100 Tahun Silam 1.600 Jemaah Haji Menanti di Pulau Onrust untuk Pulang

Rombongan siswa SLTA dari Museum Onrust sedang menuju lokasi eks barak haji dan penjara. (DOKUMEN PRI)

JAKARTA (15/7/2023), AMUNISI.CO.ID – Saat ini sedang berlangsung masa kepulangan jemaah haji ke negaranya masing masing secara bergelombang dari Tanah Suci Mekkah atau Madinah, Arab Saudi. Begitu pula jemaah haji Indonesia, sejak 4 Juli 2023 mulai pulang dari Mekkah lewat Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.

Untuk jemaah haji DKI Jakarta dan sekitarnya, dalam 10 jam sudah sampai di bandara Soekarno Hatta. Dari bandara tersebut dalam beberapa jam lagi mereka sudah sampai di rumah masing masing bersama penjemputnya.

Bacaan Lainnya

Namun 100-an tahun yang lalu suasananya jauh berbeda. Keberangkatan maupun kepulangan jemaah haji Indonesia di zaman penjajahan Belanda saat itu menggunakan kapal laut. Maka perjalanannya pun lebih lama, bisa sebulan lebih dari Batavia (Jakarta) ke Jeddah dan Mekkah atau sebaliknya.

Ade Alamando Harnanto arkeolog lulusan UGM Yogyakarta selaku Pamong Budaya Museum Arkeologi Pulau Onrust mengatakan Kamis (13/7/2023), selama tahun 1911 sampai dengan 1933, jaemaah haji Indonesia (Hindia Belanda) sepulang dari Makkah harus melalui proses karantina, karena saat itu sedang mengalami pandemi penyakit menular pes dan leptospirosis.

“Mereka harus dikarantina di pulau Onrust. Pertama dibawa ke pulau Cipir dengan semua barang bawaannya harus diproses sterilisasi,” kata Alam, panggilan Ade Alamando Harnanto sehari-hari di lingkungan kerjanya.

Di pulau Onrust yang saat itu luasnya masih sekitar 12 hektare terdapat 35 barak haji yang masing masing berkapasitas 100 orang jamaah haji. “Semua barak karantina haji saat ini hanya tersisa reruntuhan dan pondasi bangunannya. Begitu juga dengan MCK-nya,” kata Alam.

Tempat cuci pakaian periode karantina haji di Pulau Onrust.

Jemaah haji Indonesia yang pulang hampir sepertiga dari total jemaah yang datang. Itu berdasarkan laporan Konsul Belanda di Jeddah, Charles Olke Van der Plas, pada 1930-an.

Jemaah asal Indonesia (Hindia Belanda) yang kembali sekitar 10 ribuan dari total jumlah yang berangkat sebanyak 30 ribuan. Rombongan haji Indonesia pada 1911 berjumlah 18.400 orang. Tahun 1920-an berjumlah 28.000 orang.

Yang dikarantina di pulau Onrust kepulauan Seribu saat itu hanya jemaah haji dari pulau Jawa. Sedangkan jemaah haji dari pulau Sumatra dikarantina di pulau Rubiah, dekat Sabang, ujung utara pulau besar tersebut.

Pulau Onrust hampir seabad yang lalu yaitu tahun 1927 kedatangan 1.558 orang jemaah haji dari Mekkah yang harus dikarantina. Dari jumlah itu, 11 orang meninggal dunia.

Tahun 1928 pulau Onrust menampung 1.432 orang jemaah haji. Sebanyak.13 orang meninggal dunia saat dikarantina.

Tahun 1920-an itu jumlah jemaah haji yang meninggal dunia berkisar antara 7% sampai 8%. Catatan ini dari Arsip Nasional yang disuguhkan dalam Festival Museum Museum di Kota Tua Jakarta sekitar 9 tahunan silam, oleh pengelola Taman Arkeologi Onrust (TAO).

Hal itu diakui Rucky Nellyta, arkeolog lulusan UGM yang pernah menjabat Kepala Seksi Koleksi dan Pemeliharaan TAO dan Kepala Balai Konservasi Cagar Budaya Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. “Waktu itu Kepala TAO Pak Sonni Husnison Nizar,” kata Ruchy Nellyta.

Sebagai perbandingan, pada 2023/1444 Hijriah ini jumlah jemaah haji Indonesia sesuai kuota ada 221.000 orang. Dari jumlah itu DKI Jakarta mendapat jatah 7.926 orang dan Jawa Barat 38.723 orang jemaah.

Bagaimana kondisi Pulau Onrust sekarang? Ade Alamando mengatakan meskipun tinggal puing puing, namun masih banyak bangunan bekas karantina haji di pulau Onrust dan pulau Cipir yang utuh dan terpelihara dengan baik. Di antaranya bekas rumah dokter yang kini dijadikan Museum Pulau Onrust.

Ridwan Saide dan Rosadi sebagai Pemandu di pulau Onrust lebih 6 tahun sama-sama membenarkan keterangan Ade Alamando Harnanto itu. Di Museum Pulau Onrust, kata Ridwan Saide, yang dihubungi Sabtu (15/7/2023), dipamerkan benda-benda bersejarah yang ditemukan dari hasil penggalian arkeologis di pulau Onrust, Cipir, dan Kelor.

Juga reproduksi dari foto-foto dokumentasi kegiatan karantina haji di pulau Cipir dan Onrust berukuran besar dapat dilihat di museum itu. Bekas tempat cuci pakaian para jemaah haji juga dapat dilihat di sebelah utara museum. Menyeberang jalan ke arah barat tampak pintu ruang bawah tanah berkamar empat yang ada sejak abad 17. Menurut Alamando pada periode karantina haji digunakan untuk cadangan air bersih yang tawar.

Di sebelah utaranya ada barak haji yang tinggal terlihat tonggak-tonggak beton pondasinya dilingkari bekas pagar anti tikus. “Dapur umumnya dulu di dekat dermaga Onrust. Kini ada bangku bangkunya tertata rapi untuk ruang baca,” ujar Saide.

Agak ke timur laut ada gedung VOC yang pada abad 18 berfungsi sebagai gereja. Namun, pada periode karantina haji 1911-1933 digunakan untuk kantor administrasi.

Di dekat dermaga ada musola untuk solat berjamaah. Namun tidak ada keterangan apakah itu bangunan dari periode karantina haji ataukah fasilitas baru tahun 1980-an.

Kahfi Amin, seorang ustadz yang sering mengisi pengajian di masjid Darul Arqam dan masjid Al Mujahidin RW 03 Malaka Jaya, Jakarta Timur mengatakan, ia pernah sekali mengunjungi pulau Onrust beberapa tahun lalu. Melihat peninggalan yang ada di pulau itu dan informasi yang ada, dapat dibayangkan betapa sulit dan sengsaranya kakek-nenek kita dahulu ketika pergi dan pulang beribadah haji.

“Sebagai orang muslim kita perlu tahu itu. Saya kepingin lagi ke pulau Onrust,” kata Kahfi Amin, pekan lalu. Saat itu ia sedang di berada di Turki.

Mengenai pengunjung Taman Arkeologi Onrust, menurut catatan Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta Mis’ari, tahun 2023 sampai awal Juli mencapai lebih dari 16.000 orang. Perkembangannya meningkat terus. Dari Januari sebanyak 1.423 orang, disusul Februari 1.517, Maret 1.615, April 3.881, Mei 3.362 dan Juni meningkat menjadi 4.338 orang. Mereka kebanyakan datang dari DKI Jakarta, Tangerang, Bogor, Depok, dan Bekasi melalui dermaga Muara Kamal, Tanjung Pasir dan Marina Ancol.

Taman Arkeologi Onrust meliputi pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Namun dalam kenyataan lokasi dan kesejarahannya tak lepas dari pulau Bidadari yang dikelola sebagai resort pariwisata dan juga memiliki peninggalan benteng Martello seperti pulau Kelor.(Suprihardjo)

Total Views: 1211

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *