JAKARTA (3/1/2023), AMUNISI.CO.ID – Museum Sejarah Jakarta (MSJ) di Kota Tua selama tahun 2022 yang lalu dikunjungi 334.621 orang wisatawan. Tepat hari pertama Tahun Baru 2023, pengunjung mencapai 6.161 orang. Dengan demikian dibandingkan tahun 2021 sebanyak 51.882 orang, jumlah pengunjung tahun 2022 itu meningkat mencapai enam kali lipat.

“Jumlah pengunjung MSJ sudah sangat meningkat dibanding saat pandemi kemarin. Tetapi dibandingkan dengan sebelum pandemi sebetulnya masih lebih rendah,” kata Kepala Satuan Pelayanan (Kasatpel) Museum Sejarah Jakarta Istiqomah Armitawati, Selasa (3/1/2023).
“Sebelum masa pandemi, pas liburan Natal dan Tahun Baru bisa di atas 10.000 orang sehari,” imbuh perempuan yang akrab disapa Ibu Mita ini.
Bangunan Museum Sejarah Jakarta yang didirikan tahun 1707-1710 itu dikenal sebagai bekas Balaikota dan Pengadilan, sekaligus dilengkapi tempat tahanan Batavia di abad 18-19. Termasuk tempat tahanan pahlawan nasional Pangeran Diponegoro tahun 1830 dan Cut Nyak Dien tahun 1907.
Hingga sekarang ruang tahanan itu masih ada, lengkap dengan peninggalan sejarahnya. “Dulu pengunjung ke Ruang Diponegoro harus lepas sepatu dan disediakan sendal khusus karena masih awal lantai tambahan dibuat. Namun, seiring berjalannya waktu, kini tidak lagi,” kata Ibu Mita.
Dijelaskan, koleksi unggulan museumnya meliputi patung Dewa Hermes yang dibuat abad 18, Meriam Si Jagur dibuat pada abad 17, lukisan perang tentara Sultan Agung Mataram melawan tentara JP Coen VOC karya S Sudojono dibuat pada 1974, lukisan mural Harijadi dibuat 1975, dan lukisan Solomon abad 17 dan Pedang Keadilan dari abad 16-18.
“Pedang keadilan itu dari abad 16 -18; dibuat di Jerman dari bahan baja dengan berat 4 Kg. Panjangnya 110 Cm dengan dua sisinya tajam,” kata Didik Cahyono, pemandu di Museum Sejarah Jakarta, yang menjelaskan tentang asal setiap koleksi.
Mengenai berbagai meriam di dalam maupun di lingkungan MSJ, ada satu meriam yang istimewa dan unik. Moncongnya seperti kepala naga, dan dapat dilihat di lantai satu museum itu. “Itu namanya Meriam Coak buatan China tahun 1500-an,” tutur Didik. Meriam tersebut sebagai mahar pernikahan putri Oengtien dengan Sunan Kudus pada abad ke-16.

Ada lagi koleksi prasasti maupun benda-benda prasejarah, yang ditemukan di pinggir kali bermuara di Teluk Jakarta. Beberapa ruang penjara di bawah tanah dengan puluhan bola-bola besi untuk bandul kaki pesakitan yang dikerangkeng, memberikan kesan menyeramkan.
Di halaman belakang museum seluas 2.000 m2 ini juga didapati koleksi cagar budaya yang berharga. Di antaranya patung Hermes yang sebelum tahun 1990-an menjadi penanda lokasi di Jembatan Harmoni.
Ada sepasang batu penggilingan tebu abad ke-18 dari Kelurahan Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, tahun 1976; tempat minum kuda terbuat dari batu juga dari abad-18; dan prasasti Pecah Kulit Pieter Erberveld bertahun 1722, dengan cerita yang mengerikan sekaligus memilukan. Itulah gambaran kekejaman bangsa penjajah masa silam kalau sedang berkuasa.

Pieter Erberveld adalah seorang Indo Jerman- Siam yang tinggal di Batavia. Ia dituduh bersekongkol dengan bangsawan Kesultanan Banten bernama Kartadriya, yang memberontak kepada VOC Belanda. Erberveld bersama Kartadriya, dan 17 orang pribumi lainnya, ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Namun eksekusi hukuman mati terhadap Pieter Erberveld dinilai begitu kejam. Tangan dan kakinya kiri dan kanan diikat tali dan ditarik kuda ke 8 penjuru mata angin, sehingga terhukum ini mati mengenaskan pecah kulit. Jenazahnya dimakamkan di daerah Jalan Jayakarta dan tempat itu lebih dikenal dengan nama kampung Pecah Kulit. Pada prasasti dari lempengan batu andesit itu tertulis tanggal 14 April 1722. (PRI)




