JAKARTA (14/07/2023), AMUNISI.CO.ID – Keberadaan Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia di perpolitikan Tanah Air, boleh dibilang baru seumur jagung. Kendati demikian, partai bernomor urut 7 (tujuh) sebagai peserta Pemilu 2024 ini, optimis lolos ke Senayan dan mendapatkan perolehan suara minimal 4 persen di Pemilu 2024.
Sikap optimis ini disampaikan Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPN Partai Gelora Indonesia Rico Marbun dalam Dialektika Demokrasi bertema ‘Strategi Partai Politik Berebut Kursi Parlemen’ di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis kemarin (13/7/2023).
Untuk bisa masuk ke Senayan, kata Rico, Partai Gelora tidak memasang target yang terlalu muluk atau tinggi-tinggi, yakni minimal mendapat 4,4% suara Pemilu 2024. Sedang salah satu caranya untuk menang adalah menjadikan setiap tahapan dari proses Pemilu ini, itu bagian dari pemenangan.
“Nggak tinggi-tinggih sih target kita agar bisa masuk di gedung DPR RI,” ucapnya seraya menambahkan bahwa keyakinan ini didasari pada konsep Party ID yang dianut oleh partai politik (Parpol) tertentu, tidak pernah lebih mendapatkan 20 persen suara dalam setiap pemilu.
“Kenapa Party ID itu, selalu angkanya enggak pernah lebih dari 20% ya begitu ya, itu sudah di total-total. Artinya tingkat loyalitas atau perpindahan dari satu pemilih dari satu partai ke partai lain, itu selalu terbuka. Itulah kenapa, kita melihat secara angka dari pemilu ke pemilu, itu pemilih-pemilih terutama peringkat-peringkat tiga sampai seterusnya di bawahnya, itu kan berubah-ubah,” jelasnya.
Karena itu, lanjut Rico, ketika ada lembaga survei yang menempatkan parpol tertentu dalam daftar peringkat partai yang lolos ke Senayan, dan memenuhi PT 4 persen, dipastikan hal itu merupakan pesanan pihak tertentu. Dia menambahkan, lebih dari 50 persen pemilih itu sebenarnya memilihnya dekat-dekat waktu pemilu, karena mereka (para pemilih) masih melihat situasi, apakah ada partai yang bisa mewujudkan harapan mereka di tengah ketidakpastian situasi global saat ini.
“Jadi kenapa kok di tengah semua angka-angka yang kita baca itu memberi peluang. Ini tentang situasi ekonomi kita, orang masih ingin mencari harapan atau berlabuh ke sesuatu yang baru,” pungkasnyan.
Kesempatan tersebut, Rico juga menegaskan bahwa pendirian Partai Gelora bukan untuk membalas dendam atau mengurangi suara partai tertentu di Senayan. Namun, untuk menguji apakah narasi Partai Gelora yang ditawarkan ke publik bisa di terima atau tidak.
“Partai Gelora ini tidak didirikan, karena merasa sebel dengan entitas politik tertentu. Kami mendirikan partai ini tidak untuk membalas pihak-pihak tertentu atau mengurangi partai-partai tertentu. Tapi kalau misalnya, nanti kita dapat 4 terus ada yang dapat 3,9 atau nanti kita dapat 4 terus ada yang dapat 3,8 ya jangan disalahin kita,” tegasnya lagi.
Rico menegaskan, pendirian Partai Gelora tidak hanya sekedar ikut pemilu dan kemudian kalah dalam konstestasi. Tetapi, target Partai Gelora sangat jelas, yakni memenangi Pemilu 2024 dan masuk DPR dengan memenuhi ambang batas parlemen (parliamentary treshold).
“Seperti kata Pak Anis Matta (Ketua Umum Partai Gelora), bahwa kalau kita tidak bisa buat partai politik dengan cara yang benar, kalau kita tidak bisa rekrut pengurus, kalau orang tidak percaya dengan apa yang kita katakan,ngapain kita buat partai politik. Kan kita buat partai politik mau menang, mau masuk DPR RI. Ngapain kalau cuma jadi aja, lalu ikut pemilu dan kalah. Partai Gelora bukan seperti itu,” ujar Rico.
Meski disadarinya bahwa berbagai persyaratan yang dibebankan kepada partai-partai baru sangat berat, dan hampir tidak memberikan nafas untuk kehidupan partai baru. Tetapi Partai Gelora mulai yakin, bahwa memang ide yang kami tawarkan, yang dilontarkan itu memang bisa diterima oleh publik.
“Terbukti banyak kader yang bersedia rumah dan kantornya dijadikan kantor partai. Orang juga berbondong-bondong mau jadi pengurus dan berbondong-bondong mau jadi caleg,” demikian Rico Marbun. ***





