JAKARTA (28/10/2022), AMUNISI.CO.ID — Selama Pameran Batik Nitik sejak 12 Oktober 2022, pengunjung Museum Tekstil di Jl KS Tubun no.2-4, Jakarta Barat meningkat. Tercatat selama 14 hari pameran dari 12 s/d 27 Oktober jumlah pengunjungnya 2.165 orang atau rata rata 154 orang/hari. Sedangkan selama tahun 2022 sampai September rata rata pengunjungnya 54 orang/hari. Dengan demikian jumlah pengunjungnya meningkat 100 orang/hari atau 185 % dari sebelumnya.
Hal itu diakui Kepala Satuan Pelayanan (Kasatpel) Museum Tekstil, UP Museum Seni Jakarta, Dewie Novie, usai menerima tamunya di Museum Tekstil, Jumat (28/10/2022).
Namun bila dibandingkan pengunjungi tanggal 1 sampai dengan 11 Oktober 2022 rata rata 128 orang/hari, maka peningkatan jumlah pengunjung tersebut hanya 20,3%.
Menurut Dewie Novie, para pengunjung beragam dari para pelajar dan mahasiswa, para pecinta wastra, khususnya batik sampai ahli batik dari luar negeri.
“Termasuk Ibu Brigite Willach ahli batik dari Jerman,” kata Dewie.
Menurut biografinya yang ditunjukkan Dewie, tercatat Brigite Willach lahir di Austria tahun 1949 dan sejak tahun 1970 menetap di Hanover, Jerman.
Sejak umur 15 tahun wanita ini mengenal teknik batik. Tahun 1985 ia pertamakali datang ke Indonesia tepatnya Yogyakarta sebagai asal batik. Selanjutnya dia menjadi tokoh batik dunia yang sering diminta menjadi juri dalam festival batik internasional.
Pada 18 Oktober 2022 Brigite Willach datang ke Museum Tekstil guna melihat Pameran Batik Nitik. Didampingi Benny Gartha seorang ahli batik dari Museum Tekstil, Brigite Willach bersama partnernya dari Jerman berkunjung ke Museum Bahari untuk menemui Mis Ari tokoh batik yang kini memimpin Museum Kebaharian Jakarta.
Para pengunjung Pameran Batik Nitik di Museum Tekstil dapat menikmati keindahan 80 kain batik milik kolektor ternama antara lain Tumbu Astiani Ramelan, Sri Murniati Widodo AS, Afif Syakur, Darwina Pontjo Sutowo dan kolektor kelahiran Jepang Eiko Adnan Kusuma.
Ketua Asosiasi Museum Indonesia DKI Jakarta (AMI DKI Paramita Jaya) Yiyok Trio Herlambang menilai Pameran Batik Nitik tersebut sangat bagus dan seharusnya berkelanjutan.
“Selain memperkenalkan wastra tradisional dari suatu daerah juga mengangkat UMKM setempat sehingga lebih dikenal masyarakat luas.
Ini akan berujung pada kesejahteraan mereka dari hasil penjualan wastranya,” kata Yiyok usai menghadiri peringatan 94 tahun.Hari Sumpah di Museum Sumpah Pemuda, Jl Kramat Raya 106, Jakarta Pusat, Jumat (28/10).
Museum Tekstil selama ini juga tak terpisahkan sejarahnya dengan Yayasan Batik Indonesia. Hal itu terkait dengan kerja sama, peminjaman, penitipan maupun pemberian batik mereka.
Sangat Beragam
Mengenai materi pameran, Tony Tri Suhartono pecinta batik asal Surakarta menilai, sangat beragam.
“Ada batik nitik gaya Solo, Yogya dan Pekalongan. Koleksi Ibu Tumbu Ramelan lebih ke nitik gaya Solo dan Yogya.
Sementara koleksi Afif Syakur ada nitik Yogya, Pekalongan serta nitik yang sudah kontemporer,” kata Tri Suhartono yang kesehariannya bekerja di perusahaan batik nasional di Jakarta.
Mengenai batik koleksi Eiko Adnan Kusuma kelahiran Yokohama, Jepang 1923 , menurut Tony alumnus Seni Kriya Tekstil UNS, memang kebiasaan orang Jepang suka motif berulang, kecil kecil dan cantik.
“Contoh yang menarik yaitu batik Nitik Parang Kurung koleksi Ibu Eiko Adnan Kusuma,” ujarnya. Batik tersebut gaya Yogyakarta buatan tahun 1950.
Ada lagi yang dipajang di ruang pamer utama batik Srikit Nitik Warni Pekalongan, koleksi Afif Syakur, Nitik Sekar Ceplok Peksi Yogyakarta koleksi Ny Sri Murniati Widodo AS dan kain Cakar Nitik Pinggir Limaran, Pekajangan Pekalongan, koleksi Ny Tumbu Astiani Ramelan.
Ny Titik Soewarno seorang pengunjung dari Duren Sawit Jakarta Timur mengamati batik Jlamprang warna merah tampak tekstur kainnya halus sekali.
Ternyata itu koleksi Darwina Pontjo Sutowo yang berbahan sutra dengan pewarna kimia yang diproses seniman batik Iwan Tirta.
Satu lagi koleksi Darwina Pontjo Sutowo juga batik Jlamprang namun berwarna hijau. Motifnya kecil kecil sehingga untuk busana wanita berperawakan kecilpun akan serasi. Bahannya juga sutra karya Iwan Tirta.
Kasatlak Informasi dan Edukasi UP Museum Seni Ardi Hariyadi menjelaskan selama berlangsungnya pameran sampai 12 November mendatang juga diadakan workshop batik dan celup ikat.
Juga diadakan lomba pembuatan video dengan materi Pameran Batik Nitik tersebut. “Lomba sedang berlangsung. Hasilnya akan diumumkan nanti,” kata Ardi. (PRI).




