Rombongan Reuni Pagunama 2024 Disambut Jabang Tutuka di Saung Udjo Bandung

Eyang Uti dan Eyang Kung Paguanama menyaksikan berbagai seni angklung Mang Udjo. (DOK PRI)

BANDUNG (11/9/2024), AMUNISI.CO.ID – Hari pertama Reuni Paguyuban Alumni SMA Negeri 3 Malang Angkatan ’65 (Paguanama) di Bandung Selasa (10/9/2024) dirasakan sangat mengesankan para pesertanya yang berjumlah 38 orang berikut pendampingnya.

Meski ada satu atau dua orang yang menilai pergelaran angklungnya di Saung Mang Udjo masih kurang semarak dibanding tahun lalu, namun kali ini semua wisatawan secara spontan bergabung dengan penari penari cilik anak didik Saung Udjo.

Bacaan Lainnya

“Yang penting kita ada experience, mengalami dan merasakan sendiri betapa asyiknya bermain angklung yang menuntut kerja sama dan harmoni dalam satu tim,” kata Bambang Bahagio kepada wartawan Amunisi.co.id, Rabu (11/9/2024) di Sangkuriang House, Bandung.

Hari pertama itu para peserta Reuni Paguanama 2024 yang sudah sampai di Sangkuriang House dengan satu bus wisata mengunjungi Saung Mang Udjo. Setelah makan siang di dekat arena pertunjukan angklung, para pengunjungpun dipersilakan masuk ke arena pertunjukan dengan tempat duduk melingkar. Di situlah pengunjung diajari bagaimana permulaan bermain angklung.

Namun sebelumnya disuguhkan demo wayang golek dengan cerita Jabang Tetuka atau Lahirnya Gatotkaca.

Adegan para tokoh wayang tersebut dalam berdialog, menari dan beradu kesaktian maupun kelihaian dalam perang tanding dimainkan oleh Ki Dalang dengan lincah dan cekatan. Dialognya pun sering membuat penonton tertawa karena kata-kata dan gesture goleknya yang dimainkan Ki Dalang memang jenaka.

Demo wayang golek hanya 30 menit, tetapi cukup mengundang kenangan indah waktu kanak kanak maupun remaja. “Ingat nonton wayang golek di daerah Wendit, Kecamatan Blimbing, Kota Malang tahun 1960-an,” kata seorang peserta Reuni Paguanama dari Jakarta yang waktu itu tinggal di Singosari, Kabupaten Malang.

Di sana memang ada komunitas Sunda yang umumnya anggota TNI AU atau sipilnya yang bekerja di Pangkalan Udara Abdul Rachman Saleh.

Berikutnya ditampilkan beberapa seni tari budaya Sunda dengan iringan gamelan dan angklung, di antaranya tari Jampanan atau Sisingaan, tari topeng dan satu lagi yang dimainkan anak anak balita, remaja sampai dewasa. Mereka adalah para anak didik Saung Udjo.

“Ada 500 anak yang belajar di Saung Udjo. Mereka pagi sekolah sorenya pentas di sini!” ujar Teh Vera sebagai pembawa acara.

Tiba giliran belajar angklung semua pebgunjung masing masing memegang satu nada. Instruktur memberi aba-aba dengan isyarat kapan nada do (1), re (2), atau mi (3) dibunyikan bergantian.

Ketika dipraktikkan dengan memainkan lagu Ibu Kartini, semua wisatawan pemegang angklung baru sadar bahwa mereka berhasil membuat satu harmoni yang berarti dengan seorang konduktor yang mumpuni.

Saat itu selain puluhan anggota Paguanama yang bereuni, juga ada wisman dari Cekoslovakia dan tiga orang kawannya serta 100 siswa SDIT Alif Ciawi, Bogor bersama 10 orang gurunya.

Baru setelah itu disuguhkan tari Jampanan atau Sisingaan dan tari topeng yang diiringi musik bernada pentatonic. Kemudian dilanjutkan musik Arumba yang diatonis dengan enam lagu daerah Indonesia yang cukup dikenal dengan disuguhkan pula kostum gerak dan tarinya.

Pertama lagu Batak Situlo-tulo, lagu Betawi Sirih Kuning, lagu Minahasa Poco-poco, dari Makasar Anging Mamiri, dan terakhir lagu Papua. Acara puncaknya ketika penonton diajak ngibing bersama penari penari cilik dan dewasa di arena.

Terlihat Adri Mursini peserta Reuni Paguanama dari Semarang turun membaur di arena seperti Eyang Putri dan para cucunya menari bersama, disusul rekan rekan sealumni lainnya. Termasuk Ridwan Soerono, Jossie Sosodoro, dan Bambang Bahagio.

Tatkala seorang siswa dan guru SDIT Alif dari Ciawi maju, baru diikuti puluhan siswa siswi sekolah dasar tersebut, menambah meriah dan akrabnya mereka dalam satu adegan penutup.

Tampak Pak Koesmadji dari Malang membidikkan lensa smartphone-nya ke panggung arena membuat videonya tiap adegan.

Namun belum usai acaranya Ketua Paguanama Faridar Munaf minta keluar dengan kursi rodanya. “Saya nggak kuat ngantuk sekali,” ungkapnya, yang diantar putranya Iwan Sunarso.

Bagi yang baru sekali itu ke Saung Udjo, semua yang disajikan dinilai cukup bagus dan menarik.”Itulah wisata edukasi budaya,” kata Indradjaya dari Jakarta dan Budi Astuti peserta reuni dari Surabaya.

Namun begitu bagi Adri Mursini dari Semarang dan Sulastri dari Surabaya yang pernah menyaksikan demo angklung di Saung Mang Udjo tahun 2023 silam, menilai pelajaran angklungnya sekarang kalah seru dibandingkan tahun lalu.

“Tahun lalu instrukturnya wanita. Lebih bervariasi caranya dan sabar. Pertunjukannya pun lebih lama,” tutur Adri. Hal itu dibenarkan Sulastri.

Namun keduanya plus Siti Roosida dan Ediati peserta dari Jakarta mengaku puas menyaksikan dan merasakan para siswa sekolah budaya Mang Udjo begitu komunikatif dan percaya diri. Meskipun masih kecil malahan masih balita umur 4 tahun berani menggandeng tamu seusia kakek dan neneknya untuk diajak menari.

“Iya, kemarin saya bersama anak umur 4 tahun bernama Agan. Ia mengaku masih belum sunat walaupun tadinya berperan sebagai seorang anak yang dikhitan dalam iring iringan jampanan atau sisingaan,” tutur seorang peserta Reuni Paguanama dari Jakarta.

Hari kedua Rabu (11/9/2024), Ketua Panita Reuni Ambar Rukmi mengajak lebih 30-an sahabat Paguanama-nya ke dataran tinggi untuk berkeliling kebun teh Asstro Highland Lembang. Tiap melihat spot yang bagus mereka turun dari boggy car alias odong odong untuk berfoto bersama ataupun sendiri sendiri.

Hawa sejuk di ketinggian lebih dari 1000 meter DPL membuat peserta lapar lebih awal. Nasi timbel lauk ayam bakar, ikan jambal dan lalapan dengan minuman bajigur membuat semuanya tergiur.

Santap siang kali itu sungguh mengesankan, dengan sesekali pelayan Asstro Restaurant harus menghampiri bangku tamu untuk mengusir belasan burung dara yang datang ikut nimbrung di meja.

Rabu (11/9/2024) pukul 20.00 WIB diadakan Acara Malam Gembira di coffee shop Mercu Suar di seberang Sangkuriang House dipimpin Ketua Panitia Ambar Rukmi dengan pembawa acara Suhermini.

Di situ diadakan permainan untuk menguji seberapa awetnya daya ingat dan pendengaran para anggota Paguanama yang memang sudah Lansia semua.
Hasilnya ya wajar sudah banyak berkurang.

Dibisikkan secara estafet dari orang pertama sampai ke orang ke sepuluh. Kalimat yang semula berbunyi “Kamu apa tahu burung kakak tua kakekku,” berubah jauh dari makna semula, yang mengundang gelak tawa.

Begitu pula ketika diperdengarkan lagu-lagu lama yang hit pada masanya secara instrumentalia untuk satu dua bait lagu, ternyata sedikit yang mampu menebak dengan benar meski tetap ada.

Malam itu disepakati bersama bahwa Reuni Paguanama 2025 mendatang akan diselenggarakan di kota di Jawa bagian tengah. Banyak yang setuju di Yogyakarta.

“Tetap semangat,” begitu seru Hermin dan seluruh anggota Paguanama yang mini diketuai Ambar Rukmi. Malam itu Ambar menerima tongkat kepemimpinan Paguanama Faridar Munaf disaksikan Penggagas dan Pendiri Paguyuban itu tahun 2002 di Kota Malang. (PRI)

Total Views: 1287

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *