JAKARTA (7/4/2023), AMUNISI.CO.ID – Dalam Festival Bedug Sudin Kebudayaan Jakarta Timur yang dibuka Walikota Jakarta Timur M Anwar di halaman kantornya, Kamis (6/4/2023), Juara 1 diraih grup Wal Asbun Kecamatan Kramatjati dan Juara II grup Sanggar Seni Nurul Hidayah Kecamatan Cakung. Juara 1 mendapat hadiah piala dan uang pembinaan Rp12.500.000, Sedangkan Juara 2 mendapat Rp10.000.000.
“Untuk Juara 3 diraih grup Bucho Bagya, Kecamatan Jatinegara mendapat uang pembinaan Rp8.500.000,” kata penanggungjawab kegiatan Festival Bedug Sudin Jakarta Timur 2023, Saminem, Jumat (7/4/2023).
Selanjutnya Juara Harapan 1 dimenangkan grup Bedug Bujang RW 04 Kecamatan Cipayung dan Juara Harapan 2 PPSU Kelurahan Klender Kecamatan Duren Sawit, yang masing masing mendapat uang pembinaan Rp7,5 juta dan Rp6,5 juta. Menurut Saminem, 15 peserta lainnya pun mendapat uang pembinaan masing masing Rp2 juta, sehingga 20 peserta total mendapat uang pembinaan Rp75 juta.
Asisten Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat Sekko Jakarta Timur Ahmad Salahudin didampingi PLH Kepala Sudin Kebudayaan Jakarta Timur Encu Suhaeni Kamis sore menutup festival bedug tersebut dan menyerahkan piala kejuaraan kepada para pemenangnya.
Pada kesempatan tersebut Asisten Administrasi dan Kesra Sekko Jakarta Timur Ahmad Salahudin mengatakan, sesuai pesan Walikota Jakarta Timur M Anwar, bedug merupakan tradisi bangsa Indonesia sejak dahulu dalam syiar agama Islam yang perlu dilestarikan. “Karena itu festival bedug ini harus berlanjut tahun depan dan berikutnya,” kata Salahuddin.
Festival menabuh bedug dan takbir dalam bulan Ramadan ini dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriah.
Lurah Klender Tri Budiyanto yang hadir juga mendukung pelestarian seni pukul bedug dalam rangka syiar agama Islam. “Klender dua kali meraih juara festival bedug dan solawat tahun 2017 dan 2019. Karena itu kami optimis dapat 5 besar,” katanya.
Abdur Rachem Sarjana Seni dan Ketua Dewan Juri Ustadz Nurul Fuad Zen menjelaskan tiap festival itu harusnya ada 3 kegiatan yaitu eksibisi, edukasi berupa workshop, dan kompetisi. Sedangkan sistem penilaiannya menyangkut vokal takbir maupun solawat, penampilan atau performance di panggung dan teknik memukul bedug termasuk variasinya. “Jangan lantas pemukul bedug menari meninggalkan bedugnya,” kata Rachem mantan Kasudin Pendidikan Jakarta Timur 2 itu. (PRI)





