Penggiat sejarah serukan agar penataan Kota Tua tidak menghapus jejak sejarah, sejalan dengan semangat Jakarta sebagai Kota Global dan Berbudaya.
Warga dan Penggiat Sejarah Soroti Hilangnya Jejak Asli Kota Tua
Jakarta (24/6/2025), AMUNISI.CO.ID — Proyek revitalisasi dan penataan kawasan Kota Tua Jakarta yang rampung pada 2022 menuai sorotan dari berbagai pihak, terutama warga lokal dan pegiat sejarah. Meskipun bertujuan menjadikan Kota Tua sebagai ikon Kota Global dan Berbudaya, beberapa perubahan yang terjadi dinilai menghilangkan identitas asli kawasan bersejarah tersebut.
Hari, seorang warga yang telah lama tinggal di sekitar Kota Tua, menuturkan kekecewaannya atas hilangnya fungsi jalan-jalan bersejarah yang kini telah dialihfungsikan menjadi area pedestrian. “Kami sejak kecil terbiasa melihat Jalan Ketumbar, Jalan Poskota, Jalan Lada, Jalan Pintu Besar Utara, dan Jalan Kali Besar Timur sebagai jalan alternatif. Sekarang tidak hanya fungsinya yang hilang, nama-namanya pun tak terlihat lagi,” ungkapnya.
Jalan Bersejarah Berubah Jadi Pedestrian, Informasi Identitas Hilang
Jalan-jalan yang disebutkan Hari memang bukan sembarang jalur. Banyak di antaranya telah eksis sejak zaman VOC, bahkan diduga sudah ada sejak masa Jayakarta sebelum 1619. Warga menilai penghapusan nama jalan tanpa penjelasan kontekstual justru mengaburkan nilai sejarah dari kawasan tersebut, yang selama ini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
“Kami berharap pengunjung datang untuk mengenal sejarah, bukan hanya sekadar berswafoto di bangunan tua yang telah kehilangan makna,” lanjut Hari.
Firman: Kota Tua Adalah Miniatur Indonesia
Dalam wawancara khusus bersama awak media PokjawarKotu, seorang tokoh penggiat sejarah Kota Tua, Firman, menyampaikan pandangannya tentang pentingnya menjaga memori sejarah. “Revitalisasi menuju Kota Global dan Berbudaya itu bagus. Tapi, jangan sampai identitas asli Kota Tua terhapus hanya karena tampilan baru,” ujar Firman saat ditemui di Jalan Lada Fatahillah, Minggu (22/6).
Menurut Firman, Kota Tua adalah miniatur Indonesia yang kaya akan keragaman. “Sejak masa kerajaan, Portugis, dan Belanda, kawasan ini telah dihuni oleh etnis Cina, India, Arab, Eropa, dan berbagai suku Indonesia. Ini adalah simbol keberagaman kita,” tegasnya.
Kota Tua Sebagai Pusat Edukasi dan Memori Kolektif Bangsa
Firman juga menegaskan bahwa bangunan-bangunan tua dan jalan bersejarah di kawasan Kota Tua harus dijadikan sebagai bagian dari pusat edukasi nasional dan warisan budaya. “Gedung-gedung tua jangan hanya jadi pajangan, tapi juga harus berfungsi sebagai tempat pembelajaran sejarah. Inilah bentuk penghargaan terhadap para pahlawan dan sejarah kita,” katanya.
Ia juga menyerukan peran aktif dari Kementerian Pariwisata, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta pihak terkait agar menjadikan Kota Tua sebagai kawasan yang mendidik dan mengedukasi, bukan hanya untuk wisata komersial.
Harapan untuk Pemerintah Provinsi DKJ
Menutup pernyataannya, Firman dan warga lainnya menitipkan pesan untuk Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta, khususnya Gubernur dan Wakil Gubernur. Mereka berharap penataan Kota Tua ke depan dilakukan dengan tetap menjaga kesetiaan terhadap jejak sejarah dan nilai budaya yang melekat.
“Kalau Jakarta mau disebut Kota Global dan Berbudaya di usia ke-498 ini, maka mulai dari kawasan seperti Kota Tua lah penataan itu harus mencerminkan semangat tersebut,” pungkas Firman. (Hariyanto)





