UncategorizedPerobekan Bendera Belanda di Surabaya dan Rapat Raksasa di Lapangan Ikada Berkat...

Perobekan Bendera Belanda di Surabaya dan Rapat Raksasa di Lapangan Ikada Berkat Dorongan Euforia Merdeka

JAKARTA (21/9/2023), AMUNISI.CO.ID — Peristiwa Rapat Raksasa di Lapangan Ikada Jakarta dan insiden perobekan bendera Belanda di menara Hotel Yamato Jl Tunjungan Surabaya terjadi pada hari yang sama, yakni Rabu 19 September 1945. Namun kedua peristiwa itu tidak berkaitan satu sama lain. Kalau ditilik dari penyebabnya memang sama, yaitu dorongan euforia kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945.

Pernyataan ini dikemukakan dua orang ahli sejarah, Kartum Setiawan dan Idris Prabowo secara terpisah di Jakarta, Rabu (20/9/2023). Kartum Setiawan seorang museolog Ketua Komunitas Jelajah Budaya dan Idris Prabowo guru sejarah yang juga Wakil Kepala Sekolah SMPN 221 Jakarta.

“Sudah kami cari, tetapi tak ketemu pertalian kedua peristiwa tersebut. Yang satu di Jakarta dan yang lainnya di Surabaya,” kata Kartum. Hanya saja semangat dan dorongannya sama yaitu rasa kebangsaan yang berdaulat.

Idris Prabowo menilai kedua peristiwa itu sama-sama sedang merayakan euforia kemerdekaan. Bedanya, tambah Prabowo, peristiwa Rapat Raksasa di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) memang direncanakan Komite van Aksi. Ini dilatarbelakangi ada isu bahwa Soekarno-Hatta ditahan Jepang yang tak mampu menjaga status quo sebagai kesepakatan dengan Sekutu. Juga sebagai bentuk dukungan rakyat Indonesia pada Soekarno-Hatta.

“Peristiwa di Hotel Yamato (Oranje) adalah kejadian spontan. Di mana orang Belanda menaikkan bendera Merah Putih Biru yang ditanggapi secara langsung oleh pemuda-pemuda Surabaya, yang naik menara hotel dan merobek bagian birunya bendera Belanda itu. Kemudian mengibarkannya kembali sebagai Dwi Warna Merah Putih,” ujar Idris Prabowo.

Muslim, edukator di Museum Djoang 45, Jl Menteng Raya 31, Jakarta yang dihubungi Kamis (21/9/2023) mengatakan, cerita dan foto dokumentasi kedua peristiwa itu dipamerkan di Museum Djoang 45. “Gedung museum ini dulu menjadi kantor dan markas Komite van Aksi yang merancang Rapat Raksasa di Lapangan Ikada 19 September 1945,” ujar Muslim.

Rapat tersebut sudah agak sore dihadiri Bung Karno dan Bung Hatta sebagai presiden dan wakil presiden, naik podium. Hanya sekitar 10 menit rapat yang dihadiri sekitar 300.000 orang dari pelosok Indonesia itu akhirnya bubar setelah mendapat jaminan kemerdekaan RI tetap dipertahankan. Waktu itu para pemuda Indonesia juga siaga di samping ada pengawasan pasukan Kempetai Jepang. “Tetapi versi lain ada yang menyebut lebih dari tigaratus ribu orang yang hadir,” kata Muslim.

Peristiwa Lapangan Ikada pada 78 tahun silam itu diperingati dengan upacara bendera di lokasi aslinya yaitu di Silang Monas Selatan oleh Pemprov DKI Jakarta, tepat pada 19 September 2023.
Juga pada hari yang sama diadakan upacara serupa di halaman kantor Walikota Jakarta Timur. Bertindak sebagai inspektur upacara Wakil Walikota Jakarta Timur I’in Mutma’innah.

Peristiwa insiden perobekan bendera Belanda dan dikibarkan kembali menjadi bendera Indonesia di Hotel Yamato di Jl Tunjungan Surabaya, juga diperingati di tempat kejadian semula yaitu di hotel Majapahit yang dahulunya bernama Yamato dan sebelumnya lagi bernama Oranje. “Tetapi diperingatinya hari Minggu tanggal 17 September,” kata NDing Sjaifuddin Noer warga Surabaya yang berprofesi sebagai dokter ahli bedah kulit itu.

Agata seorang edukator Dinas Kebudayaan Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Surabaya juga mengatakan hal yang sama. Peringatan peristiwa heroik oleh arek-arek Surabaya itu maju dua hari yaitu tanggal 17 September.

Kronologinya peristiwa tanggal 19 September 1945 itu menurut sejarah adalah seorang Belanda bernama Ploegman mengibarkan bendera tiga warna merah putih biru di menara Hotel Yamato. Aksi itu mengundang massa arek-arek Suroboyo berkumpul di depan hotel. Mereka tidak dapat masuk hotel karena dijaga tentara Jepang dengan senapan berujung bayonet terhunus.

Akhirnya Residen Surabaya Soedirman datang dengan mobil bersama dua pengawalnya Sidik dan Haryono. Di lobi hotel mereka bertemu Ploegman dan bernegosiasi agar bendera Belanda itu diturunkan. Namun Ploegman menolak dan mengatakan, “Pasukan Sekutu telah menang perang dan karena Belanda adalah bagian dari Sekutu maka sudah menjadi haknya mengembalikan pemerintahan Hindia Belanda.”

Ia tak mengakui proklamasi Republik Indonesia yang sudah dikumandangkan Soekarno – Hatta ke seluruh dunia melalui radio. Ploegman mengancam Soedirman, Sidik dan Haryono dengan pistol.
Sidik berhasil mencekik Ploegman hingga tewas. Namun ia disabet pedang oleh tentara Belanda.

Sidik tercatat sebagai Arek Suroboyo korban pertama insiden tersebut. Selanjutnya Haryono setelah menyelamatkan Residen Soedirman memanjat menara menurunkan bendera Belanda dan merobek bagian birunya . Dibantu Koesno Wibowo, ia mengibarkan bendera yang menjadi Merah Putih ke tiangnya kembali. Namun Haryono gugur ditembak Belanda saat masih di menara. Peristiwa ini disaksikan para pemuda arek-arek Surabaya yang berkumpul di depan hotel Yamato itu.

Wisata Sejarah
Sekarang Hotel Yamato di Jl Tunjungan itu menjadi Hotel Majapahit. Lingkungan situs sejarah inipun ramai dengan warga Surabaya maupun wisatawan domistik dan mancanegara. Malam hari Jl Tunjungan menjadi tempat wisata kuliner dengan berbagai macam makanan dan minuman. “Ya seperti Jalan Malioboro di Yogyakarta dan Jalan Kayutangan di Malang,” kata NDing.

Pada 6 September, NDing Sjaifuddin Noer selaku Panitia Reuni mengajak 40-an teman se-alumni SMAN 3 Malang jalan-jalan berwisata kuliner ke Tunjungan. Naik bus dari hotel Swiss Belinn Manyar turun di depan Toko Gading Murni.

“Ayo kita turun dan jalan kaki. Silakan makan dan minum pilih yang disukai dan bayar sendiri-sendiri,” ujar NDing yang diamini oleh Sulastri sebagai bendahara panitia. “Oh ya, nanti kumpulnya di depan Hotel Majapahit ya. Sekitar pukul 21.30,” ujar NDing lagi.

Berjalanlah rombongan wisatawan Nusantara ini menyusuri trotoar Tunjungan ke arah utara. Di tengah perjalanan bertemu spot untuk berfoto yang menarik dengan neon sign bertuliskan ‘Mlaku mlaku nang Tunjungan’. Terngiang lagu “Rek Ayo Rek Mlaku mlaku nang Tunjungan” yang dinyanyikan Mus Mulyadi dengan bandnya The Favorites Group.

Tiba waktunya harus siap di titik kumpul depan Hotel Majapahit. Terlihat beberapa petugas security berbaju batik. Sebentar datang mobil atau taksi menurunkan atau menjemput tamu hotel.

Beberapa wisatawan membawa fotografer berpose di depan hotel. Ada sepasang muda-mudi berbusana pengantin budaya Jawa. Rupanya sedang pengambilan foto prewedding oleh fotografernya.

Tukang parkir tampakmya juga sadar wisata. Mereka memberi jalan tiap rombongan wisatawan yang menyeberang jalan.

“Ketika kami kurang bangku, tukang parkir menyodorkan kursi plastiknya dipinjamkan,” kata Roosida dan teman-temannya peserta Reuni SMAN 3 Malang dari Jakarta.

Dari seberang jalan terlihat sosok menara hotel Majahahit yang berbentuk kotak-kotak. Mirip foto atau lukisan peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato tahun 1945. “Ya memang itu hotelnya,” kata NDing Sjaifuddin meyakinkan.

Namun peserta reuni dari luar Surabaya pada umunnya tidak sadar berada dalam lingkungan situs sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. “Saya nggak sadar lho. Panitia nggak ngasih tahu sih,” kata Bambang Bahagio peserta dari Jakarta.

Utomo peserta dari Sragen juga merasa biasa saja . “Tak ada yang istimewa. Saya beli tahu petis dan kami makan bersama Winarno dan kawan kawan,” ujar Utomo. Di sini perlunya pemandu wisata yang berpengetahuan luas mengenai destinasi dan objek wisata yang sedang didatangi. (PRI)

- Advertisement -spot_img

BERITA LAINNYA DARI 阿穆尼西

Brigjen Pol Yudho Hermanto Resmi Menjabat Kapolda Sulut

MANADO, AMUNISI.CO.ID — Jabatan Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Utara...

Kesatuan Nusantara Meriahkan Harlah HIPWIN ke-5 dan HUT RI ke-81 di Taman Wiladatika Cibubur

AMUNISI.CO.ID, JAKARTA — Ormas Kesatuan Nusantara turut memeriahkan peringatan...

Puncak Acara HUT Ke-81 RI di RW 03 Malaka Jaya Meriah: Lurah Ingatkan Bahaya Kebakaran

JAKARTA, AMUNISI.CO.ID — Acara puncak peringatan Hari Ulang Tahun...

Festival Batu Penggilingan IV Hidupkan Kembali UMKM, tetapi Penyuluhan Sejarah Harus Berlanjut

JAKARTA, AMUNISI.CO.ID — Festival Batu Penggilingan yang diinisiasi anggota...

Upacara HUT RI ke-81 di SMAN 3 Manado: Kepala Sekolah Ajak Siswa Terus Berinovasi dan Berprestasi

MANADO, AMUNISI.CO.ID --  Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT)...

迎接印尼独立 81 周年 哥打莫巴古第一国立职业学校举办校内竞赛活动

为迎接印度尼西亚共和国独立 81 周年,哥打莫巴古第一国立职业学校(SMKN 1 Kotamobagu)近日举办一系列校内学生竞赛活动。2026 年 8 月 11...

巩固工作计划,印尼郑氏宗亲会(PMZI)完善组织架构及总主席选举章程

印尼郑氏宗亲会(PMZI)理事会于2026年7月10日(星期五)在雅加达北部西帕德芒岸(Pademangan Barat)区的郑瑞强(Zheng Rui Qiang)府邸举行了一场非正式会议。 本次会议自印尼西部时间13:00持续至19:30,旨在制定并完善各项战略工作计划要点,以便日后与印尼郑氏宗亲会总主席共同召开会议进行讨论。 共有八位理事代表出席了此次会议,分别是:郑瑞强(Zheng Rui Qiang)、郑西杰(Zheng Xi Jie)、郑文江(Zheng Bun...

陈永辉在埃迪・萨德利告别仪式上朗诵普图・奥卡・苏坎塔诗作

在送别知名人士埃迪・萨德利的场合上,陈永辉现场朗诵了一首题为《埃迪・萨德利:风雨无阻的情谊》的诗作,以此表达对逝者的追思与敬意。 这首诗由埃迪・萨德利的挚友 —— 诗人普图・奥卡・苏坎塔专门创作,字里行间满是二人历经岁月考验、不受风雨寒暑影响的深厚情谊。陈永辉以真挚的情感、沉稳的语调完成朗诵,让在场众人得以透过文字,重温埃迪・萨德利生前的品格与他和友人之间珍贵的情感联结。 普图・奥卡・苏坎塔的诗作情感饱满、意象真切,既饱含对友人离去的不舍,也赞颂了这份跨越时光、始终如一的真挚友谊,为这场告别仪式增添了一份深沉而动人的诗意。 献给艾迪·萨德利 友谊,不因风雨与烈日而褪色 我们相识于雅加达芒加勿刹(Mangga Besar)的一所房子里, 那是二十世纪七十年代, 当“新秩序”政权正凶猛横行, 践踏着人性的岁月。 那是我们第一次相见, 这份情谊, 一直延续到他生命最后的一次呼吸。 他给予的是理性的勇气; 他向我伸出援手, 把我, 以及许多我所认识的人, 从漆黑的泥沼中拉了出来, 也帮助我们渡过人生惊涛骇浪。 有时, 艾迪·萨德利像一根鞭子, 催人奋进; 有时, 他又像盲人的白手杖, 给予方向与依靠; 有时, 他更像一道光, 照亮前路。 艾迪兄啊, 你是一位耕耘土地、播撒种子的农夫; 到了收获的季节, 你总是邀请众人共享丰收。 一路走好,艾迪兄。 愿你在新的世界里, 永享安乐。 ——普图·奥卡·苏坎塔 2026年7月19日,雅加达·拉瓦芒贡(Rawamangun) Welli Martani (Chen Yong Hui) Membacakan...

美军夜袭伊朗基础设施 造成 8 死 20 伤

伊朗国家通讯社周五通报,美军于周四夜间至周五清晨对伊朗多省基础设施发动袭击,已造成 8 人死亡、20 人受伤。 伊朗卫生部表示,本月美军新一轮袭击累计已造成 38 人死亡、超 400 人受伤,遇难及伤者中包含多名妇女与未成年人,目前仍有 47...
- Advertisement -spot_img