Jelajahi Kota Bandung dan Menguak Sejarahnya Menyambut HUT ke 214

Gedung Merdeka Bandung (DOKUMEN PRI)

BANDUNG (16/9/2024), AMUNISI.CO.ID — Tanggal 25 September 2024 mendatang Kota Bandung akan genap berumur 214 tahun. Namun perayaan ulang tahun Ibukota Provinsi Jawa Barat tersebut sudah dipersiapkan jauh sebelumnya. Di antaranya Pawai Kendaraan Hias yang berkeliling kota pada Minggu (15/9/2024) kemarin yang diikuti 90 an mobil dan kendaraan hias berbagai tema.

Rutenya dari Jl Diponegoro, Jl Ir.H.Juanda (Dago), Simpang Riau Merdeka, Bandung Indah Plaza, Simpang Merdeka Aceh, Jl Merdeka, dan berakhir di Balaikota Bandung, Jl Wastu Kancana.

Bacaan Lainnya

“Saya sendiri nggak menonton. Hanya melihat persiapannya saja,” tutur Ambar Rukmi warga Bandung, Senin (16/9/2024) kepada Amunisi.co.id.

Ny. Ambar Rukmi selaku Ketua Panitia Reuni Paguanama (Paguyuban Alumni SMAN 3 Malang Angkatan ’65) bersama anggota Bandung baru saja menjamu lebih 36 anggota Paguanama dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jabodetabek menyaksikan pesona Bandung dan merasakan kulinernya.

“Kalau hari ini yang banyak terlihat peringatan Maulid Nabi,” kata Ambar lagi.

Begitu pula Rinie Husein anggota Paguanama Bandung, ia menyatakan juga tidak menonton pawai kendaraan hias Minggu (15/9) kemarin.

Ia menyatakan pawai itu sangat menarik bagi generasi muda dan anak anak seperti para cucunya. “Sekarang saya tidak tinggal dengan mereka,” ujar Bu Rinie.

Namun seperti Ambar dan Rinie, para peserta Reuni Paguanama 2024 ini masih terkesan pada kebersamaan mereka selama di Bandung.

Terutama ketika mereka bersama keliling Kota Kembang naik 2 unit kendaraan wisata terbuka yang disebut Bandros, akronim dari Bandung Tour On Bus.

Dengan 2 unit Bandros 36 anggota Paguanama mengunjungi gedung gedung atau bangunan dan tempat tempat bersejarah.

6 Juta Gulden

Seorang tour guide bernama Jenni Jean yang memandu di atas bus Bandros warna biru selalu menjelaskan tiap obyek wisata.yang dikunjungi.

“Nah ini Gedung Sate. Tebal temboknya sampai 1 meter. Penangkal petirnya berbentuk sate. Coba tebak berapa jumlah satenya di tusukannya itu,” kata Teh Jenni Jean.

“Betul ada 6. Maknanya Gedung Sate itu dibangun menghabiskan biaya 6 juta gulden,” lanjut Jenni. Dijelaskan lebih lanjut, gedung itu mulai dibangun oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda tahun 1920 dan selesai tahun 1924.

Di depan gedung tersebut peserta Reuni Paguanama berfoto bersama.

Dalam perjalanan selanjutnya bus Bandros melalui Jl Naripan.
“Nah nama Naripan ini berasal dari nama seorang dari Betawi di zaman Hindia Belanda yang memiliki banyak delman atau sado yang disewakan seperti taksi sekarang ini,” tutur Jenni.

Ketika di Jl. Asia Afrika rombongan turun dan berfoto di depan Gedung Merdeka. Gedung yang kini telah menjadi museum itu pada tahun 1955 digunakan sebagai tempat Konferensi Asia Afrika di zaman pemerintahan Presiden Soekarno.

Diceritakan, gedung itu dibangun tahun 1921 oleh arsitek CP Wolff Schoemaker dan disebut Societeit Concordia, tempat berkumpulnya orang Belanda.
Namun pada zaman Jepang berganti nama menjadi Dai Toa Kaikan.

Sambil Bandros melaju perlahan, Teh Jenni selaku pramuwisata bercerita sejarah Jl Dago dan berdirinya Kota Bandung yang sekarang.
Ketika Kabupaten Bandung dipimpin Bupati ke 6 RA Wiranatakusumah II, kekuasaan VOC di Nusantara beralih ke Pemerntahan Hindia Belanda. Gubernur Jendral Daendels berkuasa tahun 1808-1811.

Untuk kelancaran pembangunan Jalan Raya Pos dan memudahkan pejabat pemerintah kolonial Belanda mendatangi kantor bupati, maka Daendels meminta Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten mendekati jalan raya pos tsb. Perintah Daendels itu melalui surat tertanggal 23 Mei 1810.

Agaknya Daendels tak tahu sebelum itu Bupati Wiranatakusumah II sudah merencanakan memindahkan ibukota Kabupaten Bandung dari wilayah Krapyak (Dayeuh Kolot) ke area lahan kosong di tepi barat Sungai Cikapundung. Akhir tahun 1808 bupati bersama sejumlah rakyat pindah dari Krapyak /Dayeuh Kolot mendekati bakal lahan ibukota baru. Jadi Kota Bandung bukan dibangun atas prakarsa Daendels melainkan prakarsa Bupati Bandung sendiri.
Dan diresmikan sebagai ibukota Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tgl 25 September 1810.

Siti Roosida dan Farida Anwar Arnowo para anggota Paguanama dari Jakarta Senin (16/9/2024) menyatakan terkesan dengan tour kota Bandung tersebut.

“Pulang ke Jakarta naik Whoosh bersama teman teman lama,” kata Farida Senin (16/9) sambil menyebut nama Winarno dan Supri yang pernah satu kelas di SMP Negeri 3 Malang awal tahun 1960-an.

Begitu.pula dengan Budi Astuti dan Sulastri dari Paguanama Surabaya mengakui tour keliling kota Bandung 4 hari yl dengan Bandros, menambah pengetahuan sejarah kota dan keakraban antaranggota Paguanama. “Kami duduk berjajar dan gantian memijat dengan Jeng Dora Suhardiman dan MBak Ani Ong,” pungkas Sulastri. (PRI)

Total Views: 1653

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *