
Oleh: Maulana Ahmad Sani*
BERBAGAI negara terancam mengalami risiko resesi, hal ini dipicu oleh perang tarif yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat (Donald Trump). Seperti diketahui, Trump telah memberlakukan tarif bea masuk yang lebih tinggi kepada sejumlah negara mitra dagangnya, seperti Kanada, Meksiko, China, serta Uni Eropa.
Presiden Trump dikabarkan mendorong timnya untuk menerapkan tarif tambahan sebesar 20 persen kepada semua mitra dagang Amerika Serikat. Penelitian terbaru dari Goldman Sachs, kemungkinan terjadinya resesi kini mencapai 35 persen, naik dari prediksi sebelumnya yang hanya mencapai 20 persen.
Kebijakan ini bertentangan pada janji kampanyenya untuk menurunkan harga konsumen, karena sebagian besar ekonom memperkirakan tarif ini justru akan menaikkan harga barang bagi warga AS. Kebijakan tarif ini dilaporkan telah menyebabkan volatilitas besar di pasar keuangan.
Menjadi salah satu Negara berkembang, Indonesia menjadi salah satu negara yang tidak luput terkena dampaknya. Perlemahan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga diperkirakan akan terus terjadi. Sebab investor akan mencari aset yang aman, dan keluar dari negara berkembang
Pelemanan Rupiah
Pelemahan rupiah wajib diwaspadai efeknya ke Imported Inflation lantaran harga barang impor menjadi lebih mahal. Itu akan menekan daya beli lebih lanjut, terutama pangan, dan kebutuhan sekunder seperti perlengkapan rumah tangga, elektronik.
Untuk mengatasi hal tersebut, Indonesia harus bersiap lomba mengejar peluang relokasi pabrik. Selain itu, kesiapan infrastruktur pendukung kawasan industri, sumber energi terbarukan yang memadai untuk pasok listrik ke industri, dan kesiapan sumber daya manusia juga diperlukan. ***
* Penulis adalah Mahasiswa Manajemen S1- Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Pamulang
Referensi :
https://www.metrotvnews.com/read/KXyCQYjD-





