JAKARTA (06/02/2026), AMUNISI.CO.ID – Memasuki tahun 2026, optimisme terhadap perekonomian nasional semakin menguat. Pasalnya, tahun ini menjadi momentum penting bagi kebangkitan ekonomi Indonesia sekaligus fase akselerasi menuju pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Pengamat ekonomi, Rouf Qusyairi mengatakan bahwa stabilitas makroekonomi menjadi modal utama optimisme 2026. Ia menyebut sinergi kebijakan fiskal dan moneter antara Kementerian Keuangan Republik Indonesia dan Bank Indonesia berhasil menjaga inflasi tetap terkendali serta memperkuat daya beli masyarakat.
Menurutnya, reformasi struktural yang diperkuat sejak era Joko Widodo dan dilanjutkan pada masa pemerintahan Prabowo Subianto menjadi landasan transformasi ekonomi berbasis hilirisasi, industrialisasi, dan penguatan ketahanan pangan serta energi.
“Optimisme 2026 bukan sekadar angka pertumbuhan, tetapi tentang kualitas pertumbuhan bagaimana UMKM naik kelas, investasi meningkat, dan penciptaan lapangan kerja semakin luas,” Ujar Rouf Qusyairi dalam diskusi yang dilaksanakan KMI bekerjasama dgn pertamina dan BSI di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Sementara itu, akademisi Jailani Mujab menilai bahwa tahun 2026 menjadi titik konsolidasi kebijakan pasca transisi pemerintahan. Ia menekankan pentingnya keberpihakan APBN terhadap sektor produktif, terutama UMKM, industri kreatif, dan ekonomi hijau.
Menurutnya, penguatan fungsi pengawasan DPR akan memastikan bahwa stimulus fiskal, insentif investasi, dan perlindungan sosial benar-benar berdampak pada pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen secara berkelanjutan.
“Momentum kebangkitan ekonomi harus dijaga dengan disiplin fiskal dan keberpihakan pada sektor riil. Jangan sampai pertumbuhan hanya dirasakan di atas kertas,” ucapnya.
Lebih lanjut, Jailani Mujab menegaskan bahwa optimisme 2026 sangat bergantung pada kemampuan Indonesia mempercepat transformasi digital dan inovasi berbasis riset.
Ia menyoroti pentingnya investasi pada sumber daya manusia, teknologi, serta penguatan ekosistem riset dan industri. Bonus demografi, menurutnya, hanya akan menjadi berkah jika didukung peningkatan produktivitas tenaga kerja.
“Momentum kebangkitan ekonomi harus dibarengi lompatan inovasi. Tanpa itu, kita hanya tumbuh moderat, bukan akseleratif,” jelasnya.
Selain itu, kata Jailani Mujab dinamika global mulai dari ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, hingga perlambatan ekonomi mitra dagang masih menjadi tantangan serius. Namun dengan fundamental ekonomi yang relatif kuat, optimisme terhadap tahun 2026 tetap terjaga.
Dengan sinergi kebijakan, dukungan politik, serta penguatan inovasi dan sektor produktif, tahun 2026 diyakini menjadi momentum kebangkitan sekaligus akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional menuju Indonesia yang lebih tangguh dan berdaya saing. ***




