评论 (Opini)全面从严治党的制度逻辑

全面从严治党的制度逻辑

有观点认为,中国经济的持续增长是中国共产党领导国家发展、巩固民族复兴根基的 “硬实力”,但实际上,作风的持续转变才是凝聚党心民心、巩固执政基础更为深层、更为持久的 “软实力根基”。
2012 年,中共中央出台八项规定,作为规范行为准则,旨在遏制特权、反对官僚主义与腐败,推动党更加贴近人民。这一规定在夯实 “软实力根基” 方面发挥了关键作用。
八项规定如何从一项简单的取信于民的举措,发展成为能够塑造社会风气的制度力量?作风的转变又如何推动中国政治生态与政绩观发生深刻重塑?
其内在逻辑在于从解决突出问题转向树立正确导向 —— 这是一套依靠党的自我革命、跳出历史兴衰周期率的系统性治理路径。
八项规定是新时代全面从严治党的标志性举措。自 2012 年党的十八大以来,党中央从中央政治局自身做起,通过制定和实施这一规定,以上率下立规矩、明准则。这不仅针对作风积弊,更是对人民作出的庄严承诺。
十年来,制度监督不断强化。八项规定剑指曾经被部分人视为权力象征的铺张宴请、迎来送往、排场仪式、随行人员、冗余会议以及特殊待遇等现象,其意义早已超越制度条文本身,逐步升华为引导社会风气与公共伦理向上向善的政治准则,最终实现了从行为约束到长期习惯的深刻转变。
作风与社会风气的转变,推动了政治生态与政绩观的深刻重塑。随着形式主义与官僚主义得到纠治,干部履职的评判标准也随之调整。
衡量政绩的重心从单纯追求经济增长,转向更加重视民生改善与生态保护;从看重表面成果,转向追求经得起历史检验与人民评判的实绩实效。
由此,在严格标准下,正确的政绩观得以确立。风清气正的政治环境,正源于坚决纠正错误政绩观、大力倡导务实担当的导向。从解决具体问题到树立正确价值理念,全面从严治党的根本思路在于标本兼治、破立并举。
一方面,对各类违纪违法行为一查到底、严肃处理;对脱离实际、好大喜功所滋生的腐败问题坚持零容忍,以严明纪律铲除其滋生土壤。另一方面,建立科学精准的考核体系,完善高质量发展综合评价指标,提高民生保障、生态保护与总体安全等潜在绩效的权重。
同时,落实 “三个区分开来” 原则:即把在推进改革中因先行先试出现的失误错误,同明知故犯的违纪违法行为区分开来;把尚无明确限制的探索性试验中的失误错误,同明令禁止后依然我行我素的违纪违法行为区分开来;把为推动发展的无意过失,同为谋取私利的违纪违法行为区分开来。健全容错纠错机制,激发干部服务人民的内在动力。
中共中央总书记习近平在中央理论刊物《求是》发表文章指出:“要坚持凭实绩用干部、以贡献论高低、以党和人民的认可作为重要依据。”
这背后体现的正是中国共产党跳出历史周期率的制度逻辑。全面从严治党是一场深刻的自我革命。通过完善党员干部行为规范、规范公共权力运行,执政党实现了自我净化、自我完善、自我革新、自我提高。
在中国历史上,战国时期秦国著名改革家商鞅立木赏金,以信守承诺赢得民众信任,这一典故长期以来被视为执政公信力的重要象征。
今天,这一精神在全面从严治党的实践中得到新的体现。从最初以实际行动取信于民,到逐步将廉洁自律转化为社会共识,再通过制度建设强化管党治党。这一过程不仅重塑了党的自身面貌,也成为新时代中国发展与治理的重要推动力。
应当承认,作风与政治理念的改进是一项长期任务。全面从严治党,将始终伴随中国建设强国、实现民族复兴的整个历史进程。
作者:
高磊
,中国国际电视台特约评论员,对外经济贸易大学马克思主义学院副教授,习近平对外开放思想研究中心、全球化与中国现代化研究院研究员;洪元和,对外经济贸易大学马克思主义学院硕士研究生。本文为作者个人观点,不代表中国国际电视台立场。

Kode Kelembagaan dalam Menerapkan Pengelolaan Partai yang Ketat dan Menyeluruh

Ada pandangan yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang berkelanjutan merupakan “kekuatan nyata” Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam memimpin pembangunan nasional serta memperkokoh dasar kebangkitan bangsa. Namun sesungguhnya, perubahan cara kerja dan sikap yang terus dilakukan menjadi “dasar kekuatan lunak” yang lebih mendalam dan bertahan lama untuk menyatukan seluruh unsur di dalam Partai dan rakyat, serta memperkuat fondasi penyelenggaraan pemerintahan.

Pada tahun 2012, pimpinan pusat PKT mengeluarkan Peraturan Delapan Poin, yaitu seperangkat aturan perilaku guna menekan hak-hak istimewa pejabat, memerangi birokrasi dan korupsi, serta mendekatkan hubungan Partai dengan rakyat. Langkah ini memegang peranan penting dalam memperkokoh “dasar kekuatan lunak” tersebut.

Bagaimana Peraturan Delapan Poin berkembang dari sekadar upaya membangun kepercayaan menjadi kekuatan kelembagaan yang mampu membentuk norma sosial? Bagaimana perubahan cara kerja ini mendorong perombakan mendalam terhadap ekosistem politik dan cara pandang terhadap pencapaian kinerja politik?

Logika mendasarnya terletak pada pergeseran fokus dari sekadar menangani masalah yang tampak menjadi membangun pedoman yang benar — sebuah pendekatan sistemik yang mengandalkan proses perubahan mendasar dalam tubuh PKT agar dapat melepaskan diri dari siklus sejarah yang berulang antara kebangkitan dan keruntuhan.

Peraturan Delapan Poin menjadi ciri khas pengelolaan Partai yang ketat di era baru. Sejak Kongres Nasional ke-18 PKT pada tahun 2012, Komite Sentral telah menangani masalah mendasar dengan merumuskan dan menerapkan peraturan ini, dimulai dari Biro Politik Komite Sentral PKT, guna memberikan teladan dan menetapkan standar yang jelas. Langkah ini tidak hanya menyasar masalah-masalah lama dalam cara kerja, tetapi juga merupakan janji resmi yang diberikan kepada rakyat.

Selama satu dekade terakhir, pengawasan berbasis lembaga semakin diperkuat. Peraturan ini menindak tegas pesta makan mewah, acara seremonial yang berlebihan, sikap angkuh, pengawalan yang tidak perlu, rapat yang tidak mendesak, serta fasilitas istimewa yang selama ini dianggap sebagian pihak sebagai lambang kekuasaan. Ketentuan tersebut telah melampaui sekadar aturan tertulis; ia berkembang menjadi prinsip politik yang mengarahkan perilaku sosial dan nilai publik ke arah yang positif dan luhur, sehingga pada akhirnya kebiasaan baru ini berubah menjadi tata laku yang tetap terjaga.

Perubahan cara kerja dan tata laku masyarakat turut mendorong perombakan mendalam terhadap ekosistem politik dan cara pandang mengenai kinerja politik. Seiring dengan berkurangnya sikap seremonial kosong dan birokrasi yang berbelit, tolok ukur kinerja pejabat pun mengalami pergeseran.

Fokus pengukuran keberhasilan tidak lagi hanya berpusat pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto semata, melainkan lebih mengutamakan peningkatan kesejahteraan rakyat dan pelestarian lingkungan hidup; tidak lagi hanya menilai hasil yang terlihat secara langsung, melainkan lebih menghargai capaian nyata yang dapat diuji kebenarannya oleh sejarah dan dinilai oleh masyarakat.

Dengan demikian, terbentuklah cara pandang yang tepat terhadap kinerja politik di bawah standar yang ketat. Lingkungan politik yang lebih sehat muncul justru karena adanya koreksi tegas terhadap pandangan yang salah mengenai keberhasilan kerja, serta dorongan kuat untuk melaksanakan tugas dengan tanggung jawab dan hasil yang nyata. Dari menangani masalah yang terlihat hingga membangun nilai yang benar, tujuan pokok dari penerapan pengelolaan Partai yang ketat dan menyeluruh adalah mengatasi masalah baik dari gejala maupun akarnya, sekaligus meninggalkan kebiasaan lama dan membangun budaya baru yang lebih baik.

Di satu sisi, segala tindakan korupsi dan pelanggaran disiplin ditindak secara adil tanpa pandang bulu; sikap tidak mentoleransi korupsi yang muncul akibat target kinerja yang tidak realistis diterapkan dengan tegas, serta aturan disiplin yang ketat diberlakukan untuk memutus rantai penyebabnya. Di sisi lain, sistem penilaian kinerja yang lebih ilmiah dan terukur diterapkan, lengkap dengan indikator pembangunan berkualitas yang lebih lengkap, serta memberikan bobot penilaian yang lebih besar pada aspek kesejahteraan rakyat, pelestarian lingkungan, dan keamanan nasional secara menyeluruh.

Selain itu, diterapkan pula prinsip “tiga pembedaan”, yaitu: membedakan antara kesalahan yang terjadi karena kurangnya pengalaman dalam uji coba kebijakan baru dengan pelanggaran disiplin dan hukum yang dilakukan secara sengaja; membedakan antara kesalahan yang terjadi dalam percobaan yang belum ada larangan tegas dari pihak berwenang dengan pelanggaran yang dilakukan secara sengaja meski sudah ada larangan; serta membedakan antara kesalahan yang tidak disengaja dalam rangka mendorong pembangunan dengan pelanggaran disiplin dan hukum demi keuntungan pribadi. Bersamaan dengan itu, mekanisme toleransi dan perbaikan kesalahan juga disempurnakan, guna membangkitkan semangat dan motivasi para pejabat dalam melayani rakyat dengan lebih baik.

Dalam salah satu tulisannya yang dimuat di majalah resmi Partai, Qiushi, Sekretaris Jenderal Komite Sentral PKT Xi Jinping menyatakan: “Pemilihan dan promosi pejabat harus didasarkan pada kinerja nyata, capaian yang dihasilkan, serta apakah pekerjaan yang dilakukan mendapatkan pengakuan baik dari dalam Partai maupun dari rakyat.”

Di balik prinsip ini terdapat kode kelembagaan yang memungkinkan PKT melampaui siklus sejarah kebangkitan dan keruntuhan. Menerapkan pengelolaan Partai yang ketat dan menyeluruh merupakan proses perubahan mendasar yang dilakukan oleh Partai itu sendiri. Dengan menyempurnakan norma perilaku bagi anggota dan pejabatnya, serta mengatur cara penggunaan kekuasaan negara, Partai mencapai tujuan pemurnian diri, perbaikan kinerja, pembaruan sistem, serta peningkatan kapasitas sebagai lembaga penyelenggara negara.

Dalam sejarah Tiongkok, Shang Yang (390–338 SM), seorang pembaharu kenamaan pada masa Negara Qin pada Zaman Perang Bernegara (475–221 SM), pernah membangun kepercayaan publik dengan memenuhi janji memberikan hadiah kepada siapa pun yang berhasil memindahkan sebatang tiang kayu yang diletakkan di gerbang kota. Kisah ini telah lama menjadi gambaran penting mengenai arti kredibilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Kini, semangat tersebut mendapatkan wujud baru dalam pelaksanaan pengelolaan Partai yang ketat dan menyeluruh. Awalnya dimulai dari tekad membangun kepercayaan rakyat melalui tindakan nyata, kemudian berkembang menjadi upaya luas untuk menjadikan integritas dan kejujuran sebagai norma sosial, serta memperkuat pengelolaan Partai melalui aturan dan kelembagaan. Langkah ini tidak hanya mengubah wajah Partai itu sendiri, tetapi juga menjadi pendorong utama bagi kemajuan dan tata kelola Tiongkok di era baru.

Perlu diakui bahwa perbaikan cara kerja dan sikap politik merupakan proses yang terus berjalan. Hal ini akan menjadi ciri khas yang menyertai perjalanan Tiongkok dalam membangun negara yang maju dan kuat, serta mewujudkan kebangkitan bangsa.

Penulis:

Gao Lei, komentator khusus CGTN, dosen madya di Sekolah Kajian Marxisme, Pusat Penelitian Pemikiran Xi Jinping tentang Keterbukaan, Lembaga Penelitian Globalisasi dan Modernisasi Tiongkok, Universitas Ekonomi dan Perdagangan Internasional, Beijing. Hong Yuanhe, mahasiswa pascasarjana di Sekolah Kajian Marxisme, Universitas Ekonomi dan Perdagangan Internasional, Beijing. Artikel ini mencerminkan pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili pendapat resmi CGTN. Sumber Opini
- Advertisement -spot_img

BERITA LAINNYA DARI 阿穆尼西

Polda Sulut Dukung Penuh Program Gubernur Terkait WPR dan IPR untuk Kesejahteraan Masyarakat

MANADO, AMUNISI.CO.ID — Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara menyatakan...

UKIT Gelar Wisuda 725 Lulusan Tahun 2026, Rektor Pesankan Awal Pengabdian bagi Bangsa dan Negara

MANADO, AMUNISI.CO.ID — Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) menggelar...

Reuni Paguanama 2026, Bertemu Cucu Kelas dan Berkunjung ke Rumah Anggota yang Sakit

MALANG, AMUNISI.CO.ID — Reuni Paguyuban Alumni SMA Negeri 3...

Fakultas Kedokteran Unika De La Salle Resmi Dibuka, Jadi Kado Spesial HUT ke-62 Provinsi Sulut

MANADO, AMUNISI.CO.ID — Program Studi/Fakultas Kedokteran Universitas Katolik (Unika)...

Reuni Paguanama di Malang 22 s/d 24 September 2026 Diikuti Lebih dari 40 Peserta

JAKARTA, AMUNISI.CO.ID — Reuni Paguyuban Alumni SMAN 3 Malang...

Gedung Baru PMI DKI Jakarta Diresmikan, Diharapkan Pelayanannya Meningkat

JAKARTA, AMUNISI.CO.ID — Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT)...

Kasatreskrim Minahasa Tenggara Iptu Teguh Said Tegaskan Media Adalah Mitra Kerja

MINAHASA TENGGARA, SULUT, AMUNISI.CO.ID — Kasatreskrim Polres Minahasa Tenggara...

Ketua Umum FORSBI Temukan Sepasang Batu Penggilingan Tebu Kuno di Kabupaten Bekasi

JAKARTA, AMUNISI.CO.ID — Ketua Umum Forum Silaturahmi Betawi Indonesia...

Brigjen Pol Yudho Hermanto Resmi Menjabat Kapolda Sulut

MANADO, AMUNISI.CO.ID — Jabatan Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Utara...
- Advertisement -spot_img