Museum Dr Soetomo di Surabaya Punya Kursi Pasien Perempuan Berpenyakit Kelamin dan Pintu Misterius

Tempat pasien wanita berpenyakit kelamin di Museum Dr.Soetomo

SURABAYA (14/9/2023), AMUNISI.CO.ID — Museum Dr Soetomo di Komplek Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Jalan Bubutan 85-87, Surabaya memang baru berumur 8 tahun pada November 2023 mendatang. Namun bulan Agustus yang lalu pengunjungnya membludak, mencapai ribuan orang.

Tercatat pada saat diadakan kegiatan pameran bersama atau Crossa Musea di Pendopo GNI tanggal 23 -25 Agustus yang lalu, pengunjung museum ini mencapai 2.211 orang, atau rata rata 737 orang perhari.

Agata, seorang edukator Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya mengungkapkan hal itu kepada Amunisi.co.id, Kamis (14/9/2023). Sebagai perbandingan katanya, hari Minggu (10/9/2023) pengunjung tercatat 51 orang, Senin (11/9/2023) tutup, Selasa (12/9/2023) hanya tiga orang dan Rabu (13/9/2023) 11 orang.

Diakuinya koleksi Museum Dr Soetomo ini ada 320-an benda cagar budaya maupun replika dan reproduksi foto-foto dokumentasi dan koleksi pribadi benda-benda memorabilia dokter pejuang ini. Dari jumlah itu yang menjadi masterpiece atau koleksi unggulan ada dua. Yaitu dua buah buku tulisan Dr Soetomo mengenai penyakit kusta tahun 1934 dan 1936, dan satunya lagi tas kerja waktu tugas belajar di Amsterdam, Negeri Belanda, tahun 1919-1923.

Tetapi di antara koleksi yang dipajang di lantai atas museum tersebut, memang kursi unik dengan berbagai kelengkapannya yang selalu ditanyakan banyak pengunjung. “Itu kursi untuk penanganan pasien perempuan berpenyakit kelamin,” jelas Agata.

Dari foto foto dokumentasi pribadi dan keluarga Dr Soetomo yang dipajang di dinding ruang pamer, berceritalah Agata, bahwa dokter tamatan STOVIA di Batavia 1911 ini adalah salah seorang pendiri organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.

Soetomo dilahirkan di Nganjuk, Jawa Timur 30 Juli 1888 dengan nama semula Soebroto. Tahun 1927 ketika bertugas di RS Zending di Blora, Jawa Tengah, dokter Ketua Boedi Oetomo itu tertarik pada perawat berkebangsaan Belanda bernama Everdina J Broering yang akhirnya dinikahinya.

Tentu saja dari lingkungan keluarga dan handai taulan kedua belah pihak tidak sedikit yang menentangnya. Namun tak mampu mencegahnya karena keputusan memang milik yang menjalaninya.

“Sayangnya sampai sang isteri meninggal dunia pasangan itu belum memiliki keturunan. Sedangkan Dr Soetomo tak menikah lagi sampai wafatnya 1938,” tutur Agata. Makamnya ada di sebelah barat sekitar 25 meter dari Pendopo GNI, yang tidak jarang diziarahi pengunjung museum.

Ini pula yang diceritakan kepada 40-an anggota Paguyuban Alumni SMA Negeri 3 Malang Angkatan ’65 (Paguanama), yang sedang bereuni tiga hari di Kota Pahlawan tersebut, saat mengunjungi museum itu Selasa (5/9/2023) yang lalu.

Sulastri dan Kun Iswari sebagai warga Surabaya dan sekitarnya juga tertarik pada koleksi ruang praktek dokter Soetomo dengan alat alat kedokteran yang serba kuno. “Termasuk kursi untuk papsmer yang juga kuno itu,” kata Sulastri.

Adrimursini peserta reuni dari Semarang dan temannya membaca sendiri narasi pada foto-foto kolase ukuran besar di tembok museum, yang bercerita tentang pengabdian Dr Soetomo dan Noni Belanda bernama Everdina di dunia kesehatan dan kemanusiaan. Dengan kisah cintanya tentu. “Mengharukan,” begitu komentar Adri setelah melihat foto isteri Dr Soetomo berada di tempat tinggi seperti sanatorium. Badannya kurus tinggi.

Apa lagi ada foto pasangan berbeda kebangsaan namun satu pengabdian itu, tertulis masa durasinya tahun 1927 -1928. Begitu singkat. Sungguh membuat hati dan nafas tersendat.

Namun Dr.Soetomo yang mendapat gelar Bapak Penggerak Nasional Indonesia itu masih melanjutkan kiprahnya 10 tahun berikutnya, sampai menutup mata tahun 1938.

Kun Iswari panitia reuni Paguanama mengaku terkesan akan kisah perjuangan pahlawan ini.
“Saya sudah pernah ke museum ini sebelumnya bersama anak cucu. Memang kita harus tahu itu,” kata Iswari

Ruang Bawah Tanah
Ada lagi yang menarik perhatian di museum ini. Yaitu pintu besar berwarna telor asin di bawah bordes di sisi kiri tangga ke atas, yang selalu dalam keadaan tertutup. “Diperkirakan di dalamnya itu ada ruang di bawah tanah atau bunker. Kini sedang dalam penelitian dan penyelidikan,” kata Agata.

Namun H Abu Galih seorang pengamat permuseuman, sejarah budaya dan pariwisata di Jakarta berpendapat bahwa hal biasa bila sebuah museum memiliki bunker. Untuk Jakarta contohnya, Museum Sejarah Jakarta di Kota Tua, Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat dan Museum Taman Arkeologi Onrust di Kepulauan Seribu, masing masing ada bunkernya. Dari semua itu, penulis baru berpengalaman masuk ke bunker Museum Sejarah Jakarta dan bunker di Pulau Onrust.

Sementara Wakil Ketua Yayasan GNI Ir Jossi Kantijoso S Djatikusumo secara terpisah kemarin menambahkan, untuk mendirikan Gedung Nasional Indonesia di Jalan Bubutan Nomor 85-87, pada 1930 Dr Soetomo bersama empat teman seperjuangan berpatungan 10.000 gulden perorang untuk membeli lahan tersebut seluas sekitar 10 hektare. Terkumpullah dana 50.000 Gulden dari lima orang penggagas GNI yaitu Dr Soetomo, RP Soenarjo Gondokoekoemo, RMH Soejono, R Soenjoto, dan Achmad Djais.

“R Soendjoto itu eyang kakungku dari ibu,” kata Jossie Kantijoso. Sementara Achmad Djais adalah penjahit kondang Surabaya di zaman itu.

Untuk pembangunan gedungnya diadakanlah Pasar Derma yang pembukaannya dilakukan Dr Soetomo. Saat itu diumumkan pihaknya menerima sumbangan dari seorang dokter Indonesia yang tak mau disebut namanya sebesar 30.000 gulden. Maka tahun 1932 mulai dibangun dan tahun 1933 berdirilah Gedung Nasional Indonesia dengan bangunan utamanya berbentuk pendopo yang cukup besar beratap genting bentuk piramida.

Sejak itu kaum pergerakan secara periodik mengadakan diskusi masalah pendidikan kebangsaan di gedung ini. Begitu pula rapat rapat penting para pemuda.

Museum Dr Soetomo merupakan gedung bertingkat di sebelah selatan pendopo tadi. Ada gedung bertingkat di sebelah baratnya yang semula untuk sekolah STM. Namun karena kurang peminat maka sebagian diberikan untuk kantor majalah berbahasa Jawa, Panyebar Semangat, yang masih eksis sampai sekarang.

Kantijoso sebagai Wakil Ketua Yayasan sejak 23 Agustus 2023 ditugaskan oleh Ketua Yayasan GNI yang sekarang yaitu Prof Dr Moersintowarti Narendra sebagai pengawas kompleks gedung bersejarah tersebut. Sekretaris Yayasan GNI saat ini Dra Trisutji Indrayanti.

Panyebar Semangat
Menurut Agata majalah Panjebar Semangat yang pertama kali terbit tahun 1933 memang masih berkantor redaksi Kompleks GNI Jl Bubutan 85- 87. “Jadi majalah bahasa Jawa ini sudah 90 tahun masih eksis hingga sekarang,” ujarnya. Tampak beberapa eksemplar majalah Panjebar Semangat ditaruh di tempat brosur dan leaflet tentang beberapa museum dan monumen di Surabaya.

Mengenai majalah Panyebar Semangat seorang warga Surabaya Selatan bernama Pudjiono (70) mengaku ketika masih sekolah SMPK di Blora tahun 1960-1963 menjadi loper (pengantar) Panyebar Semangat.

“Pelanggannya cukup banyak dari guru guru SMP-ku. Mungkin mereka kasihan ya?” kata Pudji.
“Yang menjadi agen PS mBah Danudihardjo dan berhenti sekitar tahun 1964/1965 setelah pindah ke Semarang,” tambahnya.

Adik sepupu Pudjiono bernama Trihananingsih waktu masih SD Klas 5 di Singosari, Malang juga gemar membaca Panyebar Semangat. “Waktu itu tahun 1960-an. Yang saya suka rubrik Opo Tumon, isinya aneh aneh dan cergam atau komik ceritanya Panthom dan Mas Klombrot bahasa Jawa,” pungkas Trihananingsih. (Suprihardjo).

Total Views: 1656

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *