JAKARTA (2/5/2024), AMUNISI.CO.ID — Pulau Kelor dalam lingkungan Museum Arkeologi Onrust di Kepulauan Seribu Selatan, pada 25 April 2024 telah dibuka kembali untuk wisatawan. Selama 5 bulan pulau seluas 8.199 m2 itu dibenahi dengan mengamankan bagian utara dan selatannya dari abrasi dengan pengurugan pasir serta pembangunan kembali dermaga di bagian barat daya pulau tersebut.
Jumlah pengunjung Museum Arkeologi Onrust selama bulan April ini juga meningkat lebih 2 kali lipat menjadi.1.159 orang dibanding bulan Maret sebanyak 402 orang. Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta Mis’ari mengungkapkan hal itu atas pertanyaan Amunisi.co.id Kamis (2/5/2024).

Lebih lanjut Mis’ari mengungkapkan, untuk penonton bioskop museum (bioseum) Malahayati di Museum Bahari tgl 11-15 April 2024 yang mendapat hadiah trip ke Pulau Onrust, juga sudah dapat mengunjungi Pulau Kelor. Trip tersebut telah dilaksanakan Sabtu (27/4/2024) yang lalu dengan peserta 12 orang termasuk Hamid tenaga edukator dari Museum Bahari.

Perjalanan laut dilakukan dari dermaga Muara Kamal dengan perahu motor milik Museum Kebaharian Jakarta bersama Rosadi, pemandu Museum Arkeologi Onrust.

Pertamakali rombongan mendarat di dermaga baru Pulau Kelor naik ke bangunan untuk informasi. Di situ kita melihat gambar perencanaan maupun existing Pulau Kelor. Dilanjutkan ke Benteng Martello berpenampang lingkaran bergaris tengah 14 meter yang dibangun Belanda tahun 1850.
Namun di luar benteng ada bekas bangunan tembok bata merah yang juga melingkar dengan garis tengah lebih besar lagi.
Tampak pintu benteng yang menghadap ke barat diperkuat dengan konstruksi kusen dan dipasang tali tanda dilarang masuk. Ade Alamando arkeolog dan Teuku Rizki Kepala Satpel Museum Arkeologi Onrust menjelaskan pelarangan itu dimaksudkan untuk melindungi bangunan cagar budaya itu dari kerusakan dan demi keselamatan pengunjung.
Setelah rombongan berfoto dengan latar belakang benteng dan kembali ke dermaga sempat bertemu rombongan para peneliti yang dikawal Firman Faturrahman seorang edukator Museum Bahari dan Andi dari FISIP Universitas Indonesia.
Penjelasan tentang Pulau Kelor dan bentengnya diberikan oleh Ridwan Saide pemandu situs tersebut.
“Rombongan peneliti ini 14 orang. Mereka dari Amerika Serikat, Jepang dan Vietnam,” kata Andi.
Terlihat bagian utara dan selatan Pulau Kelor membentang daratan baru berupa hamparan pasir dengan batas ratusan heksagon.
Dari Pulau Kelor perahu motor meluncur ke Pulau Bidadari. Rombongan dengan 12 orang langsung ke benteng di tengah pulau resort pariwisata tersebut. Benteng di sini lebih besar dengan diameter 23 m.
Di dalam benteng tersebut beberapa orang melihat ada seekor biawak sehingga heboh. Namun melihat kedatangan para pengunjung itu binatang mirip komodo tersebutpun menyingkir.
Dari Pulau Bidadari rombongan menyeberang ke barat menuju Pulau Onrust. Dermaga pulau yang pernah menjadi galangan kapal di abad 17 ini cukup baik.
Di pulau karantina haji 1911 -1933 ini rombongan Museum Bahari bertemu lagi dengan rombongan peneliti dari luar negeri di Gedung VOC.
Setelah makan siang dan solat dzuhur rombongan Museum Bahari bergeser ke Pulau Kahyangan atau Pulau Cipir yang berair tawar. Di pulau ini pengunjung dapat berenang, bermain banana boat, memancing atau berwisata kuliner. Lengkap sudah trip tersebut dilakukan ke 4 pulau yang saling berdekatan.
Dari para penerima hadiah trip ke Museum Arkeologi Onrust ada seorang pelajar bernama Salsabila (15), siswi SMP Negeri 261 Jakarta Utara. Ia menonton film Arung produksi UP Museum Kebaharian Jakarta dan film sejarah budaya produksi Dinas Kebudagaan DKI Jakarta di Bioskop Museum Bahari pada 15 April 2024.
“Saya baru sekali ini ke Onrust. Tentang sejarahnya hanya tahu sedikit,” kata Salsabila siswa klas 9 itu. Ia ditemani adik lakilakinya bernama Asha yang baru berumur 7 tahun.
Warga RW 04 Penjaringan Jakarta Utara ini mengaku ayahnya seorang nelayan. Ketika melaut bisa sampai Banten dan Maluku.
Lain lagi dengan Reggy Fernanda, ketika ditanya Jumat (3/5/2024) menjelaskan, ia mengikuti trip Onrust tersebut bersama istrinya Dina yang menggantikan ibunya yang kurang fit untuk bepergian ke laut
“Ini pertama kalinya saya ke Kepulauan Seribu. Cukup bagus pulau pulaunya. Perjalanannya melewati bagan bagan mengesankan,” kata Reggy warga RW 03 Malaka Jaya, Jakarta Timur. Ia berpikir bila ada penyewaan sepeda di Pulau Onrust akan lebih asyik lagi.
Ridwan (24) dari Ciledug dan Dicky (24) dari Ciputat mengaku sama sama mendapat hadiah Trip Onrust ini ketika nonton film budaya di Bioskop Museum Bahari 12 April yang lalu. “Ini pertama kalinya saya kemari. Pulau Kelor itu memang cantik dan menarik,” kata Ridwan yang diiyakan Dicky. Keduanya saat itu sedang beristirahat di dekat meriam besar dari abad 17 di Pulau Cipir.
Kedua pemuda itu mengatakan meriam Pulau Cipir ini besarnya sama dengan meriam Si Jagur dari Macau yang dipajang di Taman Fatahillah, Kota Toea Jakarta. (PRI)


