heydt. Luas benteng ini memang 2/3 luas Pulau Onrust,” kata Alam.
Tercatat luas Pulau Onrust sekarang 8,22 hektare. Pada catatan buku Onrust tahun 1982 disebut luas semula 12,8 hektare.
Mengenai hasil penggalian selama ini kata Candrian terus dilaporkan ke Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Bidang Pelindungan. “Laporan lengkapnya sedang kami susun. Tanggal 20 Desember nanti.harus tuntas,” pungkasnya. (PRI)




