JAKARTA (13/07/2023), AMUNISI.CO.ID – Artificial intelligence (AI) dapat diartikan sebagai kecerdasan buatan, yang ditambahkan dalam sebuah sistem komputer. Sehingga bisa menciptakan teknologi menyerupai cara berpikir dan berperilaku manusia.
Bahkan, Kepala Pusat Riset Pendidikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), DR. Trina Fizzanty berbicara dalam diskusi Gelora Talks bertajuk ‘Articial Intelegence: Ancaman atau Peluang? yang digelar secara daring dan disiarkan langsung di kanal YouTube Gelora TV, Rabu (12/7/2023) petang, mengatakan, perkembangan penggunaan AI menjadi tantangan bagi para ilmuwan.
Apalagi, lanjut DR. Trina, perbincangan soal ini (AI) menjadi hangat, karena yang dibicarakan mengenai ancaman dan peluang.
Memang diakui, di bidang pendidikan dan manajemen waktu, munculnya teknologi ini sangat membantu, sehingga semua negara saling kejar-kejaran dalam dalam mengembangkan teknologi ini.
“Di Indonesia sendiri, penggunaan AI baru sebatas untuk pendidikan online dalam rangka mempermudah para siswa atau mahasiswa,” ujarnya.
Tetapi, ia menekankan kalau pemanfaatan AI ini perlu memperhatikan aspek kemanusiaannya seperti etik, bahkan nilai-nilai karakter Pancasila dan ini menjadi bahasan riset di BRIN. Karena nanti akan ada pergeseran nilai dari tadinya produktif, menjadikan kurang produktif dengan adanya perkembangan teknologi.
“Kami berpandangan jika berbicara peluang maka, penggunaan AI ini harus dibarengi dengan pembelajaran berbasis karakter dan memasukkan nilai-nilai Islam dalam masyarakat. Karena kami khawatir, ini akan menyebabkan persoalan tentang etika, sehingga bisa menjadi perhatian kita semua. Jadi kalau kita bicara ancaman atau peluang, pada intinya sebenarnya soal kode etik. Disinilah perlunya kita regulasi-regulasi untuk mengantipasinya,” demikian Kepala Pusat Riset Pendidikan BRIN ini.
Seperti Pisau Bernata Dua
Ketua Bidang Generasi Muda DPN Partai Gelora Hudzaifah Muhibullah menambahkan, kehadiran AI ini seperti pisau bermata dua, tergantung siapa yang menggunakan bisa menjadi peluang atau ancaman.
“Ibarat pisau buat masak saja, itu bisa menjadi ancaman kalau yang memegang pisau itu adalah penjahat. Jadi ancaman itu timbul dari siapa yang menggunakan, bisa fatal akibatnya. Tapi kalau istilahnya peluang, itu begitu besar terutama bagi anak muda seperti saya yang sedang merintis usaha,” katanya.
Udef sapaan akrab Hudzaifah Muhibullah menegaskan, dampak penggunaan AI sangat besar bisa menghapus peradaban manusia, karena itu orang-orang seperti Elon Mask, Bill Gates dan lain-lain sebenarnya menyesal telah mengembangkan AI ini.
“AI ini bisa memusnahkan manusia, dalam bidang militer bisa digunakan untuk peperangan persaingan global. Peperangan menggunakan AI sangat berbahaya, bisa kita tonton di film terbaru Tom Cruise, Mission Impossible 7, itu lawannya AI. Kehadiran AI juga menghilangan banyak pekerjaan dan menciptakan pengangguran.
“Kekhawatiran generasi muda pada umumnya, takut kehilangan lapangan pekerjaan ke depannya,” pungkas Udef.
Di akhir acara diskusi, dilakukan demonstrasi penggunaan teknologi AI, dimana Ketua Bidang Rekuitmen Anggota DPN Partai Gelora Endy Kurniawan yang bertindak sebagai host memberikan pertanyaan kepada Miss AI Gelora mengenai peran partai politik baru seperti Partai Gelora dalam memberikan usulan kebijakan agar AI lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara.
Miss AI Gelora pun memberikan jawaban tentang peran parpol baru dalam mempengaruhi kebijakan tentang pemanfaatan AI bagi negara. Dalam era digital, menurut Miss AI Gelora, yang terus berkembang terus menjadi topik yang relevan dalam kebijakan negara.
“Kesimpulan partai politik baru punya peran signifikan terhadap kebijakan pemanfaatan untuk masyarakat,” kata Miss AI Gelora. ***





