Museum Bahari Punya Taman Rempah, Sediakan Workshop Membuat Jala Ikan

Taman Rempah (DOK PRI)

JAKARTA (19/10/2022), AMUNISI.CO.ID – Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan Nomor 1, Jakarta Utara kini memiliki Taman Rempah dengan ratusan tanaman dalam pot, sebagai destinasi wisata edukasi sejarah kebaharian, Museum Bahari juga menyelenggarakan workshop membuat jala ikan, dan demo membuat kerajinan miniatur kapal tradisional.

Tamu dari Jerman dan Kepala Museum Kebaharian di depan perahu Jayapura 02 dari Papua.

“Taman Rempah kami buka tanggal 12 Oktober yang lalu tepat pada Hari Museum Nasional 2022,” kata Mis Ari, Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta, Selasa (18/10/2022).

Bacaan Lainnya
Para siswa dan guru SDIT dari Bogor di halaman dalam Museum Bahari.

Hadir saat itu Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Paramita Jaya Yiyok Trio Herlambang, masyarakat pecinta museum, dan duta rempah. Tanaman rempah tersebut menurut Mis Ari sekitar 30 jenis, terdiri atas langkuas, lada, cengkeh, pala, kunyit, kayu manis, sereh, dan lain lain.

Itu merupakan hasil kolaborasi Museum Bahari dengan Museum Tanah dan Pertanian Bogor, Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan (KPKP) DKI Jakarta dan berbagai pihak.

“Dari Dinas KPKP DKI Jakarta kami mendapat kiriman 100 tanaman yang terdiri atas tanaman jahe, kunyit, sereh dan langkuas masing masing 25 pohon,” tambah Kasatlak Informasi dan Edukasi Museum Kebaharian Jakarta, Triyadi Purnomo

Lebih lanjut Mis Ari menjelaskan, masalah rempah itulah yang menyebabkan datangnya bangsa-bangsa Eropa dan lainnya datang ke Nusantara. Oleh VOC Belanda sejak awal abad ke 17, rempah rempah itu dikumpulkan di gudang yang kini menjadi Museum Bahari. Selanjutnya dikirim dengan kapal laut ke negara pembeli rempah rempah tersebut.

Di Museum Bahari, di samping ada diorama sejarah kedatangan bangsa asing ke Nusantara (sekarang Indonesia), juga ada sekitar 30 karung rempah-rempah yang aromanya juga sedap seperti bumbu masakan.

“Secara periodik rempahnya diganti baru agar aromanya tetap dapat dirasakan pengunjung,” kata Mis Ari.

Di sini juga ada workshop membuat jala kecil. Instrukturnya dari museum tetapi bahannya dibeli oleh pengunjung. Ada juga demo membuat kerajinan miniatur kapal atau perahu tradisional. “Orang kami ada beberapa yang bisa membuatnya,” kata Mis Ari.

Mengenai sejarah rempah rempah dan kedatangan berbagai bangsa dari Eropa dan Asia, Triyadi menjelaskan, banyak pengunjung yang sudah tahu dan merasakannya.
Namun masih banyak dari mereka terutama generasi mudanya belum tahu bagaimana pohonnya.

“Makanya dengan Taman Rempah itu generasi muda akan menjadi tahu bagaimana ujud pohonnya. Sebab pohon dan daun lada hampir sama dengan pohon dan daun sirih,” imbuh Triyadi.

Mengenai jumlah pengunjung selama Oktober ini, Kasatpel Museum Bahari, Devi Sihotang, Rabu (19/10/2022) mengatakan, petugasnya sedang cuti. Tetapi dari data tahun 2022 sampai September pengunjung museum ini mencapai 16.485 orang. Berarti tiap bulan rata rata 1.831 orang atau tiap hari rata rata 70 orang. Rabu kemarin pengunjungnya mencapai 290 orang. Kebanyakan para siswa sekolah termasuk dari Depok dan Bogor. (PRI)

Total Views: 942

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *