JAKARTA (8/12/2022), AMUNISI.CO.ID – Museum Seni Rupa dan Keramik (MSRK) di Kota Tua Jakarta selama tahun 2022 hingga kini mencapai 76.000 orang. Tercatat sampai akhir November 75.945 orang.

Demikian dikatakan Kepala Satuan Pelayanan Museum Seni Rupa dan Keramik, U’us Ustandi ketika ditemui Amunisi.co.id, Rabu (7/12/2022) dan ditegaskan kembali Kamis (8/12/2022). Menurut U’us Ustandi, dari ratusan pengunjung museumnya hampir tiap hari ada 20 sampai 40 orang mengikuti workshop membuat kerajinan tembikar.
“Museum ini mulai ramai dikunjungi wisatawan sejak bulan Juli 2022. Sejak itu mulai banyak pula yang belajar membuat kerajinan gerabah atau tembikar dengan meja putar. Namun tiap hari paling banyak 40 orang, karena kami hanya memiliki 6 meja putar,” ujar U’us.

Dijelaskannya, tiap peserta workshop membutuhkan waktu 30 menit untuk menyelesaikan pekerjaan kerajinan tembikarnya sampai selesai dan proses pengeringan.
Tiap peserta workshop harus mendaftar terlebih dahulu dan dikenakan biaya Rp40.000. “Itu untuk pengganti biaya pengadaan bahan tanah liat, kardus dan plastik kresek untuk tempat membawa pulang karya tembikar masing masing,” jelas U’us.
Mengenai pengunjung bulan Juli tercatat 5.905 orang atau rata rata tiap hari 218 orang. Tiap bulan meningkat terus, puncaknya bulan Oktober mencapai 19.327 orang atau rata rata 715 orang per hari. November 13.573 orang atau rata rata per hari 522 orang.
Dikatakan oleh Kasatpel Museum Seni Rupa dan Keramik ini, tiap akhir pekan yaitu hari Sabtu dan Minggu jumlah pengunjungnya dua kali dari rata-rata perhari. Begitu pula pengunjung yang mengikuti workshop tembikar dengan meja putar minimal 20 orang dan maksimal 40 orang tiap hari.
Diakui, pada umumnya peserta workshop tembikar ini dari generasi muda, pelajar dan mahasiswa.
“Ada pula workshop melukis di atas berbagai media yang diselenggarakan oleh Museum Seni Rupa dan Keramik, namun yang paling diminati masyarakat ya workshop kerajinan tembikar ini,” ujar U’us.
Terlihat para peserta workshop tembikar Rabu siang itu antre di samping aula museum. Sementara yang lain asyik dengan tanah liat di meja putar dibimbing instrukturnya. Ada di antara peserta seorang gadis kecil bernama Nayla yang asyik belepotan tanah liat di meja putar. Ayah dan ibunya menemaninya.
“Nayla ini klas dua SD memang suka melukis dan pekerjaan seperti itu sejak kecil,” kata ibunya.
Mengenai tingginya minat masyarakat terhadap proses pembuatan gerabah atau tembikar U’us Ustandi mengungkapkan pengalamannya. “Bulan Oktober yang lalu museum kami bekerja sama dengan Museum Kebangkitan Nasional menyelenggarakan workshop tembikar. Kami membawa meja meja putar ke Museum Kebangkitan Nasional.
Ternyata peminatnya mencapai 150 orang. Padahal kuotanya hanya 50 orang,” ujar U’us. (PRI).




