JAKARTA, AMUNISI.CO.ID – Setelah sukses dengan pergelaran wayang Betawi 2 kali dalam sebulan ini, yaitu Minggu siang 26 Oktober dan 23 November 2025, Museum Wayang akan menggelar pertunjukan Wayang Kulit Purwa gaya Surakarra Minggu (30/11) mendatang.

(PRI).
Dalang yang akan tampil dari PEPADI Jakarta Barat. yaitu Pak Kardi dengan lakon atau cerita Semar Sang Pemomong.
Kepala Satuan Pelayanan Museum Wayang Unit Pengelola Museum Seni Jakarta, Suandi mengungkapkan hal itu di Museum Wayang di Kota Tua Jakarta, Selasa (25/11/2025).

Menurut Kasatpel Museum Wayang ini, ketika disuguhkan pergelaran wayang orang Betawi pada 26 Oktober 2025 oleh PEPADI Jakarta Timur, jumlah pengunjung mencapai.1000 orang lebih.

Begitu pula ketika digelar pertunjukan Wayang Kulit Purwa Betawi dengan dalang Karto Wijaya dari PEPADI Jakarta Timur, Minggu (23/11/2025) ybl, jumlah pengunjung Museum Wayang mencapai 1.620 orang.
“Jumlah itu termasuk wisatawan mancanegara 56 orang terbanyak dari Filipina 15, China 10, Australia 7 dan Jepang 5 orang serta dari beberapa negara lainnya.
Genrasi muda juga banyak tercatat rombongan anak anak pelajar hampir 500 orang,” tambah Suandi sambil menunjukkan laporan Ansor dari bagian tiket.
Saat pergelaran wayang golek Sunda, Minggu (16/11), jumlah pengunjung museum ini mencapai 1540 orang. Termasuk wisatawan mancanegara 47 orang , terbanyak dari China, Singapura dan Belanda.
Mengenai rencana pergelaran wayang kulit purwa gaya Surakarta di Museum Wayang 30 November nanti Sumardi selaku Ketua Bidang Pergelaran dan Kompetisi PEPADI Provinsi DKI Jakarta, menjelaskan, semula akan dilakukan oleh 2 orang dalang sekaligus. Yaitu Amarno dan Kardi.
“Tetapi Pak Amarno tidak bisa karena mau beribadah umroh le Tanah Suci. Makanya nanti dalangnya Pak Kardi sendiri,” tutur Sumardi saat menyaksikan pergelaran wayang kulit Betawi di auditorium Museum Wayang, Minggu (23/11) yang lalu.kepada Amunisi.co.id.
Menurut Sumardi, cerita yang akan dimainkan dalam pergelaran wayang kulit purwa Surakarta Minggu.(30/11) nanti adalah Semar Sang Pemomong.
WAYANG BETAWI
Pergelaran wayang kulit Betawi di Museum Wayang hari.Minggu (23/11) siang yl menarik perhatian pengunjung.
Puluhan.kursi yang tersedia selalu terisi walau bergantian yang menduduki. Mereka meninggalkan pergelaran untuk mengetahui seluruh koleksi di lantai atas dan mencoba bereksplorasi di dalam Ruang Imersif dengan video mapping dan menonton film animasi wayang dengan layar 360°.
Hanya dua baris kursi terdepan di auditorium tersebut para penontonnys tekun menyimak sampai tuntas, termasuk Titik Hendarti penggemar wayang dari Jakarta Timur dan Ny Limah beserta putrinya dari Bekasi Utara.
Cerita yang dibawakan berjudul Bambang Awan Sakti sebuah cerita carangan.bukan pakem.
Tokoh ini adalah anak angkat dari Begawan Dupawarna dari pertapaan Awang Uwung.
Bambang Awan Sakti menanyakan asal muasal serta keadaan kedua orang tuanya.
Oleh Begawan Dupawarna dianjurkan bertanya kepada para pendeta dan.para guru termasuk kepada Betara Guru di Kahyangan. Namun semua tidak dapat menjawabnya sehingga dikalahkan Bambang.
Sampai akhirnya Semar yang dapat memberitahunya. Berubahlah Bambang Awan Sakti menjadi jimat Jamus Layang.
“Wah bahasanya banyak bahasa Sunda. Kalau bahasa Betawi saya sih mengerti,” keluh Wawan (79) seorang penonton penggenar wayang dari Bekasi.
Titik Hendarti dari Duren Sawit Jakarta Timur justru mengaku senang degan selingan bahasa Sunda.
“Sindennya tadi juga melantunkan lagu lagu Sunda. Bagus suaranya,” kata Titik yang waktu masih remaja mendapatkan peran wayang orang Jawa sebagai Cakil melawan Arjuna dalam adegan fragmen perang tanding.
“Itu semua bahasa Betawi. Ya begitu itu Betawi,” kilah Nyi Limah dari Bekasi Utara yang mengikuti suaminya Ki Dalang Karto Wijaya. (PRI).





