Museum Prasasti Menyimpan Jejak Jejak Orang Ternama Termasuk Soekarno-Hatta

Kereta jenazah kuno diapit kereta keraton. (DOKUMEN PRI)

JAKARTA (9/11/2023), AMUNISI.CO.ID — Lokasinya hanya beberapa ratus meter dari Monumen Nasional (Monas), membuat Museum Prasasti di Jalan Tanah Abang 1 Jakarta Pusat ini sebenarnya boleh dikatakan cukup strategis. Karena, masih berada di jantung Ibukota, hanya berbatas pagar besi dengan Kantor Wali Kota Jakarta Pusat.

Peti jenazah Bung Karno dan Bung Hatta.

Namun dari segi jumlah pengunjung, Museum Prasasti ini termasuk destinasi wisata edukasi yang sepi. Selama Oktober 2023 hanya terdapat 609 orang pengunjung. Kalah jauh dibandingkan Museum Sejarah Jakarta di Kota Tua Jakarta yang dalam waktu yang sama dikunjungi 47.400 orang lebih, tepatnya 47.444 orang.

Penyebabnya tak lain masalah lingkungan yang serba khusus, tak ada fasilitas pertokoan atau pemandangan lain di sekitar Museum Prasasti. Fasilitas angkutan umumnya juga terbatas. Tetapi Pemandu Museum Prasasti, Yudi ketika dihubungi Selasa (7/11/2023) mengungkapkan Museum Prasasti ini banyak menyimpan jejak orang orang ternama dalam sejarah Indonesia maupun dunia. “Peti jenazah Bung Karno dan Bung Hatta juga dapat dilihat di sini,” kata Yudi. Inipun dibenarkan oleh Khasirun, Kepala Satuan Pelayanan (Kasatpel) Museum Prasasti, Kamis (9/11/2023).

Lebih lanjut Yudi menjelaskan, untuk peti jenazah Bung Karno digunakan saat beliau wafat pada tanggal 21 Juni 1970. Sedangkan peti jenazah Bung Hatta pada tanggal 14 Maret 1980.

Patung mamer.

Khasirun yang pernah bertugas di museum ini tahun 1990-an mengungkapkan, dahulu kedua peti jenazah proklamator kemerdekaan RI itu disimpan dalam bangunan khusus yang tertutup.

“Dahulupun pengunjung boleh melihatnya. Tetapi sekarang bisa lebih mudah dan dekat lagi karena tempatnya terbuka,” tambah Khasirun yang pernah belajar konservasi benda cagar budaya di Negeri Belanda tahun 2002 itu.

Koleksi museum.

Museum Prasasti menempati areal seluas 1,2 hektare dengan koleksi hampir 1.000 prasasti. “Dahulu ada sekitar 1.300 prasasti. Namun, ketika dilakukan pembongkaran dan penataan kembali pada 2004, banyak prasasti yang rusak. Kebanyakan yang rusak itu prasasti yang tadinya terpasang di dinding pagar utara dan selatan,” tambah Khasirun.

Di antara banyak prasasti itu ada yang bertuliskan huruf HK yang artinya Holands Kerk. Itu maksudnya pindahan dari taman pemakaman Holands Kerk di sekitar Gereja Belanda di Kota Tua yang sekarang menjadi Museum Wayang.

Kecuali itu ada koleksi miniatur berbagai model pemakaman tradisional budaya dari 27 provinsi di Indonesia. Di dalam areal museum terbuka itu terlihat banyak bentuk makam bernuansa kristiani dengan ornamennya bergaya Eropa.

Di antara patung patung bidadari kecil terdapat patung besar seorang wanita sedang menangis terbuat dari marmer. Karya itu menurut Khasirun sangat menarik perhatian pengunjung “Itu karya dari Milan. Bisa ditanyakan ke Mas Yudi sejarahnya,” tutur Khasirun.

Maka berceritalah Yudi sebagai pemandu museum, bahwa patung wanita menangis itu adalah ornamen yang diletakkan di atas makam seorang istri yang melakukan bunuh diri. Sang istri tidak kuat menahan kesedihan yang dialaminya karena ditinggal meninggal suaminya akibat ganasnya penyakit malaria di Batavia saat itu.

“Patung itu dibuat oleh Antonio Carminati dari Milan, Italia dengan bahan dasar marmer Carara. Tidak jelas tahun berapa kejadiannya, tetapi pada patung tersebut ada tulisan 907.

Tercatat Johan Harmen Rudolf Kohler (JHR Kohler) seorang Mayor Jendral tentara Belanda yang tewas dalam Perang Aceh pertama bulan April tahun 1873 dan dimakamkan di Batavia di areal Taman Makam Kebon Jahe yang kini menjadi Museum Prasasti ini.

Namun tahun pada 14 Agustus 1988 kerangkanya dipindahkan dan dimakamkan ke Banda Aceh atas permintaan Gubernur Daerah Istimewa Aceh Ibrahim Hasan.

Berikutnya Dokter HF Roll, pendiri STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) atau Sekolah Tinggi Dokter Indknesia, sebagai peningkatan Sekolah Dokter Jawa di Batavia, juga dimakamkan di museum terbuka itu pada 20 September 1935. Roll lahir 27 Mei 1867. Ornamen makamnya berbentuk buku terbuka.

Ada makam JLA Brandes, seorang filolog yang terkenal berkat temuannya yakni manuskrip Kakawin Nagarakretagama di Puri Cakranegara Lombok tahun 1894. Dia tokoh penerjemah Serat Pararaton dan ulasannya. Arkeolog dan sejarawan zaman Hindia Belanda ini dikenal berkaitan dengan percandian dan kepurbakalaan Nusantara. Bahkan ada prasasti JLA Brandes di dekat candi Sumberawan di Singosari, Malang.

Ada nisan makam Olivia Mariamne Raffles istri Thomas Stamford Raffles (gubernur Hindia Belanda pada masa pemerintahan Inggris 1811-1816). Ia meninggal di Bogor (dulu Buitenzorg) di usia 43 dan jasadnya dimakamkan taman museum tersebut.
Berikutnya Raffles mendirikan tugu kenangan untuk mendiang isterinya itu di Kebon Raya Bogor. Semasa hidupnya, Olivia dikenal sebagai pecinta botani.

Miss Riboet atau Miss Tjitjih seorang bintang panggung tonil sejak zaman Hindia Belanda juga dimakamkan di kompleks ini tahun 1965.

Taman prasasti ini begitu indah dan teduh dengan pohon pohon tinggi yang rindang. Di antaranya pohon flamboyan dengan bunganya yang jingga, pohon tanjung dengan bunga berwarna putih, dan mahoni yang berkulit kayu cukup keras.

Untuk menjangkau Museum Prasasti bisa naik KRL atau kereta commuter line (KCL). Bila dari arah Bogor ke Kota hendaknya turun di Stasiun Jakarta Kota. Lalu nyambung naik Mikrolet 08 trayek Kota-Tanah Abang turun tepat di depan museum.

Bila dari arah Cikarang atau Bekasi ambil KCL yang lewat Manggarai turun di Stasiun Tanah Abang. Dari sini naik juga Mikrolet M-08 jurusan Kota, dan turun di halte Wali Kota Jakarta Pusat di JalanTabah Abang I, jalan kaki sekitar 100 meter ke arah barat. Sampailah di Museum Prasasti yang banyak spot-spot artistik untuk berfoto. Termasuk kereta jenazah kuno yang diapit dua kereta kuda gaya keraton, peninggalan pameran hampir 10 tahun silam.(Suprihardjo)

Total Views: 1181

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *