评论 (Opini)与腐败共生,还要持续多久

与腐败共生,还要持续多久

在普拉博沃・苏比安托宣誓就任总统的前十天,他在民族复兴党全国立法协调会议上向与会者表示:“我已经向所有愿意加入我执政联盟的政党表明态度。我可以坦诚地说,请各党总主席、各位代表注意,不要对你们提名进入我领导的政府的部长们下达指令,不要要求他们从国家或地方财政预算中谋取私利。”(《罗盘报》,2025 年 10 月 11 日)
就职仅两周左右,普拉博沃总统在华盛顿特区与美国 — 印尼协会成员的美国企业家会面时再次发出明确信号。他表示,政府不会容忍任何形式的腐败行为,腐败是经济发展的毒瘤。(《罗盘报》,2024 年 11 月 13 日)“腐败是毒瘤” 这一表述,让人想起詹姆斯・沃尔芬森 1996 年 10 月 1 日至 3 日在国际货币基金组织与世界银行理事会年会上的讲话。当时沃尔芬森就指出,世界银行集团不会对其所支持项目中的腐败行为持容忍态度。“我们不必再遮遮掩掩,必须直面腐败这颗毒瘤。”[1]
2025 年 8 月 15 日,在庆祝印度尼西亚独立 80 周年的人民协商会议年度大会上,普拉博沃总统再次强调:
“我们必须认识到,腐败是我们国家面临的最大问题。腐败行为渗透到行政体系的各个层级,存在于政府的每一个机构和部门,也出现在国有企业当中。这不是需要我们刻意隐瞒的事实…… 在我领导行政部门的 299 天里,我越来越清楚地看到我们面临的挑战有多大,政府内部存在的各种违规行为有多严重…… 我有责任维护法律的尊严,保障国家的前途。”

腐败病毒的蔓延

印尼的腐败状况究竟如何?在我们每天都能看到层出不穷的腐败新闻时,可以先从两项指标来观察现状。第一是腐败感知指数。该指数满分为 100 分,印尼在 2014 年得分为 34 分,到 2024 年上升至 37 分。分数越高,代表国家治理越清廉。但这一得分仍低于东帝汶(44 分)、越南(40 分)、马来西亚(50 分)和新加坡(84 分),也低于全球平均水平 44 分。(《罗盘报》,2025 年 2 月 12 日)
第二项指标是法治指数。2025 年,印尼的法治指数从 0.53 降至 0.52。拉低这一指数的重要原因之一是刑事司法体系仍存在诸多问题,司法判决结果难以预测,甚至可以通过金钱交易左右,司法腐败现象时有发生,执法权被当作商品交易。(《罗盘报》,2025 年 10 月 31 日)
此外,还有其他常用指标可以反映权力寻租与索贿行为的普遍程度。相关研究显示,2023 年印尼有 35.4% 的大型企业至少遭遇过一次索贿要求,而 2009 年这一比例为 33.3%。(《罗盘报》,2025 年 8 月 26 日)
世界银行定期发布的全球治理指标,其中也包含对执法力度和腐败控制情况的评估。报告称印尼相关趋势虽有改善,但与同等发展水平的国家相比,仍存在明显差距。
这样的现实引发了社会各界的担忧与失望。作家特雷・利耶在 2012 年出版的小说中,将国家描述为 “骗子之国”;布亚・萨法伊・马阿里夫则在 2021 年的评论中称之为 “奶牛共和国”。在这样的环境下,国家似乎无力遏制腐败的恶行,贪婪的掠夺者肆意侵吞国家财富。亚斯拉夫・皮良在 2025 年指出,腐败链条始终无法斩断,印尼已经进入 “腐败紧急状态”。腐败被视为常态、司空见惯的现象,反腐败运动反而成了 “观赏社会” 中一场作秀和空谈。[2]
近年来,甚至有不少关于腐败的内容被当作笑料流传。有人戏称,腐败产业(以及与之对立的反腐败产业)是增长最快的行业,增速超过整体经济和制造业。这一行业吸引了国内最优秀的人才,许多政党骨干也深陷其中。就连哲学家笛卡尔的名言 “我思故我在”,也被调侃为 “我贪故我在”。
面对这种已经蔓延开来、并且根深蒂固的腐败现实,我们不禁要问:2045 年建成繁荣富强的 “黄金印尼” 的理想,还有实现的可能吗?事实早已证明,如果没有廉洁的治理,市场经济制度反而会带来更多负面后果,比如收入差距扩大、贫困加剧和环境破坏。
如果没有坚定而公正的执法,建设繁荣强国的梦想终究只是海市蜃楼。从数据来看,印尼几乎注定会陷入 “中等收入陷阱”:由于经济运行成本高、效率低下,想要在一二十年内保持每年 6% 至 7% 的稳定增长,几乎没有可能。因此,能否实现突破、迎来新的发展机遇,关键不在于经济技术层面,而在于制度和治理层面。

反腐败体系的建设

改革时代的到来,源于社会对变革的一系列诉求。其中多项要求被写入至今仍然有效的人民协商会议决议。与廉洁政府建设直接相关的共有三项决议,分别是:1998 年第 XI 号《关于国家机构廉洁、远离腐败、勾结与裙带关系的决议》;2001 年第 VI 号《关于国民生活准则的决议》;以及 2001 年第 VIII 号《关于打击与预防腐败、勾结与裙带关系政策方向的决议》。根据 2003 年第 I 号决议第四条规定,这些决议将持续有效,直到相关法律正式出台,且决议内容全部落实为止。
这些决议的执行情况如何?此后印尼陆续制定了多部相关法律,其中直接涉及反腐败的包括:1999 年第 31 号《打击腐败犯罪法》、2001 年第 20 号《关于修订 1999 年第 31 号法律的法令》、2002 年第 30 号《反腐败委员会法》,以及 2019 年第 19 号《关于修订 2002 年第 30 号法律的法令》。政府也通过举办研讨会、工作坊等方式,对相关法规进行宣传普及。人民协商会议成员也参与推广国家发展的四大共识:建国五项原则、1945 年宪法、统一的印尼共和国以及多元一体的理念。
然而,相关法律的增多,并不意味着执法效果自然提升。我们反而可能陷入 “规则之国” 的陷阱,而不是真正建成 “法治之国”。法规的制定往往伴随着执法部门权限的扩大,以及政府监管范围的不断延伸。权力边界的模糊和扩张,反而可能滋生新的腐败空间。正如塞缪尔・亨廷顿所言:“在腐败盛行的社会中,制定过于严格的反腐败法律,反而会催生出更多腐败机会。”(普里约诺,2018 年:第 277 页)
托东・穆利亚・卢比斯在 2025 年评价,印尼的反腐败工作已经失去方向,法律被当作维护权力的工具。他还指出了体系结构上的缺陷:反腐败委员会的职能被不断削弱,包括法律条文被司法审查、调查人员和检察官被调离、经费受到限制、委员会成员遭到刑事指控等。这些问题使得反腐败体系的运作变得混乱不清。
印尼金融交易报告与分析中心前负责人穆罕默德・优素福在 2024 年提出,应严格落实联合国《反腐败公约》的所有条款,以强化反腐败体系。印尼已于 2006 年通过第 7 号法律批准该公约。优素福认为,目前法律仍存在空白,亟需补充完善,包括:公职人员非法或不合理增加财产的定罪、私营部门为影响商业决策而行贿的定罪、禁止权力寻租行为,以及无需等待法院最终判决即可没收腐败所得资产等条款。

对未来的期盼

面对日益严峻的挑战,作为一个国家,我们应当如何应对?除腐败问题外,印尼还面临着全球与国内层面的多重考验。在国际层面,气候变化带来的影响日益明显;人工智能技术快速发展;地缘政治紧张加剧,军备竞赛、贸易摩擦和对稀有矿产资源的争夺愈演愈烈;生产体系逐渐转向 “安全优先”,甚至只从 “友好国家” 采购物资;多边机构的权威性和作用也在下降。
在国内层面,印尼面临着去工业化趋势、劳动力素质与职业精神落后于其他国家、政府财政能力减弱、贫富差距依然悬殊(包括数字资源和融资渠道的不平等)、民主进程被寡头势力操控、行政改革进展缓慢、对债务和进口原材料的依赖程度持续上升等问题。
回顾宪法修改前的解释条文,其中有一句话值得我们深思:“在国家治理与发展中,最重要的是精神,是国家机构与领导人的精神…… 因此,精神才是根本,它应当是鲜活的、充满活力的。”[3]
在政治体系方面,不可否认的是,在后苏哈托时代,寡头势力的格局变得更加复杂。政治舞台被那些同时涉足政界、行政体系和商业领域的人物所掌控。印尼政治格局的演变,本质上是不同寡头派系之间利益博弈的结果。(维多约科,2013 年;哈迪兹,2025 年)正如理查德・罗宾逊所言,改革之后,我们几乎看不到任何政党真正推行具有明确改革目标的纲领。(《罗盘报》,2025 年 2 月 12 日)这让我们想起亨廷顿提出的一个悖论:
“腐败有时可以打破阻碍经济扩张的传统规则与行政限制,成为推动现代化进程的润滑剂。它甚至可以在一定程度上维持政治体系的运转,就像改革能够维护政治稳定一样。腐败可以缓解利益集团推动政策变革的压力,如同改革能够平息社会阶层对结构性调整的诉求。”(普里约诺,2018 年:第 278 页)
未来的发展,关乎印尼作为一个国家的存续与走向。回顾现实,印尼似乎始终陷入治理失序的恶性循环。哈达尔・纳西尔在 2021 年的一篇文章中写道:
“如果改革之后国家治理的方向受到质疑,那么这意味着我们可能已经偏离了 1945 年建国时的初衷。国家治理体系或许正在出现偏差,逐渐走向以政治与经济利益为重的实用主义路线。而那些关乎国家理念与长远愿景的哲学基础,反而被搁置在抽象的层面,难以真正落地。”
印尼能否真正建立起文明的公共秩序和廉洁高效的政府?一部分学者认为,答案取决于国家经济政治制度的发展。失败的国家往往建立在掠夺性、寄生性的制度之上;而成功的国家则拥有包容、透明和负责任的治理体系。(阿西莫格鲁与罗宾逊,2012 年)在这一关键节点上,社会在民主框架下处理不同利益诉求的成熟度,将决定国家能否顺利通过 “狭窄通道”,走向繁荣与进步。过于强势的国家,会让社会失去议价能力和自主空间,也就无法凝聚力量改变自身命运。(阿西莫格鲁与罗宾逊,2019 年)印尼从来不是注定要做 “苦力民族” 的国家,历史与时间将给出最终答案。
作者简介: 哈德拉万・苏普拉蒂克诺教授,博士,印度尼西亚崇高希望大学经济与商学院教授,曾任萨拉蒂加真理之光基督教大学经济学院院长,雅加达印尼商业与信息学院研究生院主任,曾任斗争民主党国会与人民协商会议成员。
参考文献:
  • 阿贝德、古普塔(2002 年主编),《治理、腐败与经济表现》,国际货币基金组织。
  • 阿西莫格鲁、罗宾逊(2012 年),《国家为何失败:权力、繁荣与贫困的起源》,皇冠出版社。
  • 阿西莫格鲁、罗宾逊(2019 年),《狭窄通道:国家、社会与自由的命运》,企鹅出版社。
  • 哈迪兹(2025 年),《改革政治经济的结局》,《罗盘报》,6 月 24 日。
  • 英德拉斯瓦拉(2024 年),《瓜分战利品的共和国》,《罗盘报》,7 月 20 日。
  • 利德尔(2013 年),《强权国家的挑战》,《罗盘报》,9 月 17 日。
  • 利耶(2012 年),《骗子之国》,格拉梅迪亚出版社。
  • 卢比斯(2025 年),《反腐败的阴霾》,《罗盘报》,7 月 22 日。
  • 马阿里夫(2021 年),《奶牛共和国》,《罗盘报》,2 月 27 日。
  • 纳西尔(2021 年),《治理印尼》,《罗盘报》,1 月 16 日。
  • 皮良(2025 年),《腐败紧急状态》,《罗盘报》,1 月 7 日。
  • 普里约诺(2018 年),《腐败:追溯含义,理解影响》,格拉梅迪亚出版社。
  • 斯蒂格利茨(2024 年),《自由之路:经济学与美好社会》,诺顿出版社。
  • 维多约科(2013 年),《印尼寡头政治与政治腐败》,塞塔拉出版社。
  • 优素福(2024 年),《兑现反腐败承诺》,《罗盘报》,12 月 10 日。

[1] 相关原文及背景,参见普里约诺(2018 年:第 305 页)。

[2] 还有许多讽刺性说法描述印尼现状。利德尔(2013 年)称之为 “强权之国”;英德拉斯瓦拉(2024 年)称其为 “瓜分战利品的共和国”;普拉博沃总统本人也曾多次表示,他长期在国内生活,因此深知各种违规行为的存在。

[3] 哲学家大卫・休谟曾指出:“理性是情感的奴隶。” 对理想的执着与热情,能够激励人们全力以赴,做到最好。参见斯蒂格利茨(2024 年:第 146 页、第 332 页)。


Hidup Bersama Korupsi, Sampai Kapan

Sepuluh hari sebelum Prabowo Subianto dilantik sebagai Presiden, di hadapan peserta Rapat Koordinasi Nasional Legislatif Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Prabowo menyatakan, “Saya sudah sampaikan kepada semua partai yang mau bergabung dalam koalisi saya. Terang-terangan saya katakan, semua ketua umum, semua perwakilan, jangan menugaskan menteri-menteri yang Saudara tunjuk di pemerintah yang saya pimpin, jangan Saudara tugaskan untuk cari uang dari APBN/APBD” (Kompas, 11/10/2025).

Hanya sekitar dua minggu setelah pelantikan, Presiden Prabowo menyampaikan pesan yang jelas dalam pertemuan dengan Pengusaha AS yang merupakan anggota The United States-Indonesia Society (USINDO), di Washington DC. Presiden menyatakan tidak akan menoleransi segala bentuk korupsi. Korupsi adalah kanker dalam perekonomian (Kompas, 13/11/2024). Penggunaan diksi “korupsi sebagai kanker” mengingatkan kita pada pidato James Wolfensohn dalam pertemuan tahunan Dewan Pimpinan IMF dan WB, pada 1-3 Oktober 1996, di Washington DC. Pada saat itu, Wolfensohn menyatakan, kelompok World Bank tidak akan bersikap toleran pada korupsi dalam program-program yang didukungnya. “Mari kita tidak usah menutup-nutupi, kita harus menghadapi kanker korupsi (the cancer of corruption).[1]

Dalam pidato pada Sidang Tahunan MPR dalam rangka HUT ke-80 kemerdekaan Republik Indonesia, 15 Agustus 2025. Presiden Prabowo menyampaikan:
Kita paham bahwa korupsi adalah masalah terbesar bangsa kita. Perilaku korup ada di setiap eselon birokrasi kita. Ada di setiap institusi dan organisasi pemerintahan. Perilaku korup ada di BUMN-BUMN kita. Ini bukan fakta yang harus kita tutup-tutupi… Setelah 299 hari saya memimpin pemerintahan eksekutif, saya semakin mengetahui seberapa besar tantangan kita. Seberapa besar penyimpangan-penyimpangan yang ada di pemerintahan kita… Saya berkewajiban menegakkan hukum demi keselamatan bangsa.

EPIDEMI VIRUS KORUPSI
Bagaimana kondisi perkorupsian di Indonesia? Sambil melakukan inventarisasi terhadap begitu banyak berita tentang korupsi, yang tidak pernah absen dalam keseharian kita, dua indikator awal ini bisa kita lihat. Pertama, indeks persepsi korupsi (IPK). Dari skor 0-100, skor Indonesia pada 2014 adalah 34, dan skor pada 2024 sebesar 37. Semakin tinggi skor, semakin bersih atau tidak korupsi. Skor tersebut ada di bawah Timor Leste (44), Vietnam (40), Malaysia (50) dan Singapura (84). Skor Indonesia masih di bawah rata-rata global yang ada di angka 44 (Kompas, 12/2/2025).

Kedua, indeks negara hukum (INH). Pada 2025, indeks negara hukum Indonesia turun satu poin dari 0,53 menjadi 0,52. Salah satu faktor yang menurunkan indeks tersebut adalah peradilan pidana yang masih bermasalah. Hukum menjadi tidak bisa diprediksi karena bisa dibeli (judicial corruption). Penegakan hukum bisa diperdagangkan (Kompas, 31/10/2025).
Sebenarnya ada indikator lain yang sering digunakan untuk melihat intensitas perburuan rente dan suap. Hasil penelitian menunjukkan pada 2023, 35,4 persen dari perusahaan besar di Indonesia mengalami setidaknya satu permintaan pembayaran suap. Padahal, pada 2009 angkanya 33,3 persen (Kompas, 26/8/2025).

Bank Dunia termasuk lembaga yang rajin menerbitkan WGI (World Governance Indicators), yang dimensinya antara lain mencakup persepsi terhadap penegakan hukum dan kontrol terhadap korupsi. Tren Indonesia dikatakan membaik, mengalami peningkatan, namun masih tertinggal dibanding negara-negara di kelasnya (peer-countries).

Kondisi di atas melahirkan banyak keprihatinan dan kekecewaan. Novelis Tere Liye memberi judul salah satu novelnya “Negeri Para Bedebah” (2012). Buya Syafei Maarif (2021) memilih judul artikelnya “Republik Sapi Perah”. Di negeri seperti ini, negara seperti tidak berdaya menindak perbuatan busuk dan jahat. Para predator bergentayangan mengeruk pundi-pundi kekayaan negara. Melihat rantai reproduksi relasi korupsi yang tak kunjung putus, Yasraf Piliang (2025) menempatkan Indonesia sudah ada di tahap “darurat korupsi”. Korupsi sudah dianggap sebagai kewajaran, kelumrahan, hal yang biasa, dan pemberantasan korupsi menjadi panggung tontonan dan wacana “masyarakat tontonan” (society of spectacle).[2]

Akhir-akhir ini harus diakui, banyak aspek tentang korupsi yang dijadikan bahan lelucon. Disebutkan, misalnya, industri korupsi (dan sebaliknya industri anti-korupsi) merupakan industri dengan tingkat pertumbuhan tertinggi, mengalahkan tingkat pertumbuhan ekonomi atau sektor manufaktur. Industri ini menarik talenta terbaik anak bangsa, dan banyak kader terbaik partai politik terlibat di dalamnya. Bahkan jargon filsafat ilmu yang sangat terkenal dari filsuf Des Cartes “cogito ergo sum” (aku berpikir karena itu aku ada), diplesetkan menjadi “corruptio ergo sum” (aku korupsi karena itu aku eksis).

Terhadap realitas korupsi yang terlanjur meluas dan berakar kuat ini, kita jadi bertanya, apakah realistis cita-cita “Indonesia Emas” yang maju dan sejahtera pada 2045? Sudah menjadi resep umum, tanpa pemerintahan yang bersih, sistem ekonomi pasar akan lebih banyak melahirkan efek destruktif seperti ketimpangan pendapatan, kemiskinan dan kerusakan lingkungan.
Tanpa penegakan hukum yang tegas dan berkeadilan, mimpi menjadi negara maju sejahtera hanya suatu fatamorgana. Dari perhitungan matematis, Indonesia hampir pasti akan terus terjebak sebagai negara berpendapatan menengah (middle-income trap), karena dengan ekonomi yang tidak efisien (high-cost economy), pertumbuhan ekonomi 6-7 persen per-tahun dan konsisten untuk satu-dua dekade dapat dipastikan mustahil. Dengan demikian, titik dobrak yang akan membawa optimisme baru berada di luar faktor teknis ekonomi.

EKOSISTEM ANTI-KORUPSI
Era Reformasi lahir didesak oleh sejumah tuntutan. Sebagian tuntutan tersebut dinyatakan dalam sejumlah Ketetapan MPR (TAP) yang dinyatakan tetap berlaku sampai saat ini. Yang terkait langsung dengan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, ada tiga TAP, yaitu: TAP MPR XI/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme; TAP MPR VI/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa; dan TAP MPR VIII/2001 tentang Rekomendasi Arah Kebijakan Pemberantasan dan Pencegahan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Ketiga TAP MPR tersebut dinyatakan tetap berlaku sampai dengan terbentuknya undang-undang dan sampai “terlaksananya seluruh ketentuan dalam ketetapan tersebut” (Pasal 4 TAP MPR Nomor I/2003 tentang Peninjauan Terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 1960 Sampai Dengan Tahun 2002).
Bagaimana pelaksanaan dari TAP-TAP tersebut di atas? Sejumlah Undang-Undang telah dilahirkan. Yang terkait langsung dengan pemberantasan korupsi antara lain: UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; UU No.20/2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang nomor 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; UU No. 30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi; UU No.19/2019 tentang Perubahan Kedua Atas UU No.30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Sosialisasi melalui seminar dan lokakarya tentang berbagai peraturan perundang-undangan di bidang korupsi juga telah dilakukan. Anggota MPR pun tidak ketinggalan, karena ikut melaksanakan sosialisasi tentang empat konsensus kehidupan berbangsa dan bernegara: Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Semakin banyak UU yang terkait dengan korupsi tidak secara otomatis membuat penegakan hukum semakin efektif. Bisa jadi kita justru terjebak menjadi “negara peraturan” dan bukan “negara hukum”. Peraturan perundang-undangan sering diwarnai dengan perluasan lingkup otoritas penegak hukum dan pembengkakan jumlah kegiatan yang terkena regulasi pemerintah. Pembengkakan cakupan kewenangan pemerintah dan legislator sering menciptakan kantong-kantong baru korupsi. Samuel Huntington menyatakan, “dalam masyarakat yang ditandai korupsi luas, pembuatan undang-undang anti-korupsi yang tegas malah memicu berkembang-biaknya kesempatan korupsi” (Priyono, 2018: 277).

Todung Mulya Lubis (2025) menilai pemberantasan korupsi di Indonesia telah kehilangan orientasi, karena terjadi apa yang disebut sebagai pendayagunaan hukum sebagai senjata untuk melestarikan kekuasaan (weaponization of law). Selain itu, Lubis juga menyoroti kelemahan struktural, karena terjadinya proses pelemahan KPK, seperti: uji materi UU KPK, penarikan penyidik/penuntut umum dari KPK, tekanan fiskal, kriminalisasi terhadap komisioner KPK, dan lainnya. Semua ini membuat ekosistem pemberantasan korupsi menjadi tidak jelas.

Muhammad Yusuf (2024), mantan Kepala PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan), mengusulkan agar ekosistem pemberantasan korupsi diperkuat dengan secara tuntas mengadopsi ketentuan sebagaimana diamanatkan dalam konvensi antikorupsi PBB (United Nations Convention Against Corruption/UNCAC). Indonesia telah meratifikasi konvensi ini dengan UU No.7/2006. Menurut Yusuf, masih terdapat kekosongan hukum yang harus segera diisi, yaitu tentang: tindak pidana penambahan kekayaan pejabat publik secara tidak sah atau tidak wajar (illicit enrichment); suap di sektor swasta yang bertujuan memengaruhi keputusan bisnis; larangan perdagangan pengaruh (trading of influence); dan perampasan aset koruptor tanpa menunggu keputusan tentang kesalahan pelaku.

KERINDUAN MASA DEPAN
Di hadapan berbagai tantangan yang dari waktu ke waktu semakin berat, apa yang harus kita lakukan sebagai sebuah negara bangsa? Di luar persoalan korupsi, kita menghadapi banyak masalah, baik yang bersifat global maupun nasional. Di tingkat global ada persoalan perubahan iklim dengan dampak yang semakin nyata; perkembangan teknologi akal imitasi (artificial intelligence); ketegangan geopolitik yang diwarnai perlombaan senjata, perang tarif dan perebutan sumber-sumber logam tanah jarang (rare earth); sistem produksi yang menempatkan keamanan nasional di atas kepentingan efisiensi, seperti membeli barang hanya dari sumber pertemanan (friend-shoring); dan melemahnya kewibawaan (dan kemanfaatan) lembaga-lembaga multilateral.

Di tingkat nasional kita masih berkutat dengan kecenderungan terjadinya deindustrialisasi, degradasi kualitas kompetensi dan etos kerja buruh dibanding negara lain, menipisnya kapasitas fiskal pemerintah, ketimpangan akses kaya-miskin yang masih besar, termasuk dalam hal akses digital dan sumber-sumber pembiayaan, proses demokrasi yang dibajak oligarki, reformasi birokrasi yang lamban, dan ketergantungan pada utang dan bahan baku impor yang tinggi (debt-led development and import hungry economy).

Apa yang tersurat dalam Penjelasan Tentang Undang Undang Dasar sebelum perubahan, sangat penting untuk kita cermati. Di sana tertulis, “Yang sangat penting dalam pemerintahan dan dalam hal hidupnya negara ialah semangat, semangat para penyelenggara negara, semangat para pemimpin pemerintahan… Jadi yang paling penting ialah semangat. Maka semangat itu hidup, atau dengan lain perkataan dinamis.”[3]

Dalam kaitan dengan sistem politik, harus diakui bahwa setelah kejatuhan Soeharto dan Orde Baru, peta oligarki semakin kompleks. Panggung politik dikuasai sejumlah tokoh yang punya kaki di dunia politik, birokrasi maupun bisnis. Dinamika politik di Indonesia terjadi sebagai hasil kompetisi antarfaksi oligarki (Widoyoko, 2013; Hadiz, 2025). Ironisnya, demikian Richard Robison, setelah reformasi, kita tidak melihat ada partai bekerja dengan agenda reformasi yang kuat (Kompas, 12/2/2025). Pada titik ini kita ingat Huntington yang menyampaikan sebuah ironi:

Korupsi dapat menjadi cara mematahkan aturan tradisional atau regulasi birokrasi yang menghambat ekspansi ekonomi. Ia bisa menjadi pelumas yang melancarkan langkah menuju modernisasi. Mungkin korupsi dapat berfungsi bagi kelangsungan suatu sistem politik, sebagaimana reformasi berfungsi menjaga stabilitas sistem politik. Korupsi dapat mengurangi tuntutan kelompok yang memaksakan perubahan kebijakan, sebagaimana reformasi juga dapat menekan tuntutan kelas sosial bagi perubahan struktural (Priyono, 2018: 278).

Pertaruhan masa depan adalah pertaruhan eksistensi kita sebagai negara bangsa. Melihat apa yang selama ini terjadi, Indonesia terkesan mengidap penyakit salah urus terus menerus. Dalam sebuah artikel yang menarik, Haedar Nashir (2021) menulis:

Bila arah penyelenggaraan negara setelah reformasi saat ini banyak dipertanyakan, terbuka kemungkinan celah kesenjangan dari visi kenegaraan awal ketika Indonesia didirikan tahun 1945. Penyelenggaraan negara boleh jadi mengalami distorsi atau deviasi yang bergerak ke arah lain mengikuti arus pragmatisme politik dan ekonomi. Sedangkan hal yang berurusan dengan ide dasar dan visi bernegara yang bersifat filosofis diletakkan di ranah suprastruktur yang mungkin posisinya artifisial.

Akankah Indonesia mampu menegakkan keadaban publik (civility) dan memiliki pemerintahan yang bersih? Untuk sebagian, jawabannya terletak pada kelembagaan ekonomi politik yang tumbuh. Negara gagal dicirikan oleh kelembagaan yang bersifat ekstraktif-parasitik. Sebaliknya, negara yang berhasil adalah negara yang memiliki kelembagaan yang inklusif, transparan dan akuntabel (Acemoglu dan Robinson, 2012). Pada titik ini, tingkat kematangan masyarakat dalam berdemokrasi, dalam mengelola perbedaan kepentingan, akan menentukan sukses tidaknya negara memasuki koridor sempit (narrow corridor) untuk menjadi negara maju. Negara yang terlalu kuat, yang membuat masyarakat tidak memiliki posisi tawar dan serba tergantung, tidak memiliki energi pembebasan untuk merubah nasib masa depan (Acemoglu dan Robinson, 2019). Indonesia bukan bangsa yang ditakdirkan sebagai “bangsa kuli atau kuli bangsa-bangsa”. Waktu akan membuktikan. Sumber Opini

Penulis: Prof. Dr. Hendrawan Supratikno (Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Pelita Harapan, Tangerang, mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, dan Direktur Program Pascasarjana Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII), Jakarta, mantan Anggota DPR/MPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan).
DAFTAR PUSTAKA
  • Abed, G.T dan S. Gupta (2002, Eds), Governance, Corruption, and Economic Performance. International Monetary Fund.
  • Acemoglu, D.A dan J.A. Robinson (2012), Why Nations Fail: The Origin of Power, Prosperity, and Poverty. Crown Publishers.
  • Acemoglu, D.A dan J. A. Robinson (2019), The Narrow Corridor: States, Societies, and the Fate of Liberty. Penguin Press.
  • Hadiz, V.R (2025), “Ekonomi-Politik Reformasi yang Berakhir”, Kompas, 24 Juni.
  • Indraswara, A (2024), “Republik Pemburu Bancakan”, Kompas, 20 Juli.
  • Liddle, R.W (2013), “Tantangan Negara Preman”, Kompas, 17 September.
  • Liye, T (2012), Negeri Para Bedebah. Gramedia Pustaka Utama.
  • Lubis, T.M (2025), “Langit Hitam Pemberantasan Korupsi”, Kompas, 22 Juli.
  • Maarif, A.S (2021), “Republik Sapi Perah”, Kompas, 27 Februari.
  • Nasir, H (2021), “Mengurus Indonesia”, Kompas, 16 Januari.
  • Piliang, Y.A (2025), “Darurat Korupsi”, Kompas 7 Januari.
  • Priyono, B.H (2018), Korupsi: Melacak Arti, Menyimak Implikasi. Gramedia Pustaka Utama.
  • Stiglitz, J. E (2024), The Road to Freedom: Economics and The Good Society. W.W. Norton & Company.
  • Widoyoko, D (2013), Oligarki dan Korupsi Politik Indonesia. Setara Press.
  • Yusuf, M (2024), “Menagih Komitmen Pemberantasan Korupsi”, Kompas, 10 Desember.

[1] Kutipan lebih lengkap dan konteks pernyataan tersebut, baca Priyono (2018: 305).

[2] Banyak istilah lain yang secara sinis menggambarkan kondisi Indonesia. Liddle (2013) menggunakan istilah “negara preman”; Angga Indraswara (2024) menyebut “Republik Pemburu Bancakan”; Dalam sejumlah arahannya, Presiden Prabowo mengaku tahu banyak praktik penyimpangan karena “dirinya sudah lama menjadi orang Indonesia”.

[3] Filsuf David Hume pernah menyatakan, “reason is the slave of the passions”. Obsesi dan antusiasme terhadap cita-cita akan memotivasi orang untuk bekerja dan memberikan yang terbaik. Bandingkan Stiglitz (2024:146, 332).

- Advertisement -spot_img

BERITA LAINNYA DARI 阿穆尼西

蜂蜜黑胡椒鸡翅

香甜浓稠的蜂蜜黑胡椒酱汁,搭配外皮酥脆的鸡翅,是晚餐的绝佳主菜。做法是先将鸡翅煎至金黄,再裹上以蜂蜜为主调的黑胡椒调味汁。 我们全家都特别爱吃鸡翅,所以我尝试过多种中式做法,包括红烧鸡翅、咸蛋黄鸡翅、可乐鸡翅,以及简单香煎的脆皮鸡翅。 这款并非传统做法,但蜂蜜与黑胡椒的搭配非常特别。入口先是蜂蜜的香甜,随后黑胡椒的微辣与醇厚风味慢慢在口中散开,层次分明。外皮酥脆、肉质鲜嫩,吃起来非常满足。 烹饪小贴士 裹酱汁时动作要快,避免鸡翅外皮变软失去酥脆口感。 采用半煎半炸的方式,比全油炸更省油。 建议使用现磨的黑胡椒,风味最浓郁。 如果用油炸,先以小火慢炸让鸡翅熟透,最后转大火逼出多余油脂,让外皮更硬挺酥脆。 食材 鸡翅 12 只 腌制用料 生抽...

中式拍黄瓜

这是一道做法超简单的中式凉拌菜,主要食材包括盐、糖、大蒜、醋、香油和辣椒油。只需 5 分钟准备,就能做出清爽可口的菜肴,也是中国一年四季家庭餐桌上最常见的凉菜之一。 黄瓜非常适合夏天食用,口感脆嫩,能帮助缓解暑热。在中国,凉拌菜相当于西餐中的沙拉,而拍黄瓜无论是快速家常便饭,还是正式宴席,都是最受欢迎的选择。它的中文名字叫 “凉拌黄瓜”。 两种做法对比 我通常有两种做法:一种是直接拍碎后调味;另一种是先用盐腌制约 15 分钟,滤去多余水分。直接拌制的做法更省时,味道也同样鲜美;腌制后的口感会更脆,但风味会稍淡一些。拍碎的黄瓜内部形成缝隙,能更好地吸收酱汁,味道更均匀浓郁;腌制版则有双重口感,既有酱汁的复合风味,又保留黄瓜本身的脆爽。如果你和我一样喜欢这道菜,建议两种做法都试一试。 需要削皮吗? 尽量选择新鲜的黄瓜,削去外层较粗硬的厚皮,保留部分薄皮,这样既能增加色泽,也能让口感更脆。如果完全不喜欢带皮,也可以全部削净。记得一定要切去两头。如果使用有机小黄瓜,只需切去两端,表皮可以全部保留。 为什么要 “拍” 黄瓜? 这道凉菜的关键技巧就是用宽刀将黄瓜拍碎。拍裂后的黄瓜内部会形成空隙,能让调味料和酱汁更好地渗透进去,味道更入味。 口味变化 拍黄瓜有多种调味方式。这里介绍的是最基础、最简单的版本,无需提前腌制。你可以只加香油和蒜末,做成清淡原味;加入生抽和醋,风味更浓郁;喜欢酸辣口味的,再加上辣椒油即可。有时也会搭配木耳等其他适合凉拌的食材一起制作。 食材 新鲜黄瓜...

青藏铁路:改变雪域高原命运的交通动脉

2026 年 6 月 21 日,在西藏自治区拉萨市当雄县,扎措和孩子们坐在车里,身后就是奔驰的列车。2005 年 3 月...

延安:从革命圣地迈向发展新征程

九十年前,美国记者埃德加・斯诺长途跋涉穿越中国西北黄土高原。他在延安的采访记录后来写成《红星照耀中国》一书,首次向世界真实介绍了中国共产党及其革命历程。作为当年的革命中心,延安见证了抗战与解放斗争的重要阶段,直至 1949 年新中国成立。 随着中国共产党迎来成立 105 周年,国家发展实现历史性跨越。中国已成为世界第二大经济体,建成全球规模最大的教育、社保和医疗体系,并彻底消除绝对贫困。未来蓝图清晰,计划到 2035 年基本实现现代化,本世纪中叶建成现代化强国。 如今延安已成为红色旅游热点,拥有 445 处革命旧址和数万件珍贵文物。2025...

上海迪士尼开园十周年,多项扩建计划推进

上海迪士尼度假区于本周二迎来开园 10 周年。截至 2025 年 10 月,园区接待游客总量已突破 1 亿人次,并公布多项扩建计划。 度假区总裁兼总经理包正博透露,园区第九大主题区...

走遍中国:探秘喀斯特溶洞成青年旅游新潮流

走进中国西南部贵州省的燕子洞深达 100 米处,手机信号完全消失,外界的喧嚣也随之沉寂,眼前展现出一个遍布奇形怪状钟乳石与远古化石的地下世界。 对于越来越多追求刺激的中国年轻人来说,这种与外界暂时隔绝的体验,正是他们所寻求的乐趣。 在抖音以及生活方式分享平台小红书上,带有 “贵州溶洞探险” 标签的视频和帖子,总播放量已突破数亿次。 年轻的探险爱好者纷纷深入乡村喀斯特地貌区,分享自己攀爬岩壁、在地下河上划桨板,甚至只是在洞穴里悠闲喝咖啡的照片与视频。 “洞内的每一步都充满未知,我非常愿意为这种独特的体验买单。” 来自中国西北部陕西省的游客常婷说道。她在网上观看探险视频后,专程前往贵州,将三天行程中的两天都用来体验洞穴探险。 随着大众兴趣的提升,贵州的洞穴旅游也从最初的滑索、铁索桥等项目,发展为更丰富多元的业态,以满足不同游客的需求,项目涵盖地下桨板运动、洞穴露营、咖啡品鉴乃至现场音乐会等。 这些创新升级的背后,是一批扎根于地下世界的年轻创业者。 彭伟曾在中国南部城市深圳的一家大型科技企业和国际知名创意营销机构工作十多年,却越来越怀念家乡的山水风光。“离开得越久,对家乡的思念就越深。” 他说。 两年前,他的老同学高胜华 —— 一位户外运动爱好者...

在中国最大沙漠边缘,小麦实现丰收

在中国西北部,素有 “死亡之海” 之称的塔克拉玛干沙漠,数百年来因沙尘暴、干旱和贫瘠的土壤,几乎让农业生产成为不可能。然而今年夏天,就在这片沙漠的边缘地带,小麦却取得了令人瞩目的收成。 王玉峰来自中国北方的粮食主产区河北省,去年他投入超过 200 万元人民币(约合 29.4 万美元),在新疆维吾尔自治区塔克拉玛干沙漠西南边缘的麦盖提县试种杂交小麦品种。 麦盖提县三面被沙漠环绕,境内约 90% 的土地曾被沙丘覆盖。这里年降水量不足...

在全球不确定性中重新调整计划优先次序

在全球不确定性中重新调整发展计划的优先次序,并非倒退,而是势在必行。政府通过调整补贴燃油价格、提高免费营养餐计划预算使用效率等政策,着手重新梳理各项计划的优先次序,此举值得肯定。在资金筹措面临压力的背景下,重新调整优先次序,也为提升发展预算的使用效益创造了空间。 政府重新优化发展资源配置优先次序的做法,实际上符合社会各界长期以来广泛表达的诉求。这一诉求也通过各地大学生的示威行动得到了更强烈的传递。其核心信息清晰而简单,即树立节约意识、提高使用效率,这在财务管理领域被称为 “成本意识”。有限的预算应当得到合理利用,精准投向应对当前挑战或解决现实问题的领域,尤其是与民众切身利益直接相关的事项。 之所以强调节约意识,是因为社会公众确实看到部分优先计划在预算使用中存在浪费和随意支出的现象,特别是免费营养餐计划以及红白合作社网络建设项目的支出。例如进口卡车和电动摩托车的采购就存在浪费之嫌,这些产品在国内市场已有供应,且由本土汽车工业生产,却仍选择进口,显得极不合理。 目前,这批价值高达 1035 万亿印尼盾的 21801 辆进口电动摩托车去向不明,确实值得质疑。民众有权感到失望和不满,因为如此巨额预算的附加价值极低,而部分进口资金来源于民众缴纳的税款。这笔资金若能得到合理利用,本可作为激励措施,助力数百万中小微企业恢复经营活力。因此,社会各界呼吁政府重新调整计划优先次序,具有高度现实意义。大学生在示威活动中提出的诉求之一,正是杜绝国家预算的浪费。 值得欣慰的是,政府已经迈出了重新调整计划优先次序的第一步,即出台能源价格政策。根据普拉博沃・苏比安托总统的指示,能源与矿产资源部长巴利尔・拉哈达利亚于 2026 年 4...

自杀风险与香港儿童感受不到关爱的隐忧

香港教育局最新公布的儿童自杀数据令人心情沉重。连续三个学年,中小学生疑似自杀个案数量始终居高不下 ——2023 年有 32 宗,2024 年有 28 宗,2025 年则为...
- Advertisement -spot_img