UncategorizedSejarah Pangeran Sanghyang di Jatinegara Kaum Terkait dengan Sultan Banten

Sejarah Pangeran Sanghyang di Jatinegara Kaum Terkait dengan Sultan Banten

JAKARTA (29/7/2024), AMUNISI.CO.ID – Sejarah Pangeran Sanghyang bin Pangeran Senapati Ingalaga yang makamnya berada di komplek situs sejarah Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur, terkait erat dengan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten.

Kasie Pelindungan Sudin Kebudayaan Jaktim bersama staf di makam P. Sanghyang.

Pangeran Sanghyang yang nama aslinya Raden Aria Wangsa Diraja pernah menjadi Bupati Tangerang di bawah Kesultanan Banten. Dia adalah putra Pangeran Senapati Ingalaga atau Raden Senapati yang pernah memimpin perang Banten melawan VOC di Angke bersama Raden Aria Wangsakara pada tahun 1658.

“Raden Senapati ini masih keturunan Prabu Siliwangi,” kata Alex Prabowo , Kepala Seksi Perlindungan Sudin Kebudayaan Jakarta Timur kepada Amunisi.co.id, Senin (29/7/2024).

Selanjutnya dituturkan oleh Alex Prabowo pada tahun 1678 Pangeran Sanghyang turut serta bersama ayahnya ke Sumedang untuk memerangi VOC yang ingin menguasai kawasan Priangan.

Barkot di makam Pangeran Jayakarta

Ketika pecah perang saudara antara Sultan Haji dengan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1682, Pangeran Sanghyang memilih berpihak pada Sultan Ageng Tirtayasa Abdul Fatah sehingga harus terusir dari kampung halamannya.

Wartawan Amunisi bersama istri di depan makam P.Jayakarta

Keputusan sang pangeran itu merupakan bukti keimanannya serta kesetiaannya kepada Kesultanan Banten.

Setelah bergerilya lebih kurang satu tahun maka pada tahun 1683 Pangeran Sanghyang dan saudara saudara sepupunya yaitu Pangeran Purbaya, Pangeran Sageri dan Raden Sakee akhirnya menyerah di Cikalong, Cianjur dan kemudian diasingkan ke kawasan Jatinegara.
Di situlah mereka mendirikan pemukiman Banten yang berhasil bertahan selama 340 tahun hingga sekarang.

Wajah baru Masjid Assalafiyah di Jatinegara Kaum yang pertama kali dibangun tahun 1640

Sebagai bangsawan Banten yang paling senior dan dihormati di Batavia setelah Pangeran Purbaya, maka Pangeran Sanghyang selanjutnya diangkat oleh VOC sebagai Kapten Banten atau pemimpin komunitas Banten di Batavia. Jabatan tersebut dipegang Pangeran Sanghyang selama 5 tahun sampai beliau dicopot dari posisinya oleh VOC karena dianggap terlibat dalam pemberontakan Kapten Jonker pada tahun 1689.

Setelah tidak menjabat sebagai pemimpin resmi komunitas Banten di Batavia, Pangeran Sanghyang mulai berfokus membangun permukiman barunya di Jatinegara. Bersama saudara saudara sepupunya yaitu Pangeran Sageri dan Raden Sakee serta pengikutnya, beliau membangun negeri barunya di wilayah Jatinegara Kaum dan sekitarnya.

Sesuai dengan tradisi Banten yang religius, wilayah Jatinegara Kaum dengan masjid Assalafiyah nya yang kini termasuk masjid tertua di Jakarta, tumbuh menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di wilayah Batavia dan sekitarnya.

Masjid ini tampil sebagai pusat kegiatan komunitas Banten di Batavia dan kelak di sekitar masjid itu pula para bangsawan Banten yang berjasa besar dalam penyebaran agama Islam di wilayah Batavia hingga Bekasi dan Bogor dimakamkan.

Nama Pangeran Sanghyang muncul di arsip VOC pada tahun 1755 berkenaan dengan sebidang tanah miliknya di Petukangan, Jakarta Utara yang saat itu telah diwariskan kepada putranya, Raden Nasib. Di dalam arsip tersebut disebutkan Pangeran Sanghyang merupakan seorang Pangeran dari Banten yang telah lama meninggal.

Sejarah tokoh ini menurut Alex Prabowo berdasarkan referensi Edwin Solahuddin yang berjudul “Dari Banten ke Jakarta. Kisah Pangeran Sanghyang bin Pangeran Senapati Ingalaga Ing Banten. Sebuah cerita tentang perang Keimanan dan Kesetiaan.”

Makam Pangeran Sanghyang ini berlokasi di sebelah barat makam Pangeran Jayakarta yang kini sudah ada keterangannya yang juga diwujudkan dengan barcode

Dari buku Sejarah Pangeran Jayakarta Jatinegara Kaum, Makam & Masjid Tempo Doeloe yang ditulis Raden Triyadi Syahbandar Muda (Raden Manaf) disebutkan makam Pangeran Ahmad Jayakarta bin Pangeran Sungerasa Djayawikarta berada satu komplek dengan 4 makam keramat lainnya. Keempatnya adalah Pangeran Luhut bin Pangeran Achmad Djaketra/Jayakarta, Pangeran Surya bin Pangeran Padmanegara, Pangeran Shogeri bin Sultan Ageng Tirtayasa dan Ratu Rafi’ah binti Pangeran Sanghyang.

Menurut Alex Prabowo, bagi pengunjung situs sejarah Jatinegara Kaum , riwayat tiap bangunan cagar budaya dan tokoh yang terkait dapat diketahui melalui barcode yang telah ditempel di tempat tempat tersebut.

“Pengunjung tinggal melakukan scanning dengan handphonenya,” ujarnya. Kapan fasilitas barcode tersebut dipasang di situ, kata Alex Prabowo sekitar akhir Juni yang lalu oleh Sudin Kebudayaan Jakarta Timur.

Mengenai perhatian masyarakat sekarang ini terhadap situs sejarah tersebut wartawan Amunisi.co.id, Senin (29/7/2024) berkunjung ke Jatinegara Kaum.

Mulyadi salah seorang pengurus kompleks Makam Pangeran Jayakarta di Jatinegara Kaum Senin (29/7) menjawab selama tahun 2024 ini pengunjung atau peziarah rata rata tiap bulan mencapai 300 an orang. “Selama bulan tertentu seperti Ramadhan, peziarah sebulan bisa mencapai 1.000 orang. Seperti bulan Muharam sekarang ini juga banyak pengunjung,” imbuh Mulyadi.

Mereka kebanyakan datang dari daerah Jawa Barat seperti Cirebon, Karawang, Bogor, dan juga dari Banten dan wilayah lain seperti Demak, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Hari itu tampak puluhan rombongan 50 an peziarah dari Karawang yang datang dengan bus dan puluhan anggota TNI AD dari Zonif 201/JY untuk bekerja bakti bebenah persiapan berziarah dalam rangka HUT ke 63 . Batalyon Infantri 201 Kodam Jayakarta tersebut 30 Juli 2024 ini. (PRI)

- Advertisement -spot_img

BERITA LAINNYA DARI 阿穆尼西

Brigjen Pol Yudho Hermanto Resmi Menjabat Kapolda Sulut

MANADO, AMUNISI.CO.ID — Jabatan Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Utara...

Kesatuan Nusantara Meriahkan Harlah HIPWIN ke-5 dan HUT RI ke-81 di Taman Wiladatika Cibubur

AMUNISI.CO.ID, JAKARTA — Ormas Kesatuan Nusantara turut memeriahkan peringatan...

Puncak Acara HUT Ke-81 RI di RW 03 Malaka Jaya Meriah: Lurah Ingatkan Bahaya Kebakaran

JAKARTA, AMUNISI.CO.ID — Acara puncak peringatan Hari Ulang Tahun...

Festival Batu Penggilingan IV Hidupkan Kembali UMKM, tetapi Penyuluhan Sejarah Harus Berlanjut

JAKARTA, AMUNISI.CO.ID — Festival Batu Penggilingan yang diinisiasi anggota...

Upacara HUT RI ke-81 di SMAN 3 Manado: Kepala Sekolah Ajak Siswa Terus Berinovasi dan Berprestasi

MANADO, AMUNISI.CO.ID --  Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT)...

迎接印尼独立 81 周年 哥打莫巴古第一国立职业学校举办校内竞赛活动

为迎接印度尼西亚共和国独立 81 周年,哥打莫巴古第一国立职业学校(SMKN 1 Kotamobagu)近日举办一系列校内学生竞赛活动。2026 年 8 月 11...

巩固工作计划,印尼郑氏宗亲会(PMZI)完善组织架构及总主席选举章程

印尼郑氏宗亲会(PMZI)理事会于2026年7月10日(星期五)在雅加达北部西帕德芒岸(Pademangan Barat)区的郑瑞强(Zheng Rui Qiang)府邸举行了一场非正式会议。 本次会议自印尼西部时间13:00持续至19:30,旨在制定并完善各项战略工作计划要点,以便日后与印尼郑氏宗亲会总主席共同召开会议进行讨论。 共有八位理事代表出席了此次会议,分别是:郑瑞强(Zheng Rui Qiang)、郑西杰(Zheng Xi Jie)、郑文江(Zheng Bun...

陈永辉在埃迪・萨德利告别仪式上朗诵普图・奥卡・苏坎塔诗作

在送别知名人士埃迪・萨德利的场合上,陈永辉现场朗诵了一首题为《埃迪・萨德利:风雨无阻的情谊》的诗作,以此表达对逝者的追思与敬意。 这首诗由埃迪・萨德利的挚友 —— 诗人普图・奥卡・苏坎塔专门创作,字里行间满是二人历经岁月考验、不受风雨寒暑影响的深厚情谊。陈永辉以真挚的情感、沉稳的语调完成朗诵,让在场众人得以透过文字,重温埃迪・萨德利生前的品格与他和友人之间珍贵的情感联结。 普图・奥卡・苏坎塔的诗作情感饱满、意象真切,既饱含对友人离去的不舍,也赞颂了这份跨越时光、始终如一的真挚友谊,为这场告别仪式增添了一份深沉而动人的诗意。 献给艾迪·萨德利 友谊,不因风雨与烈日而褪色 我们相识于雅加达芒加勿刹(Mangga Besar)的一所房子里, 那是二十世纪七十年代, 当“新秩序”政权正凶猛横行, 践踏着人性的岁月。 那是我们第一次相见, 这份情谊, 一直延续到他生命最后的一次呼吸。 他给予的是理性的勇气; 他向我伸出援手, 把我, 以及许多我所认识的人, 从漆黑的泥沼中拉了出来, 也帮助我们渡过人生惊涛骇浪。 有时, 艾迪·萨德利像一根鞭子, 催人奋进; 有时, 他又像盲人的白手杖, 给予方向与依靠; 有时, 他更像一道光, 照亮前路。 艾迪兄啊, 你是一位耕耘土地、播撒种子的农夫; 到了收获的季节, 你总是邀请众人共享丰收。 一路走好,艾迪兄。 愿你在新的世界里, 永享安乐。 ——普图·奥卡·苏坎塔 2026年7月19日,雅加达·拉瓦芒贡(Rawamangun) Welli Martani (Chen Yong Hui) Membacakan...

美军夜袭伊朗基础设施 造成 8 死 20 伤

伊朗国家通讯社周五通报,美军于周四夜间至周五清晨对伊朗多省基础设施发动袭击,已造成 8 人死亡、20 人受伤。 伊朗卫生部表示,本月美军新一轮袭击累计已造成 38 人死亡、超 400 人受伤,遇难及伤者中包含多名妇女与未成年人,目前仍有 47...
- Advertisement -spot_img