JAKARTA (2/5/2023), AMUNISI.CO.ID – Pengunjung Museum Sejarah Jakarta di Taman Fatahillah Kota Tua Jakarta, sejak Idul Fitri 1444 Hijriah cukup banyak, per hari mencapai 6.000 orang, kecuali Jumat (28/4/2023) hanya 3.000 an orang. Namun setelah itu jumlah pengunjung kembali meningkat menjadi 2 kali lipat dari jumlah pengunjung hari Jumat. Hari Sabtu 6.050 orang, bahkan hari Minggu tembus angka 7.000.
“Hari Sabtu kemarin pengunjung mencapai 6.050 orang. Hari Minggu ini mencapai 7.281 orang,” kata Kepala Satuan Pelayanan (Kasatpel) Museum Sejarah Jakarta, Istiqomah Armitawati, Minggu (30/4/2023).
Jumlah tersebut melampaui jumlah pengunjung Museum Sejarah Jakarta pada 1 Januari 2023 sebanyak 6.161 orang. Menurut Mita, banyaknya pengunjung Museum Sejarah Jakarta (MSJ) saat ini berhubung masih musim libur Lebaran.

Yang menjadi perhatian pengunjung di MSJ kata Mita sangat variatif. Terutama koleksi benda cagar budaya yang sudah langka dengan informasi singkat yang ditempel di dekatnya.
Pemandu museum di MSJ Didik Cahyono ketika ditanya Amunisi.co.id, Selasa (2/5/2023) mengakui banyaknya pengunjung museum tersebut.
“Benar kebanyakan jalan-jalan saja karena liburan sekolah. Ada juga orang tua yang mengantar anak anaknya mengunjungi museum ini untuk melihat-lihat. Tetapi tak ada yang meminta dipandu. Padahal kami sudah menawarkan jasa pemanduan,” kata Didik.
Hal itu kata Didik berbeda dengan rombongan sekolah yang didampingi guru ketika mengunjungi museum meminta jasa pemandu.

Namun demikian sebagai petugas MSJ dia memantau minat pengunjung. Antara lain ke ruang Diponegoro, lukisan penyerangan Sultan Agung Mataram ke Batavia karya S Sudjojono, meriam antik yang bercoak abad 16, penjara bawah tanah, relief kapal VOC maupun batu penggilingan tebu yang dipajang di halaman belakang museum.
Mengenai relief kapal VOC , Kasatpel MSJ Armitawati menjelaskan, sejarah relief itu ditemukan dalam buku Oud Batavia karya F De Haan terbitan tahun 1922.
Ditulis dalam buku itu bahwa relief bentuk kapal perang VOC tersebut berasal dari kastel bagian Landpoort atau pintu masuk benteng tahun 1636. Keberadaannya ditempel bersama dengan lambang Kota Batavia.
“Relief Kapal VOC tersebut berukuran panjang 51 cm, lebar 45 cm dan tebal 13 cm terbuat dari batu andesit berwarna abu abu,” ujar Mita.
Warga Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur bernama Destira, Selasa (2/5/2023) mengaku, ia bersama tetangganya Asminah mengajak anaknya masing masing yang masih kelas 3 SD ke Kota Toea Jakarta hari Sabtu (29/4) yang lalu dan berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta.
“Kita bisa tahu meja, kursi dan lemari dari zaman Belanda. Juga mimbar yang dipakai oleh Sunan Gunung Jati,” tutur Ny Destira bersama anak tunggalnya Yusuf.
Sementara Ny Asminah bersama sepasang putri kembarnya Fina dan Fani mengaku terkesan pada lukisan besar ukuran 10 x 3 meter serta meriam antik.
Si Kembar juga berani berkomunikasi dengan pengunjung bule dari mancanegara dan mengajak foto bersama. Seperti biasa mereka berfoto dengan spot benda benda koleksi museum.
Ketika di luar museum Fina-Fani dan Yusuf penasaran, memanjat meriam benteng yang cukup besar dan berphose di atasnya. “Dari atas museum, pemandangan Taman Fatahillah cukup bagus,” kata Destira sambil menunjukkan hasilnya.(PRI).




