JAKARTA (4/10/2024), AMUNISI.CO.ID.- Bertahun tahun lamanya lelaki bernama Ahro (59) warga Gang Bona RT 03/RW 03 Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur sering terlihat mengayuh sepedanya mengantar koran atau majalah pelanggannya sambil menjajakan yang eceran.
Kring kring terdengar sesekali di sela sela suaranya menawarkan koran harian , mingguan maupun majalah tematik dan hiburan
Pagi pagi sekitar jam 6 lelaki ini bersepeda dengan keranjang di stang berisi berbagai koran dan majalah melintas di Jl I Gusti Ngurah Rai, belok kiri ke Jalan Teratai Putih, Mawar Merah dan Jalan Nusa Indah kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.
Belok ke Gang 3 terdengar suara “koran koran..koran… Warta Kota, Pos Kota..”
Di situ ada pelanggannya bernama Zulfan Nachrawi.. Usianya sekitar 76 tahun..
“Pak Haji itu sudah berlangganan koran sejak dia tinggal di Penggilingan,” kata Ahro suatu hari.
Namun kini Ahro tidak mengayuh sepedanya lagi untuk pekerjaannya itu. Sejak 4 bulan yang lalu Ahro meluncur pelan dengan sepeda listrik atau selis barunya.
“Selis ini dibelikan anak. Waktu itu harganya Rp 5,5 juta dapat diskon. Kini harganya sudah naik,” tuturnya pekan lalu.
Ditemui di rumahnya berukuran sekitar 40 m2 di Gang Bona , Ahro bercerita, usai Lebaran Idul Fitri bulan April 2024 ia sakit, sampai.harus dirawat di RSUD Duren Sawit selama 8 hari.
Karenanya setelah sembuhpun ia tidak menjajakan koran. “Habis untuk mengangkat sepeda waktu menyeberang rel KA di kolong jembatan layang ke Jl I Gusti Ngurah Rai sudah nggak kuat,” tuturnya lirih.
Sementara anak lelakinya Asep Karyana asyik dengan pekerjaannya sendiri di teras rumah, Ahro melanjutkan ceritanya.
“Setelah lulus SD di Bandung, saya cari kerja ke Jakarta. Bermacam macam pekerjaan saya jalanin. Berjualan mainan anak anak, jual payung waktu musim hujan, jualan baju dan jualan martabak telor juga pernah,” tuturnya.
Namun ketika anaknya yaitu Asep bersekolah SD, Ahro mulai berjualan koran. Waktu itu tahun 1994.
Tetapi yang dirasakan Ahro berjualan koran inilah yang paling menyenangkan.
“Makanya masih bertahan hingga sekarang? ” tanya Amunisi.co.id.
Dijawab oleh Ahro dengan tertawa lebar, yang bermakna Ya!
Namun bapak 4 anak yang telah memiliki 6 cucu dari 2 anaknya yang sudah menikah ini mengungkapkan, banyak dukanya juga yang dia alami selama menjadi loper dan pengecer koran serta majalah ini.
“Kalau laku semua untungnya sehari bisa Rp 50.000, sampai Rp 60.000,. Tapi bila ada yang tidak laku, sehari harus merugi Rp 20.000, sampai Rp 30.000. Soalnya yang tidak laku tak bisa kembali ke agen,” ujarnya.
Jalan keluarnya dikumpulkan dulu lalu dijual kiloan.
Sekarang ini Ahro menjual 18 eksemplar Pos Kota dan 18 eksemplar Warta Kota serta 2 eksemplar Kompas plus beberapa mingguan. Jumlah pelanggannya tinggal 20 an orang.
“Susut sejak ada hape android,” ungkapnya.
Padahal awal tahun 2000 an lebih banyak lagi koran harian dan mingguan yang dapat dijualnya. Jumlah pelanggannya waktu itu 50 orang lebih.
GIGIT JARI.
Pengalaman pahit bila para pengecer seperti Ahro tak kebagian koran, majalah atau penerbitan yang sudah dipesan pelanggannya, gara gara ada berita heboh.
Ia ingat koran terbitan Jakarta dan majalahnya mengalami diborong seperti itu hingga dia gigit jari.
“Sudah diborong di percetakannya. Jadi kami tak kebagian,” tutur Ahro yang mengakui mengambil dagangannya itu dari agen bernama Damin di dekat stasiun KA Klender Baru.
Damin (56) agen koran tersebut membenarkan para pengecerlah yang rugi bila ada yang memborong atau memblokir satu penerbitan harian maupun berkala.
“Biasanya itu memuat berita yang gawat, baik berita pemerintah atau pihak lainnya. Namun bagi kami tak berpengaruh,” kata Damin yang ditemui di pangkalannya dekat Stasiun Klender Baru, Selasa (1/10/2024) pagi.
Damin mengaku menjadi agen koran dan majalah sejak akhir tahun 1980 an . Waktu itu masih ada koran Sinar Pagi, Berita Buana.
Koran mingguan seperti Buana Minggu, Sentana, Inti Jaya dan lainnya tiap pekan ditunggu pelanggannya.
“Saya masih ingat harga ecerannya Pos Kota Rp 100,- Kompas Rp 150,- dan Sinar Pagi Rp 50,- ” ujar Damin. Harian Terbit dan Pelita juga termasuk media yang meramaikan pemberitaan Jakarta dan nasional.
Menurutnya tahun 1990 ia mengageni 60 penerbitan harian, mingguan maupun berkala bulanan dengan seluruhnya sekirar 10.000 eksemplar.
Pengecer yang menjadi pelanggannya sekitar 100 orang.
“Kini tinggal 16 orang,” kata Damin. Itu termasuk Ahro dan kawan kawannya seperti Agus dan Pendi yang mempunyai wilayah pemasaran masing masing.
Yaitu di wilayah Pondok Kopi, Jakarta Timur dan wilayah Bintara, Bekasi Barat.
Tabloid yang masih bertahan diageni Damin hingga sekarang tinggal Nyata.
Agen koran lainnya Amin yang kini mangkal di Kramat Kwitang, Jakarta Pusat, menuturkan tahun 1997 -2007 ia masih mengageni koran 25 penerbit dan majalah lebih dari 15 penerbit.
“Sekarang kurang lebih tinggal 10 penerbit Pak. Itupun oplahnya sedikit,” ungkapnya.
Soalnya sekarang ini kata Amin banyak yang menikmati berita melalui media online dengan menggunakan hp.
Dulu Amin punya pelanggan yang mengecerkan koran dan melayani kantor kantor.
“Kini yang langganan pribadi nggak ada lagi. Tinggal kantor kantor yang rekeningnya dibayar kantor juga,” ungkapnya.
Waktu mangkal di Jatinegara, Amin juga pernah melayani pelanggan kantor Wali Kota Jakarta Timur.
Dari para pengecer dan agen penerbitan koran itu dapat disimpulkan bahwa pembaca koran lembaran kertas sekarang ini semakin terbatas. Pada umumnya mereka berumur 50 tahun ke atas. (Suprihardjo).


