MALANG, AMUNISI.CO.ID — Reuni Komunitas Mantan Pelajar Anak Kereta Api, Singosari- Malang tahun 1950 -1970 an (KOMPAK) sebenarnya sudah berlangsung di Jl Ronggolawe no.33, Singosari, Sabtu (24/1/2026). Namun gaungnya agak lama dan sampai juga ke Sidoarjo, Surabaya, Bangil dan Jakarta.
Penyebabnya tak lain dari 29 orang yang hadir pada acara tersebut ada seorang anggota KOMPAK yang paling senior. Usianya sudah masuk 93 tahun.
Ditambah ada seorang anggota KOMPAK yang berpulang ke Rahmatullah 5 hari kemudian, sehingga pengurus dan beberapa anggota KOMPAK berkumpul lagi untuk bertakziah ke rumah duka.
.
“MBak Hendrini meninggal dunia hari Kamis (29/1) yang lalu dalam usia 83 tahun. Inna lillahi wainna ilaihi roji’un. Kami takziah ke Bangil Sabtu yang lalu bersama Dik Mamiek, Dik Ayiek dan Dik Churiyah adiknya Pak Taseri,” kata Hj Surti Utami, Bendahara KOMPAK Singosari selaku penggagas Reuni tersebut kepada Amunisi.co.id, di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
“Jadi mBak Hendrini menyusul suaminya Mas Nur Sidiq yang telah wafat 6 tahun lebih dahulu,” imbuhnya.
Dua sejoli itu bertemu jodoh karena sama sama berlangganan kereta api untuk bersekolah di Kota Malang. Mereka berdua masing masing tinggal di Bangil dan Singosari.
“Mas Nur Sidiq bersekolah di SMAN 1 Malang, Alun-alun Bunder dan mBak Hendirini di SKKA Saraswati di Jl Dr Wahidin dekat SMPN 3 Malang,” tanbah Surti Utami.
Komunitas KOMPAK pun pernah berreuni di rumah pasangan Hendrini-Nur Sidiq di Bangil sekitar 7 tahun yang silam.
Mengenai peserta paling senior pada Reuni KOMPAK di Singosari 24 Januari yl, Bu Surti Utami menjelaskan namanya Wiek Yama’ati Sukandaru. “Beliau kelahiran tahun 1933,” imbuhnya.
Ayiek Kushayatie selaku kemenakannya mengakui Bu Wiek Yama’ati sudah masuk usia 93 tahun.
“Lik Wiek (Bulik Wiek Yama’ati) itu dulu masuk sekolah di SMP Kidul Pasar tahun 1949,” tuturnya.
Menurut Ayiek dari penuturan Bu Wiek, zaman itu sekolah SMP hanya ada 2 di Malang. Yang satunya lagi SMP Rekombe di Jl.Lawu, yang kemudian menjadi SMP Negeri 1 Malang. Sedangkan SMP Kidul Pasar kemudian menjadi SMPN 2.
Lulus SMP, Lik Wiek kemudian masuk SMAN 1 di Alun-alun Bunder. Satu komplek dengan SMAN 3 dan SMAN 2 yang kemudian menjadi SMA Teladan dan awal tahun 1960 an tukar gulir dengan SMAN 4 Malang. Lik Wiek lulus SMA tahun 1955.
Tentu saja pergi dan pulang sekolah selalu naik kereta api (sepur) antara Singosari dan Malang sejauh 11 km.
“SMA Alun-alun Bunder itu sangat terkenal dan prestisius,” imbuh Ayiek yang juga alumnus SMAN 3 Malang tahun 1968 itu.
Sekretaris KOMPAK Suhariadi yang juga alumni SMAN 1 Malang mengaku sempat ngobrol dengan Bu Wiek, seniornya itu. Kesannya masih komunikatif.
Begitu pula Prastumi pensiunan dosen FT Sipil Universitas Brawijaya Malang ini terkesan dengan reuni KOMPAK kali itu dengan kehadiran Bu Wiek.
Walau membawa tongkat, Bu Wiek tetap berjalan santai.
Ia mengaku menikmati lagu lagu yang dinyanyikan dalam reuni tersebut. Antara lain lagu “Tatu” karya Didi Kempot yang dilantunkan Tris Sungkawani selaku aktivis KOMPAK. Juga lagu Kucari Jalan Terbaik karya Pance Pondaag yang populer dilantunkan Broery Pesolima.
“Sayangnya nggak ada acara menyanyi bersama oleh semua peserta reuni seperti biasanya,” ungkap Prastumi.
Sementara Yuli adik Ayiek Kushayati menyumbangkan lagu “I ‘ve been away too long,” yang pertama dinyanyikan George Baker tahun 1975.
Lagu “Kucari Jalan Terbaik” karya Pance Pondaag tahun 1980-an terdengar mendayu dayu di sela sela obrolan tiap kelompok hadirin dengan topiknya masing masing.
Bambang Hariadji suami Tris Sungkawani selain bernyanyi juga sempat memberikan kata sambutan dalam temu kangen itu.
“Dik Yadiek dari Sidoarjo paling duluan. Jam 7 sudah datang. Sekalian saya minta tolong untuk bagian penjemputan,” tutur Surti Utami selaku tuan rumah reuni.
Sekretaris KOMPAK Suhariadi yang dijemput bersemangat hadir walau harus dipapah dengan kursi roda yang tersedia.
Surti Utami mengungkapkan sempat berjalan kaki menemui anggota KOMPAK yang kurang merespon rencana reuni.
“Ternyata dari yang mendaftar 21, yang hadir 29 orang, termasuk para yunior yang membantu kami. Cak Muchtar akhirnya juga datang malahan bersama isteri ,” ujar Bu Surti bernada lega.
Reuni KOMPAK yang juga dikenal dengan sebutan Pelajar Arek Sepuran, pertamakali berlangsung di Aula PLK Sempol Singosari tahun 2002 yang dikuti lebih 100 orang anggota.
Tahun 2012 bulsn November KOMPAK mengadakan reuni di Jakarta yang diikuti lebih dari 60 orang peserta.
Semuanya menginap 2 malam di Desa Wisata TMII Jakarta Timur dengsn acara berlangsung 3 hari yang menambah keakraban antar anggota.
Kapan Reuni KOMPAK berikutnya barang tentu akan dirancang setelah Idul Fitri nanti. (PRI).





