JAKARTA (4/6/2023), AMUNISI.CO.ID – Peluncuran perdana buku ‘Onrust dan Sekitarnya : Gugusan Pulau Bersejarah di Teluk Jakarta’ yang dilakukan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Minggu (4/6/2023), ditandai dengan cerita seru dan lucu oleh penulisnya, arkeolog Candrian Attahiyyat. Cerita tersebut mengenai peristiwa yang dialami para mahasiswa dan dosen UI sewaktu penggalian di pulau itu 40 tahun yang lalu.
Mereka adalah Julianto Sutantio satu angkatan dengan Candrian, kemudian Agung Aria Putra, Mu’jizah dan Yanti adik angkatan Candrian di Fakultas Sastra UI yang hadir pada peluncuran buku Onrust itu.
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Iwan Henry Wardhana dalam sambutannya yang disampaikan oleh Kepala UP Museum Kebaharian Jakarta Mis’ari menandaskan, penerbitan buku tersebut menandai peringatan 50 tahun Pulau Onrust dikelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Buku itu sudah dicetak tahun 2022 yang lalu namun baru sekarang dapat diluncurkan perdana,” kata Mis’ari.
Diharapkan oleh Mis’ari, buku yang mengupas tentang sejarah Pulau Onrust dan pulau pulau di sekitarnya itu, dapat menjadi referensi bagi pengunjung maupun pihaknya sebagai pengelola.
“Bisa menjadi acuan kami juga dalam merevitalisasi storyline yang ada di Museum Akeologi Onrust,” ujar Mis’ari. Dia menilai tulisan Candrian dalam buku itu begitu lancar mengalir seperti sedang bertutur. “Itu merupakan buku babonnya. Masih bisa dipecah lagi menjadi 30 an judul,” kata Mis’ari menginspirasi. Dikatakannya, untuk revitalisasi maupun perbaikan lingkungan Pulau Kelor pihaknya dibantu Dinas SDA DKI Jakarta.
Pada kesempatan itu Candrian Attahiyyat berpesan agar pengunjung dibatasi pada mereka yang memiliki wawasan lingkungan dan tertarik pada pendidikan sejarah. Sebab daya dukung Pulau Onrust dan sekitarnya harus diperhitungkan.
“Jangan membawa oleh=oleh dari sini ya. Misalnya bawa serpihan tulang, batu karang atau keramik,” pesan Candrian. Iapun bercerita pengalaman penggalian dan penelitian di Pulau Onrust, Kelor dan Pulau Bidadari. Pernah Candrian tahun 1980-an di Onrust menemukan benda mirip granat dari hasil penggalian. Sejak itu ia tak berani ke tempat tersebut
Agung Aria Putra juga mengaku pernah ‘dikerjain’ oleh Candrian ketika menginap di Onrust untuk penggalian dan penelitian arkeologi. Kakak kandung artis binaragawan Ade Rai ini tampak selalu bercanda di setiap kesempatan dengan Candrian seperti sedang reunian.
Dalam kesempatan itu Candrian juga memberikan buku karyanya tersebut untuk 11 orang yang dianggapnya berjasa. Termasuk pula Julianto Sutantio sebagai editor bahasa buku tersebut dan teman senasibnya waktu penelitian.
Pada kesempatan itu dibacakan puisi oleh Emi Suy dari Komunitas Jagad Sastra Milenia. Puisi tersebut berjudul ‘Onrust Pulau yang Tak Pernah Tidur’.
Acara diteruskan berkeliling Pulau Onrust dan sebagian ke Pulau Kelor dengan dijelaskan oleh dua orang pemandu Taman Arkeologi Onrust, masing masing Rosadi dan Ridwan Saide.
Tampak dermaga Pulau Kelor masih baru. Namun bagian utara pulau mungil ini kata pemandunya sedang terancam gempuran abrasi dan sedang dicarikan solusi.
Hal itu dibenarkan oleh Ari Sulistyo arkeolog muda yang terlihat aktif bersama Indonesia Hidden Heritage (IHH) dengan Nofa Farida Lestari sebagai Direktur Eksekutifnya.
Beberapa anggota IHH bahkan telah bermalam di Pulau Onrust tersebut yang oleh Candrian diberi predikat Titik Nol awal penjajahan oleh Belanda di Nusantara.
Tercatat hari Minggu itu pengunjung Pulau Onrust 194 orang, Pulau Cipir 136 dan Pulau Kelor 128 orang. Pulau Onrust terbanyak pengunjung karena sedang ada peluncuran buku yang dihadiri banyak tamu antara lain M Fiman Santoso dari Yayasan Cipta Maritim Semesta Indonesia.
“Biasanya pengunjung Pulau Cipir terbanyak, sebab di situ disediakan tempat bermain,” kata Mis’ari ketika berlayar pulang dari Onrust menuju dermaga Muara Kamal, Jakarta Utara sore hari. (PRI)




