KTT G20 di Bali, Berikan Hasil Positif

Presiden RI Jokowi saat menutup Perhelatan KTT G20 di Bali, pada Rabu kemarin (16/11/2022). (Foto: Ist)

JAKARTA (18/11/2022), AMUNISI.CO.ID – Kapuslitbang Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas), Robi Nurhadi mengatakan, pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Group of Twenty/G20 yang baru saja usai digelar di Nusa Dua, Bali, sangat luar biasa. Hasil dari gelaran tersebut, Indonesia memiliki peluang dan kapasitas untuk melakukan proses ke perundingan bisa diakselerasi menjadi lebih efektif.

“Tentu menu perundingan yang bisa ditawarkan. Kita lihat dua hari ini, namun demikian konteks kemampuan berunding, tetap ukuran strategi. Tidak hanya kepentingan inner side, tetapi juga dilihat dari eksternal,” ujar Robi kepada wartawan, Jumat (18/11/2022).

Bacaan Lainnya

Menurut Robi, perang Rusia-Ukraina tidak hanya melibatkan kedua negara, tetapi merupakan perang polarisasi. Dengan begitu, akan sulit siapa yang menjadi juru damai dalam meredakan persoalan.

“Akibat perang polarisasi ini, tidak ada negara pengendali dan nantinya terbentuk tatanan baru,” katanya.

Karena itu, menurut Robi, peran Indonesia dalam KTT G20, cukup positif. Namun butuh peran bersama melibatkan berbagai negara kawasan untuk mewujudkan berbagai kesepakatan.

“Setidaknya meredakan ketegangan yang selama ini antara AS dan China, dengan pertemuan Xi Jinping dan Joe Biden. Ini memperlihatkan Indonesia memiliki peran penting dalam perdamaian dunia,” tuturnya.

Tatanan Dunia

Sedangkan Kepala Departemen Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran Arfin Sudirman dalam Gelora Talk beberapa waktu lalu, menilai kalau tatanan dunia hingga sekarang masih menganut hukum rimba atau anarkistis dalam kaitanya hubungan keamanan multilateral. Ketika terjadi perang yang menyangkut multilateral, maka tidak berlaku hukum antar negara.

“Sehingga hubungan antar negara di dunia bersifat anarkis. Untuk itu, setiap negara harus mampu bertahan survival ditengah ketidakpastian tatanan global ini. Tidak ada aturan hukum yang pasti dalam hubungan tatanan global. ini pandangan dari pemaham orang realis,” kata Arfin.

Meski begitu, menurut Arfin bagi pandangan kaum pesimistis ini mendapat tentangan dengan kelompok lainnya. Kelompok yang berbeda pandangan ini, menilai masih ada peluang bagi perdamaian di tatanan global.

“Padahal secara realita pandangan realis yang sering terjadi. Perang Irak, begitupun lahirnya G20 juga tak jauh beda, demikian pula perang Rusia-Ukraina. Sehingga sudah betul, Indonesia mencari jalan tengah dalam problem multilateral dalam konteks Presidensi G20,” tambahnya lagi.

Karena itu, momentum kepemimpinan Indonesia dalam KTT G20 tahun 2022 ini, cukup tepat. Indonesia dipandang sebagai negara yang bisa menjembatani persoalan Rusia dan Amerika Serikat dan sekutunya. Namun, Arfin memperkirakan, perang Rusia-Ukraina tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

“Setidaknya perang masih saja berlangsung paling cepat musim semi mendatang. Gencatan senjata Rusia kemungkinan tidak dalam waktu dekat. Apalagi popularitas Vladimir Putin cukup tinggi karena berhasil turunkan inflasi dan membayar utang IMF,” terangnya. ***

Total Views: 583

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *