Wastra Tenun Bertuah dalam Siklus Hidup Dipamerkan di Museum Tekstil

Workshop batik di Museum Tekstil. (DOKUMEN PRI)

JAKARTA (22/6/2023), AMUNISI.CO — Pameran Wastra Menjalin Benang, Meniti Sukma: Wastra Tenun Bertuah Dalam Siklus Hidup, telah dibuka di Museum Tekstil Jakarta, Jalan KS Tubun, Jakarta Barat oleh Ibu Devi Luhut Panjaitan, Rabu (21/6/2023).

Ny Devi Luhut Panjaitan bersama Kepala UP Museum Seni Jakarta Sri Kusumawati dan Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI serta Ketua Wastraprema.

Pameran itu terbuka sampai dengan 30 Juli 2023 mendatang, dan menampilkan 100-an wastra tenun bertuah, terutama dari budaya Batak dan Bali. Ada beberapa wastra tenun bertuah dari Sumba Timur NTT, Sulawesi Selatan, dan Palembang Sumsel.

Bacaan Lainnya

Devi Luhut Panjaitan pada pembukaan tersebut mengapresiasi Himpunan Wastraprema dan Museum Tekstil maupun Ditjen Kebudayaan yang menyuguhkan tema pameran kali ini. “Kami kaum perempuan bangga memakai produk Indonesia,” kata Devi. Menurutnya wastra tenun Bali mulai dikenal abad ke -16. Sedang wastra tenun Toba sudah lebih dahulu, yakni sejak abad ke-14.

Fashion show busana dengan wastra Batak.

Namun perlu inovasi agar bahannya lebih lembut tanpa menghilangkan pakem yang telah ada. Mengenai wastra yang dipamerkan, ternyata bertambah.

Berbusana kain tradisional Batak.

“Semula memang rencana 85 wastra tenun bertuah yang dipamerkan. Namun terakhir jumlahnya bertambah menjadi seratus lebih,” kata Ardi Hariyadi, Kepala Satuan Pelaksana Edukasi dan Informasi UP Museum Seni Jakarta, Kamis (22/6/2023).

Tari tenun Bali.

Ardi tidak sempat memberikan penjelasan panjang lebar karena baru pulang dari melayat ke rumah pimpinannya, Sri Kusumawati di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ibunda Sri Kusumawati yaitu ibu Suryati binti Diposoedarmo, berpulang ke Rahmatullah Rabu (21/6/2023) sore dalam usia 83 tahun. Kamis ini telah dikebumikan di TPU Tanah Kusir.

Sebelumnya, Sri Kusumawati, Kepala UP Museum Seni saat pembukaan pameran wastra tersebut menjelaskan, pameran ini dalam rangka HUT ke-496 Kota Jakarta dan menyambut HUT ke-47 Himpunan Wastra Prema yang didirikan pada 28 Juni 1976.

“Dalam kesempatan ini kami sebutkan lima tokoh berbusana terbaik yaitu Ibu Harmoko, Ibu Ratih Siswono, Ibu Dewi Abi, Ibu Mimi, dan busana casual yaitu Bapak Andre,” kata Sri Kusumawati.

Ketua Umum Himpunan Wastraprema Sri Sintasari Iskandar menegaskan, wastra selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia Indonesia. “Sepanjang hidupnya dari lahir hingga meninggal dunia, wastra selalu hadir dan memiliki peran penting. Terutama dalam ritual yang berhubungan dengan siklus kehidupan, baik untuk busana ataupun pelengkap,” katanya.

Pada kesempatan itu disuguhkan Tari Tenun Bali dan fashion show busana tradisional Batak. Hiburan musik Uning-Uningan Seruling Madu .
“Tadi itu kami suguhkan lagu-lagu Karo Toba,” kata S Gultom, pimpinan grup musik tradisional tersebut.

Selama tiga hari sejak Rabu ada bazaar di depan Pendopo Batik, di samping kiri museum. Di pendopo itu disiapkan workshop batik bagi peminat. “Masih sedikit yang minat,” kata Krismini salah seorang guru batik.

Hari kedua Kamis (22/6/2023) sampai tengah hari sekitar 50 orang mengunjungi pameran di Museum Tekstil tersebut. “Sabtu (27/6/2023) nanti akan ramai. Sebab ada acara talk show, ” kata Yeni, petugas museum, yang dibenarkan Ardi Hariyadi Kasatlak Informasi dan Edukasi. (PRI)

Total Views: 941

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *