JAKARTA (30/10/2022), AMUNISI.CO.ID – Untuk pertama kalinya Museum Kebaharian Jakarta dan Komunitas Jelajah Budaya (KJB) menyelenggarakan Jelajah Jalur Rempah Jakarta, Sabtu (29/10/2022). Sekitar 60 orang mengikuti jelajah tersebut dengan berjalan kaki. Di antaranya ada dua keluarga yang ikut kegiatan tersebut, masing masing Prasetyo seorang guru bahasa Inggris dari Cibinong bersama istri serta dua anaknya dan Indra Gana seorang tour leader dari Parung, Kabupaten Bogor bersama istri dan tiga anaknya.

Start dari halaman dalam Museum Bahari dekat taman rempah dengan sambutan Ketua Komunitas Jelajah Budaya (KJB) Kartum Setiawan disaksikan Kepala Satuan Pelayanan Museum Bahari Devi Sihotang dan para Duta Rempah yang disebut juga Lasykar Rempah antara lain dari Maluku dan Jambi.
“Museum Bahari ini dulunya gudang rempah rempah milik VOC Belanda. Ada cengkeh, pala, kunyit, kayumanis, lada, sereh dan lain-lain dari berbagai daerah seluruh Nusantara dikumpulkan di sini. Setelah banyak baru dikirimkan ke negara-negara yang membelinya,” kata Kartum Setiawan.
“Kalau dilihat, peserta paling tua ya Bu Pauline. Usianya sudah 70-an tahun. Untuk peserta termuda putra bungsu Pak Prasetyo. Namanya Shafwan, umurnya baru tiga setengah tahun,” kata Kartum Setiawan usai dipijat-urut di rumahnya, Minggu (30/10/2022). Maklum habis berjalan kaki cukup jauh.

Jalur rempah yang ditempuh Sabtu kemarin antara 3 sampai 4 Km. Dari eks gudang rempah berjalan kaki sekitar 40 meter ke Menara Syahbandar. Di sini diceritakan oleh Ari Sulistyo seorang arkeolog anggota KJB, bahwa dari menara itulah kapal dan perahu termasuk yang mengangkut rempah dipandu keluar masuk Pelabuhan Sunda Kelapa. Menara itu dibangun di atas bekas Bastion Culenborg benteng Batavia.
“Dahulu di samping menara itu ada tiang tinggi yang ujungnya dapat dilihat dari kapal kapal di laut yang mau masuk pelabuhan. Itu merupakan titik nol meridian Batavia,” tambah Ari.
Para peserta secara bergantian naik ke menara yang lantai atasnya setinggi 18 meter dari tanah. Dari menara tersebut kita melihat ke utara tampak bangunan Museum Bahari bergenting warna merah terakota yang terdiri dari tiga gedung, A, B dan C. Juga tampak anjungan atau haluan kapal kapal tradisional yang berlabuh di Sunda Kelapa.
“Startnya sudah kesiangan, makanya kita urung ke Pelabuhan Sunda Kelapa dan langsung ke Gudang Sisi Timur,” ungkap Kartum.
Berseragam baju kaos hijau, tas punggung dan topi hitam, rombongan jelajah menyeberang jalan raya dan masuk jalan kecil pinggir kali sodetan di RW O1 Kelurahan Ancol.
Sampai RT 09/01 setelah ada papan peringatan lokasi bersejarah Kampung Tongkol, rombongan penjelajah belok ke kanan melihat tembok rangkap dua setinggi tiga meter yang sudah dirambati akar akar beringin liar dengan pohon dan cabangnya bekas ditopping.
Berjalan ke selatan dan belok ke barat, tampak tembok benteng terpotong proyek jalan layang. Terlihat penampang tembok rangkap dua itu. “Tembok ini bekas benteng dan ke utara menyambung ke tembok Museum Bahari. Di antara dua tembok itu ada wall gang untuk penjaga berpatroli dan para snipper,” ujar Ari Sulistyo yang dibenarkan Kartum Setiawan, S2 Museologi.
Padrao dan Kota Intan
Menyusuri sebelah barat tembok benteng ke arah utara terlihat bangunan bertingkat di sebelah barat. Pada temboknya tampak jendela berterali besi dan ada deretan besi hitam berbentuk huruf Y terbalik, percis seperti tembok Museum Bahari.
“Itulah gudang Sisi Timur. Kalau Museum Bahari bekas gudang Sisi Barat,” kata Kartum. Di sebelah timur gudang itu ada dua truk besar parkir. Sementara di dekatnya terlihat anak laki-laki dan perempuan bermain sepak bola dengan tendangan gol berganti.
Rombongan bergeser ke barat sampai di Jalan Tongkol ke selatan dan menyeberang jalan ke Taman Kota Intan untuk istirahat. “Di sinilah dulu ditemukan batu Prasasti Padrao,” kata Kartum sambil menunjuk pojok Jl Cengkeh. Padrao bertahun 1522 berisi perjanjian dagang Kerajaan Sunda Kelapa dengan bangsa Portugis.
Kemudian rombongan berfoto bersama di Jembatan Kota Intan yang pernah dihancurkan oleh tentara Sultan Agung Mataram pada penyerangan ke Batavia tahun 1629. Namun jembatan jungkat jungkit itu dibangun kembali oleh Belanda.
Setelah itu rombongan berjalan ke utara lewat kolong jembatan KA dan kolong jalan tol layang menyusuri sebelah timur Kali Krukut (Kali Baru).
Tampak bekas Galangan VOC telah dijadikan restoran.
Setelah menyeberang Jl Pakin, sampailah kembali kita di Museum Bahari. Acara istirahat, solat dan makan kemudian dilanjutkan sambutan oleh Kepala UP Museum Kebaharian Jakarta, Mis’ari.
“Kami harapkan Jelajah Jalur Rempah Jakarta ini tidak sampai di sini saja, tetapi harus berlanjut,” tandas Mis’ari. Diharapkan singkatan JJRJ dari kegiatan ini diabadikan untuk kelanjutannya. Rempah bukan sebagai warisan Indonesia saja melainkan menjadi warisan dunia.
“Silakan berkegiatan di sini untuk mengembangkan rempah-rempah Indonesia menjadi warisan dunia. Museum Bahari ini adalah saksi bisu kejayaan rempah Indonesia,” pungkasnya.
Tiga peserta diminta testimoninya atas kegiatan JJRJ tersebut. Nikita mahasiswa jurusan Sejarah UI mengaku terkesan sekali dengan Museum Bahari dan kegiatannya. “Sebab di kotaku Batam belum ada museum,” ungkapnya.
Prasetyo mengaku ikut JJRJ ini diajak Ketua KJB Kartum Setiawan. Guru bahasa Inggris inipun mengajak keluarganya ikut jelajah jalur rempah walau harus sambil menggedong anak bungsunya. “Menyenangkan,” tutupnya.
Lain lagi dengan Ida Subaidah. Ia mengaku bahagia dapat bernostalgia dan reunian di museum ini. “Saya aslinya dari Departemen Penerangan. Tetapi tahun 2002 dipindahtugaskan ke Museum Bahari sampai 2009. Beruntung selama itu berkesempatan mengunjungi beberapa museum di Eropa,” kata Ida.
Hiburan band mengalunkan lagu Poco-poco dan Maumere membuat Mis’ari dan anak buahnya turun berjoget bersama peserta. Lagu berirama Latin tahun 60-an “Besame mucho” didendangkan Mis’ari, Sekretaris AMI DKI Paramita Jaya.. Maka berakhirlah rangkaian acara jelajah menelusuri sejarah rempah dari Museum Bahari. (PRI).




