JAKARTA (4/1/2025), AMUNISI.CO.ID — Menjelang lima abad Kota Jakarta masyarakat dapat melihat sendiri bukti bukti sejarah dan perkembangan Kota Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia ini di Museum Sejarah Jakarta. Karena itu tak mengherankan bila museum di Jantung Kota Tua itu tak pernah sepi dari pengunjung.
“Pada 1 Januari 2025 pengunjung Museum Sejarah Jakarta ini mencapai 4.611 orang. Dari jumlah itu mayoritas pelajar dan mahasiswa yang mencapai 2.800 orang, disusul pengunjung dewasa 1.746 orang dan wisatawan manca negara 65 orang,” kata Istiqomah Armita Wati Kepala Satuan Pelayanan Museum Sejarah Jakarta kepada Amunisi.co.id, hari pertama Tahun Baru 2025.
Hal itu dibenarkan Didik Cahyono.selaku Pemandu Museum Sejarah Jakarta saat bertugas di museum tersebut , Sabtu (4/1/2025).
“Pengunjungnya hari Kamis (2/1) yang lalu 2.027 orang , Jumat (3/1) turun menjadi 1.200 orang, dan Sabtu ini meningkat menjadi 2.266 orang, ” tambah Didik Cahyono. Diharapkan hari Minggu ini jumlah pengunjungnya meningkat lagi.
Mengenai bunker atau ruang bawah tanah di bagian depan bangunan Museum Sejarah Jakarta, Istiqomah Armita Wati mengatakan, ruang itu masih ditutup. “Masih ada airnya. Jadi sekarang ditutup,” katanya. Air dalam bunker itu rembesan air tanah.
Ketika Amunisi.co.id, melihatnya dari sela sela jeruji besi pintu bunker sebelah barat Kamis (2/1) yang lalu, terlihat airnya berwarna hijau.
Menurut sejarahnya, bunker di gedung yang didirikan pemerintah VOC tahun 1710 itu, baru dibuat pemerintah Hindia Belanda sekitar tahun 1941/1942. Saat itu tentara Jepang sudah akan merangsek ke Pulau Jawa dalam Perang Dunia II.
Sementara Didik Cahyono menjelaskan, pengunjung museum.banyak yang tertarik pada koleksi peta Kota Jayakarta dan Batavia. Namun ada koleksi yang dipajang di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta berupa sepasang batu penggilingan dan tempat minuk kuda dari abad ke 18.
Ada lagi koleksi lukisan Kota Batavia yang dipandang dari arah sebelah utara Pelabuhan Sunda Kelapa. Tampak pada lukisan kuno itu gunung Salak, Bogor di kejauhan, di samping petak petak kota Batavia pada latar depannya. Namun benda seni itu dipajang di pintu keluar arah timur museum, sehingga kurang mendapat perhatian pengunjung..
Di luar museum tampak puluhan pengunjing Kota Tua berteduh di teras bangunan kuno tersebut sambil menikmati minuman es teh dan memandang ke arah plaza Taman Fatahillah.
Tampak puluhan anak anak dan orang orang dewasa bersepeda onthel sewaan dari depan Museum Wayang berkeliling sampai ke Pintu Utara Stasiun Jakarta Kota. Memandang ke utara tampak bekas pancuran di tengah plaza dengan latar belakang deretan gedung gedung bersejarah Cafe Batavia, Jasindo, Kantor Pos serta Meriam Si Jagur dari abad 17. (PRI)





