JAKARTA (16/5/2023) AMUNISI.CO.ID — Selasa, 16 Mei 2023, kami berempat berangkat dari Jl I Gusti Ngurah Rai, Jakarta Timur menuju Balaraja, Banten dengan mobil. Dwi Busara pemilik mobil bertindak sebagai navigator dan Gatut Sudarsono sesama purnabakti karyawan Pemerintah Kota Admimistrasi Jakarta Timur sebagai pengemudi andalan. Sedang kami berdua, Ichsan dan Suprihardjo, duduk di jok belakang menikmati perjalanan yang menyenangkan dan mengesankan.

Berawal dari Gerbang Tol Bintara /Cakung, perjalanan mengambil rute tol Tanjung Priok menuju jalan Tol Merak lewat Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Tanpa sadar hanya sekitar satu jam perjalanan, kami sampai di Balaraja. Kami mampir di Kantor Samsat Balaraja sebentar untuk membayar pajak kendaraan.
Setelah selesai, kami sepakat melakukan wisata sejarah ke Gunung Karang, tepatnya patilasan Pahoman yang dikenal sebagai tempat pertemuan para wali di zaman Kesultanan Banten.
Dari Balaraja ke arah Pandeglang kami lewat jalan tol Jakarta Merak. Terus belok kiri lewat Tol Panimbang Serang. Keluar ke arah Jalan Raya Pandeglang. Melewati Kota Pandeglang terus jalan lagi ke arah Alun-alun Pandeglang terus belok kiri ke jalan Gunung Karang.

Pandeglang hawanya terasa sejuk. Jalan menuju Gunung Karang mulai menyempit ke arah utara agak ke baratlaut. Sisi kiri hutan dan tebing tinggi sementara sebelah kanan jurang yang juga penuh dengan pohon dan semak-semak.
Saat Parkir dan Ngopi
Sampai jalan menanjak di sebelah kiri ada lahan parkir. Sampailah kami di Desa Pasir Peuteuh. Di sinilah kami turun untuk sholat Dzuhur dijamak Ashar. Ngopi sejenak di warung, ditemani Pak Nurjaya karyawan Balai Pelestari Cagar Budaya Banten.

Dari dialah kami dapatkan informasi awal tentang lingkungan situs setempat. “Tempat parkir ini bila hari libur atau malam Jumat penuh dengan mobil. Bisa 15 sampai 18 mobil termasuk mobil rombongan peziarah,” kata Nurjaya.
Dari musholla dan warung di atas lahan parkir itu kita memandang ke arah timur terhampar di bawah ada perkampungan. Di bawahnya lagi tampak kehijauan hutan dan awan putih menipis di sela birunya langit. Sungguh pemandangan yang mengesankan dari atas ketinggian lereng gunung. Apalagi kalau sampai ke puncaknya.

Dari tempat parkir kami diantar Nurjaya ke tempat menhir Pahoman melalui jalan paving block selebar satu meter yang sedikit mendaki. Setelah melewati pos kuncen dengan buku tamu maka terlihat di sebelah kiri gundukan bebatuan ditutup kain putih. Posisinya di bawah pohon besar.
Memasuki area situs purbakaka itu terlihat batu andesit tinggi tegak berdiri di gundukan bebatuan. Ujungnya dibungkus kain putih. Itulah yang disebut menhir. Di sebelah selatan menhir itu terdapat lima gundukan batu yang juga ditutup kain putih. Masing masing ada namanya antara lain Raden Paraga, Keramaian dlsb. Sementara batu yang di dalam juga ditutup kain putih bernama Ratu Rincik Manik Rencang Mas.
Menurut seorang kuncennya, Ustadz Maman, batu batu berkain putih itu tanda tempat atau makom para wali. Saat berkumpul di sekitar menhir tersebut pada zaman Kesultanan Banten. Dwi Busara yang sempat meraup air dari kolam Ratu tersebut mengaku terasa sejuk segar.
Usai kami berdoa memohon keselamatan kepada Allah SWT, Ustadz Manan memimpin ritual duduk bersandar pada batu menhir sambil berpegangan tangan kanan dan kiri ke belakang punggung. Bila dapat melakukannya dengan mudah, maka mudah pula hajatnya dikabulkan Allah SWT.
Ke Sumur Tujuh?
Gatut Sudarsono terkesan pada situs Pahoman tersebut mirip lokasi Candi Cetho di lereng Gunung Lawu di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sedang Pahoman di lereng Gunung Karang, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Sementara Dwi Busara seorang pecinta alam sejak mahasiswa di perguruan tinggi Yogyakarta ingin mengulang melacak sejarah di Gunung Karang ini sampai ke puncak yang terdapat peninggalan sejarahnya yaitu Sumur Tujuh. “Nanti kita ke sana,” tantang Dwi yang disambut acungan jempol oleh tiga rekannya.
Menurut Nurjaya, untuk mencapai Sumur Tujuh, dari Pahoman harus naik lagi sejauh 9 Km. Diakui untuk destinasi puncak tersebut masih dapat ditempuh dengan mobil, namun medannya cukup berat. (PRI)




