JAKARTA (26/06/2023), AMUNISI.CO.ID – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) meliris program baru bernama ‘Petamaya’ yang ditayangkan di kanal YouTube Gelora TV. Program baru ini, kerja sama antara Partai Gelora dengan lembaga riset digital CAKRADATA.
Demikian disampaikan Ketua Bidang Rekruitmen Anggota DPN Partai Gelora Endy Kurniawan dalam keterangan tertulisnya, Senin (26/6/2023).
Program Partamayq tersebut, kata Endy, memotret realita yang ada di dunia digital, kemudian dikonfrontasikan dengan dunia realita dan dibahas oleh narasumber kompeten. Apalagi, pada pekan lalu, Mahkamah Konstitusi (MK) telah menetapkan Sistem Pemilu yang akan diselenggarakan pada tahun 2024 adalah Proporsional Terbuka.
“Di media daring dan media sosial, perbincangan dan polemik telah berlangsung lama, berbulan-bulan ke belakang. Bahkan dikalangan politisi, petinggi partai politik, pemerintah dan Legislatif juga memperdebatkannya. Ada yang pro dan kontra,” sebutnya.
Oleh karena Itu, lanjut Endy. Partai Gelora melalui Petamaya berusaha memetakan lanskap dunia maya untuk membaca semua itu, apakah data di dunia maya dengan pelaku para warganet itu relevan dengan suara dan opini masyarakat.
“Bekerjasama dengan lembaga riset digital CAKRADATA, kami menyajikan program menarik yang akan membuat kita memahami secara utuh perbincangan dan tema yang sedang hangat di dunia maya,” katanya lagi.
Menurut Endy, dalam pembahasan topik seputar putusan MK ini, Petamaya mengambil tema ‘Menyakapi Pemilu Terbuka Antara #Petamaya dan Realita Publik’. Topik ini dibahas secara mendalam oleh Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah.
“Dalam tema perdana ini, kita mengangkap tema tentang Putusan Mahkamah Konstitusi pada tanggal 15 juni lalu yang hangat dibicarakan, karena terkait dengan penyelenggaraan Pemilu 2024,” sebutnya.
Dalam temuan Petamaya, ungkap calon Legislatif (Caleg) Dapil Jawa Timur IV Lumajang itu, isu soal sistem Proporsional Terbuka dan Tertutup ternyata hanya menjadi isu di kalangan elite nasional atau partai politik saja, termasuk para bakal calon anggota legislatif (bacaleg) yang akan bertarung di Pemilu 2024
“Jadi triggernya soal ini sudah muncul pada awal Januari dengan munculnya pernyataan para ketua partai politik, dan makin kebelakang intens ada 8 partai politik mendukung Pemilu terbuka, serta pernyataan Denny Indrayana yang mengungkap ada kebocoran putusan MK” ujarnya.
Sebaliknya realita di lapangan, di kalangan bawah hal ini justru tidak menjadi pembicaraan publik masyarakat bawah secara serius, berbeda ketika ada pembicaraan soal pembatalan Piala Dunia U-20 beberapa lalu.
“Dimana kita mendengarkan langsung dari masyarakat apakah pengaruh terbuka dan tertutup ini terhadap akurasi politik mereka sebagai penyaluran aspirasi mereka dan masa depan mereka, kurang dapat perhatian. Tetapi prinsipnya mereka juga menginginkan Pemilu Terbuka,” tutup Endy Kurniawan. ***





