BEKASI (28/12/2024), AMUNISI.CO.ID — Yayasan Jamrud Biru dengan pondoknya di Kelurahan Muatika Sari, Kecamatan Mustika Jaya , Kota Bekasi, Jawa Barat, hingga kini merawat 153 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Tidak kurang dari 30 orang karyawan Jamrud Biru dengan sabar merawat mereka hingga sembuh.
Sabtu (28/12/2024) yang lalu panti sosial tersebut mendapat kunjungan pimpinan perusahaan dan pimpinan redaksi Opininews.id serta anggota komunitas Jampost (Jatiasih Merpati Pos Terdepan).

Dalam kesempatan itu kedua tamu tersebur membawa oleh oleh 3 karung besar beras dan 7 paket busana layak pakai untuk para pasien ODGJ tsb.
Penyerahannya dilakukan Pemred Opininews.id, Ichsan dan anggota Jampost Drs Dwi Busara yang diterima Ketua Yayasan Jamrud Biru Ardiansyah bersama asistennya.
Menyaksikan saat itu H Chotim Wibowo selaku penasehat Yayasan Jamrud Biru serta para pasien dan perawat pondok rehabilitasi ODGJ tersebut.
Drs Dwi Busara pensiunan karyawan Pemprov DKI Jakarta selaku anggota Jampost yaitu komunitas penggemar merpati pos sempat minta dibawakan lagu wajib. Tak lama kemudian menggemalah lagu Gugur Bunga yang dinyanyikan bersama sama oleh lebih 100 pasien pondok rebabilitasi ODGJ itu.
Dengan memperlihatkan mimik yang melankolis mereka melantunkan lagu dengan lirik lirik yang menyentuh.
“Betapa hatiku tak akan sedih, hamba ditknggal senduri….”. Tangan merekapun mengelus dada masing masing dengan gerakan yang sama dan seirama.
Tiba tiba ada seorang lelaki berperawakan sedang yang dipanggil Danang maju sambil berjoget. Tentu saja dia segera disuruh kembali ke barisan untuk menyesuaikan diri.
“Dia memang senang joget,” ujar seorang perawat yang dibenarkan oleh Sekretaris Jamrud Biru, Reni Widiani.
Joget berjingkrak dengan tangan mengacung berputar putar, sementara lagunya sedih alias melow mana nyambung?
Usai meneriakkan yel yel dipanggillah seorang pasien yang berkepala gundul untuk menyanyi.
“Ini seorang artis Jamrud Biru,” kata Reni Widiani yang dibenarkan Ardiyansyah.
“Dia pasien dari Kali Malang, Jakarta Timur. Namanya Mohamad Rifai. Khusus menyanyikan lagu lagu ST 12,” imbuh Ardiyansyah.
Benar saja, pemuda usia duapuluhan tahun itu memegang mikrofon dan melantunkan lagu “Terlalu” . Lebih 100 orang temannya yang rata rata berkepala gundul menyaksikannya.
H Suhartono selaku pendiri Yayasan Jamrud Biru yang baru datang dari luar kota, malam itu di lahan yang juga dikelola oleh Yayasan Jamrud Biru menjamu tamunya.
Ia bercerita tentang sejarah pondok rehabilitasi ODGJ tersebut.
“Memungut orang dengan gangguan jiwa dari jalanan dan membawanya ke pondok perawatan sudah biasa kami lakukan sejak awal berdiri tahun 1998. Sebab itu merupakan pesan guru saya,” kata H Suhartono yang di lingkungannya lebih akrab dipanggil Pak Haji.
Tentu saja tujuannya untuk disembuhkan dan dapat kembali ke lingkungan keluarganya.
Namun dari 153 pasien Jamrud Biru ternyata 79 orang atau separo lebih tidak ada keluarganya. Dan ini telah dilaporkan ke Dinas Sosial Bekasi untuk berkoordinasi.
Didampingi H Chotim.Wibowo selaku penasehat yatasan, H Suhartono bercerita pengalaman unik menikahkan pasiennya seorang gadis. Risikonya Suhartono harus mengajak pasiennya itu bertemu kedua orang tuanya di daerah Malimping, Banten.
Singkat cerita dengan penuh keajaiban akhirnya pasiennya itu sukses menikah dengan lelaki yang mencintainya.
Tak kurang dari pejabat pemerintah Bekasi hadir dan menyumbang. (PRI)





