JAKARTA (12/1/2024), AMUNISI.CO.ID — Jumlah pengunjung Museum Seni Rupa dan Keramik (MSRK) di Kota Tua Jakarta selama 2023 mencapai 146.420 orang. Tercatat sampai bulan Oktober saja 136.107 orang.

Sementara tahun 2022, jumlah pengunjung museum tersebut dalam 10 bulan sampai Oktober hanya 54.158 orang. Terlihat jumlah pengunjung MSRK tahun 2023 meningkat menjadi 2,5 kali lipat dari tahun sebelumnya. Meningkatnya minat masyarakat mengunjungi MSRKitu yang pengelolaannya di bawah UP Museum Seni itu karena aksesnya semakin mudah dan beberapa hal lain.
“Setelah selesai revitalisasi Kota Tua bulan Agustus 2022 dan Jalan Lada menjadi taman, maka Museum Seni Rupa dan Keramik menjadi tujuan wisata terdekat dari stasiun Jakarta Kota maupun halte Trans Jakarta,” ujar Kepala Unit Pengelola Museum Seni Disbud DKI Jakarta, Sri Kusumawati yang akrab disapa Bu Atiek, Jumat (12/1/2024).
Ditiadakannya pagar halaman MSRK yang menghadap Taman Fatahillah dan ditebangnya pohon beringin di depan museum itu karena lapuk, semakin terbukalah pandangan orang dari Taman Fatahillah ke museum dengan pilar-pilar besarnya itu, sehingga tergerak untuk mengetahui isi dan koleksinya.
“Akhir Oktober kami mulai tutup untuk pekerjaan pemeliharaan. Dan, ketika selesai museum mulai buka lagi 26 Desember yang lalu, pengunjungnya banyak sekali,” kata Uus Ustandi, Kepala Satuan Pelayanan Museum Seni Rupa dan Keramik ketika ditemui amunisi.co.id, Kamis (11/1/2024).

Tercatat bulan Desember 2023 yang buka hanya enam hari. Pengunjungnya mencapai 10.313 orang. “Soalnya masih liburan sekolah,” imbuh Uus.
Koleksi MSRK ini terdiri atas 400-an lukisan bersejarah dengan masterpiece lukisan Pengantin Revolusi karya pelukis Hendra Gunawan dan wajah Bupati Cianjur karya maestro Raden Saleh. Beberapa totem, dan 10.000 keramik dari Eropa, China dan Jepang, berbagai jenis termasuk keramik dari kapal karam, serta gerabah terakota dari zaman Majapahit dapat disaksikan di museum itu.
Ada juga Monumen Akik Nusantara bertahun 2017, yang berbentuk cincin raksasa bermata oval terdiri atas 500-an batu aji dari seluruh Nusantara. Di antaranya batu bacan dari Maluku dan merah delima dari Sukabumi.
Daya tarik MSRK adalah tersedianya fasilitas workshop untuk belajar membuat berbagai bentuk keramik atau gerabah. “Hanya harus mendaftar lebih dulu untuk tahu ketersediaan bahan tanah liat berkaolin. Sebab tak bisa disimpan lama,” kata Uus.
Sumaryono dari bagian registrasi MSRK menuturkan untuk ikut workshop gerabah dabn keramik dikenakan biaya Rp50.000 per orang. Itu untuk pengganti tanah liat berkaolin 1 Kg dan biaya paking untuk membawa pulang hasil karya gerabah dan keramik peserta. Tahun 2022 biaya tersebut masih Rp40.000 per orang
Rabu (10/1/2024) yang lalu ada 183 anak Siswa SDN 3 Sukatani, Depok mengikuti workshop gerabah dengan pengajar instruktur Hendra Gunawan.
“Mereka anak-anak kelas 4 dan 5 dari SD Negeri 3 Sukatani, Depok. Tadi mereka habis ikut workshop batik di Museum Tekstil terus kemari,” ujar Lia Amalia, Kepala Sekolah SDN 3 Sukatani. Delapan guru ikut mengawal murid-murid sekolah tersebut.
Dari workshop batik tiap anak mendapat canting alat pembatik untuk dibawa pulang Hasil dari workshop gerabah, anak-anak membawa pulang berbagai bentuk kerajinan tanah liat seperti asbak, pot, mangkuk, dan berbagai ujud lain. (PRI)




