Indonesia Unjuk Gigi Pengelolaan Gambut Kepada Dunia

Kegiatan ‘Workshop on Protection and Management of Peatland Ecosystem: Sharing Experiences and Lesson Learnt from Indonesia’c yang dilaksanakan secara hybrid, Selasa (13/12/2022). (Foto: Humas KLHK)

PEKANBARU (13/12/2022), AMUNISI.CO.ID – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengungkapkan, capaian Indonesia dalam pengelolaan ekosistem gambut telah diakui dunia. Apalagi, komitmen Indonesia menerapkan kebijakan pengelolaan ekosistem gambut yang holistik, dapat mengintegrasikan kebijakan dengan seluruh pemangku kepentingan pemerintah, pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat.

“Langkah yang telah dilaksanakan, meliputi pengarusutamaan kebijakan konservasi, perlindungan, restorasi, dan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem gambut untuk mendapatkan manfaat ganda bagi lingkungan, iklim, dan sosial ekonomi masyarakat,” terang Menteri LHK

Siti Nurbaya dalam kegiatan ‘Workshop on Protection and Management of Peatland Ecosystem: Sharing Experiences and Lesson Learnt from Indonesia’c yang dilaksanakan secara hybrid, Selasa (13/12/2022).

Menteri LHK Siti Nurbaya yang hadir secara daring  dalam kegiatan Workshop berlangsung selama 3 (tiga) hari yaitu 13-15 Desember 2022 di The Premier Hotel Pekanbaru, Riau tersebut memberikan pidato kunci tentang keberhasilan Indonesia memulihkan serta mengelola ekosistem gambut secara berkelanjutan.

Workshop dihadiri oleh 63 orang, terdiri dari 36 peserta internasional dan 27 peserta lokal, yaitu anggota ASEAN, Republic of Congo, Democratic Republic of Congo, Fiji, Peru, negara Anggota G20 (Perancis, Turki, dan EU), organisasi internasional (ITPC, GEF, dan IFAD), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi, serta kementerian/lembaga terkait.

Hadir pula Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Sigit Reliantoro turut hadir secara langsung di lokasi. Selain itu, Menteri untuk Wilayah Luar Negeri, Persemakmuran, Energi, Iklim dan Lingkungan, Inggris Raya, Rt. Hon Lord Goldsmith of Richmond Park, memberikan sambutan secara daring tentang Kerja Sama Indonesia-Inggris dalam restorasi ekosistem gambut dan implementasi FOLU Net Sink 2030.

Indonesia melalui Kementerian LHK sebagai tuan rumah dari International Tropical Peatland Center (ITPC), berdasarkan Resolusi UNEA 4 pada tahun 2019 tentang Konservasi dan Pengelolaan Gambut Berkelanjutan, berbagi pengalaman dan pembelajaran praktik baik perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut.

Lebih lanjut, Menteri Siti menegaskan, melindungi dan mengelola ekosistem lahan gambut, tidak dapat dicapai oleh satu individu, negara, organisasi atau lembaga.

“Kita perlu bahu-membahu berkolaborasi, dengan mengedepankan aksi global dalam strategi yang komprehensif, termasuk menginventarisasi dan memetakan karakteristik lahan gambut, mekanisme monitoring dan evaluasi, memberlakukan moratorium dan regulasi terkait lainnya, seperti pemberian insentif sebagai bentuk dukungan aksi lapangan di pelaksanaan konservasi, perlindungan, pemulihan, dan pemanfaatan ekosistem lahan gambut secara lestari,” jelas Siti Nurbaya.

Dikemukakan Menteri Siti, selama tahun 2019 hingga 2022, Indonesia terus melakukan perbaikan restorasi gambut seluas 300 ribu hektar di pemegang konsesi. Selain itu, 230 desa dengan luas 50 ribu hektar telah dilaksanakan restorasi dengan melibatkan masyarakat setempat.

Karena itu, berbagai pengalaman ini juga menjadi isu penting yang disepakati para pemimpin dunia saat Presidensi G20 Indonesia, di bawah kelompok kerja lingkungan dan iklim. Para pemimpin G20 mengakui bahwa ekosistem gambut penting untuk mendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

“Indonesia siap berbagi pengalaman dan bertukar pembelajaran. Saya berharap lokakarya hari ini akan mengumpulkan dan menyatukan dukungan kita bersama terhadap perlindungan dan pengelolaan ekosistem lahan gambut,” tegas Menteri Siti.

Mengoptimalkan Peran ITPC

Direktur Pengendalian Kerusakan Ekosistem Gambut Ditjen PPKL KLHK, SPM Budisusanti dalam sambutan pembukaan mengatakan, acara ini dapat memberi kita kesempatan untuk meningkatkan pertukaran pengetahuan global dan platform jaringan tentang pengembangan Kebijakan dan implementasi terpadu ekosistem gambut, seperti inventarisasi dan pemetaan karakteristik lahan gambut, dan sistem pemantauan untuk restorasi ekosistem gambut.

“Workshop ini juga memberikan kesempatan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan peran International Tropical Peatland Center (ITPC) sebagai pusat keunggulan untuk pengembangan dan pertukaran pengetahuan tentang konservasi dan pengelolaan ekosistem lahan gambut secara berkelanjutan,” katanya.

Budisusanti menegaskan, ekosistem lahan gambut memiliki keanekaragaman hayati yang unik, dan sangat penting dalam penyediaan banyak jasa ekosistem serta dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Lahan gambut memberikan fungsi ekologis yang kompleks bagi keanekaragaman hayati, menyediakan habitat bagi flora dan fauna.

“Ekosistem gambut juga telah mengambil peran penting untuk dukungan langsung dan tidak langsung untuk keperluan pertanian dan pasokan pangan, serta pembangunan ekonomi terkait lainnya,” pungkasnya. ***

Total Views: 922

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *