在送别知名人士埃迪・萨德利的场合上,陈永辉现场朗诵了一首题为《埃迪・萨德利:风雨无阻的情谊》的诗作,以此表达对逝者的追思与敬意。
这首诗由埃迪・萨德利的挚友 —— 诗人普图・奥卡・苏坎塔专门创作,字里行间满是二人历经岁月考验、不受风雨寒暑影响的深厚情谊。陈永辉以真挚的情感、沉稳的语调完成朗诵,让在场众人得以透过文字,重温埃迪・萨德利生前的品格与他和友人之间珍贵的情感联结。
普图・奥卡・苏坎塔的诗作情感饱满、意象真切,既饱含对友人离去的不舍,也赞颂了这份跨越时光、始终如一的真挚友谊,为这场告别仪式增添了一份深沉而动人的诗意。
献给艾迪·萨德利
友谊,不因风雨与烈日而褪色
我们相识于雅加达芒加勿刹(Mangga Besar)的一所房子里,
那是二十世纪七十年代,
当“新秩序”政权正凶猛横行,
践踏着人性的岁月。
那是我们第一次相见,
这份情谊,
一直延续到他生命最后的一次呼吸。
他给予的是理性的勇气;
他向我伸出援手,
把我,
以及许多我所认识的人,
从漆黑的泥沼中拉了出来,
也帮助我们渡过人生惊涛骇浪。
有时,
艾迪·萨德利像一根鞭子,
催人奋进;
有时,
他又像盲人的白手杖,
给予方向与依靠;
有时,
他更像一道光,
照亮前路。
艾迪兄啊,
你是一位耕耘土地、播撒种子的农夫;
到了收获的季节,
你总是邀请众人共享丰收。
一路走好,艾迪兄。
愿你在新的世界里,
永享安乐。
——普图·奥卡·苏坎塔
2026年7月19日,雅加达·拉瓦芒贡(Rawamangun)
Welli Martani (Chen Yong Hui) Membacakan Puisi Karya Putu Oka Sukanta dalam Pelepasan Jenazah Eddy Sadeli
Dalam acara pelepasan jenazah tokoh Eddy Sadeli, Welli Martani (Chen Yong Hui) secara langsung membacakan sebuah puisi berjudul Eddy Sadeli: Persahabatan yang Tak Lekang oleh Hujan dan Panas, sebagai wujud kenangan dan penghormatan kepada almarhum.

Puisi tersebut diciptakan khusus oleh sahabat dekat Eddy Sadeli, yaitu penyair Putu Oka Sukanta. Setiap barisnya menggambarkan persahabatan mendalam yang terjalin selama bertahun-tahun, yang tak tergoyahkan meski diterpa hujan maupun panas. Dengan perasaan yang tulus dan nada yang tenang, Chen Yong Hui membacakan puisi tersebut, sehingga seluruh yang hadir dapat mengenang kembali karakter almarhum serta ikatan persahabatan yang indah dan abadi yang ia miliki dengan orang-orang terdekatnya.
Puisi karya Putu Oka Sukanta ini penuh dengan perasaan yang tulus dan gambaran yang menyentuh hati. Di dalamnya terselip rasa kehilangan yang mendalam atas kepergian sahabat, sekaligus memuji persahabatan yang tak berubah oleh waktu. Hal ini memberikan kesan yang mendalam dan penuh makna pada acara pelepasan tersebut.

EDDY SADELI
Persahabatan tak lekang oleh hujan dan panas
Bertemu di salah satu rumah,
Di Mangga Besar Jakarta
Saat sepatu Orde Baru sedang beringas
Menindas Kemanusiaan di tahun 1970an
Itu saat pertama kali berjumpa
Dan berlanjut sampai hembusan nafas terakhirnya.
Ia menawarkan keberanian yang rasional,
Ia mengulurkan tangan,
Menarik keluar aku,
dan banyak orang yang aku tahu,
Dari rawa rawa hitam gelap
Maupun hempasan gelombang kehidupan.
Terkadang ia, Eddy Sadeli, hadir bagai cemeti
Terkadang hadir bagai Tongkat-putih orang buta
Terkadang bagai cahaya.
Ia, bung Eddy Sadeli
Petani yang meluku dan menabur benih,
Saat panen mengundang banyak orang.
Selamat jalan bung Eddy
Berbahagialah di Dunia Baru.*
(Putu Oka Sukanta,
Rawamangun,19 Juli 2026).


