JAKARTA, AMUNISI.CO.ID — Festival Batu Penggilingan yang diinisiasi anggota DPRD DKI Jakarta, Syahroni, S.E., dan diselenggarakan setiap tahun sejak 2023 di situs cagar budaya RW 07, Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, berhasil menghidupkan kembali perekonomian usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Namun, upaya pelestarian cagar budaya dan penyuluhan sejarahnya, terutama kepada generasi muda, harus terus berlanjut dan tidak semata-mata dilakukan melalui kegiatan seremonial.
Demikian diungkapkan Ketua LMK Kelurahan Penggilingan H. Bagyo Supomo, S.H., dan Pengamat Budaya dan Pariwisata Jakarta H. Abu Galih kepada Amunisi.co.id, Rabu (26/8/2026).
Hal itu disampaikan setelah berlangsungnya Festival Batu Penggilingan IV sejak Kamis (20/8), dengan puncak acara pada Sabtu (22/8), dan berakhir Minggu (23/8).
Bagyo Supomo dan Abu Galih sama-sama melihat bahwa hingga kini masih banyak orang yang menganggap batu penggilingan tersebut dahulunya digunakan untuk menggiling padi.
“Padahal yang benar itu batu penggilingan tebu yang diproses menjadi gula,” tandas Bagyo.
Menurut Bagyo, penyuluhan mengenai sejarah cagar budaya Batu Penggilingan pernah dilakukan oleh H. Sri Widodo, anggota LMK Penggilingan dari RW 09, pada 2025 lalu di SDN 09 Penggilingan.
“Penyuluhan itu dilakukan bersama guru sekolah tersebut dan diikuti para siswa kelas IV,” kata Bagyo.
Hal itu dibenarkan H. Sri Widodo. Ia menambahkan bahwa kegiatan penyuluhan tersebut dilaksanakan bersama para guru dan diikuti oleh siswa kelas IV.
Sementara itu, Abu Galih mengakui bahwa semula ia ragu apakah batu yang dimaksud digunakan untuk menggiling padi atau tebu. Pasalnya, di wilayah Penggilingan dan Cakung, sejak 1980 hingga 2010 masih banyak terdapat sawah. Sementara itu, kebun tebu tidak pernah terlihat.
Karena itu, ia sempat berkesimpulan bahwa batu tersebut dulunya digunakan untuk penggilingan padi.
Namun, setelah bertemu dengan Muhammad Jaya, tokoh warga RW 07 Penggilingan, yang mengajaknya bersama arkeolog Candrian Attahiyat (alm.), peneliti Suhu Djadja, dan Rusli Rawin (alm.) melihat sejumlah batu penggilingan yang berpasangan, barulah ia yakin bahwa batu tersebut merupakan bagian dari alat penggilingan tebu.
Abu Galih menuturkan, penyuluhan mengenai sejarah Batu Penggilingan juga pernah dilakukan Muhammad Jaya secara langsung di lokasi (in situ) di Gang Aim, RT 11/RW 07 Penggilingan, pada Maret 2021.
Saat itu, Muhammad Jaya selaku Ketua Forum Silaturahmi Betawi Indonesia (FSBI) bersama anggota LMK Penggilingan Adriansyah Putra Nasution, yang sejak kecil tinggal di RW 07, memberikan penyuluhan kepada 10 anak yatim setempat, mulai dari usia sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.
Ketika itu, kawasan RW 07 Penggilingan masih dalam proses pengajuan oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta untuk ditetapkan sebagai cagar budaya.
SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 585 Tahun 2022 kemudian menetapkan enam batu penggilingan yang berada di RT 010 dan RT 011/RW 07 sebagai cagar budaya. Batu-batu tersebut merupakan bagian dari penggilingan tebu industri gula tradisional abad ke-17 hingga ke-18.

Puncak Festival dan Kebangkitan UMKM
Bagyo maupun Abu Galih turut hadir pada puncak Festival Batu Penggilingan IV ketika Wali Kota Jakarta Timur H. Munjirin dan anggota DPR RI Komisi IX Surya Utama atau Uya Kuya meninjau festival tersebut pada Sabtu (22/8/2026).
Bersama inisiator festival, H. Syahroni, S.E., mereka menyerahkan hadiah kepada regu PPSU yang meraih juara I dan II lomba kekompakan dan Peraturan Baris-Berbaris (PBB), yang diikuti 17 kelurahan di Jakarta Timur.
Juara I diraih PPSU Kelurahan Jatinegara Kaum dengan hadiah uang pembinaan Rp7,5 juta, sedangkan juara II diraih PPSU Kelurahan Rawamangun dengan hadiah Rp5 juta.
Bersama Camat Cakung H. Rohmad, wali kota dan anggota DPR RI tersebut juga meninjau deretan UMKM yang mengikuti bazar di pinggir Kali Buaran, Penggilingan.
Menurut Ketua Panitia Muhammad Sehu, peserta bazar UMKM mencapai sekitar 70 orang, termasuk para pedagang.
Sehu juga mengakui bahwa masih banyak warga yang mengira batu penggilingan tersebut dahulunya digunakan untuk menggiling padi.

Berpotensi Menjadi Destinasi Wisata
Wali Kota Jakarta Timur Munjirin maupun anggota DPR RI Surya Utama (Uya Kuya) melihat perkembangan positif sikap masyarakat terhadap lingkungan tempat tinggal mereka setelah adanya Festival Batu Penggilingan.
Uya Kuya mengatakan, dibandingkan kondisi pada 2012–2017 ketika ia menjadi penduduk Jakarta Timur, lingkungan Penggilingan sekarang jauh lebih baik.
“Sekarang tempat ini berpotensi menjadi destinasi wisata,” katanya.
Namun, ia menambahkan bahwa masih diperlukan perbaikan dalam masalah kebersihan serta pengembangan wisata air.
Gagasan tersebut sebenarnya telah dipikirkan Syahroni saat festival serupa pada 2025 lalu, melalui penataan lingkungan sepanjang sekitar 1.200 meter di sisi timur Kali Buaran di RW 07.
Ia mengharapkan adanya bendung dan pintu air di bagian hilir. Dengan demikian, permukaan air di RW 07 dapat lebih tinggi dan memungkinkan perahu digunakan untuk kegiatan wisata air.
Wali Kota Jakarta Timur menegaskan akan memberikan dorongan nyata untuk mendukung kebutuhan tersebut.
“Sisi sini sudah rapi. Nah, bagaimana dengan sisi sana?” tanya Wali Kota sambil mencari sosok Lurah Jatinegara yang diharapkan segera menertibkan bangunan liar di tepi barat Kali Buaran.
Ia juga mengingatkan agar Camat Cakung ikut mendorong penataan lingkungan di sepanjang aliran Kali Buaran tersebut.
Pengamat budaya dan pariwisata Jakarta H. Abu Galih menambahkan bahwa Penggilingan sudah cukup dikenal masyarakat dengan keberadaan Perkampungan Industri Kecil (PIK), yang menjadi salah satu tujuan wisata belanja busana dan produk lainnya.
Sementara itu, situs cagar budaya Batu Penggilingan berada tidak jauh dari kawasan PIK.
Angkutan umum seperti TransJakarta dan JakLingko/Minitrans juga melewati RW 07 dan kawasan PIK Penggilingan. Karena itu, menurut Abu Galih, situs cagar budaya tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah, budaya, sekaligus wisata belanja.
Pada puncak acara festival, Wali Kota Munjirin bersama Uya Kuya dan Syahroni juga mengawali kegiatan penanaman pohon tabebuya berbunga kuning di bantaran Kali Buaran.
Penanaman tersebut diharapkan dapat menambah keindahan kawasan Jalan Kali Buaran pada masa mendatang.
Usai menanam pohon, Syahroni menjelaskan bahwa Festival Batu Penggilingan setiap tahun menghadirkan kegiatan baru yang memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan kawasan cagar budaya.
“Dari lomba baris-berbaris tahun ini kita jadi tahu, ternyata para petugas PPSU bisa bersikap disiplin dan bekerja dengan kompak,” ujarnya.
Sebagai festival budaya, kegiatan tersebut juga menampilkan panggung hiburan gambang kromong serta acara palang pintu yang menampilkan pencak silat sebagai bagian dari budaya Betawi. (PRI)
第四届“磨石节”重振中小微企业经济,但历史文化宣传仍应继续
雅加达,AMUNISI.CO.ID —— 由雅加达首都特区省议会(DPRD DKI Jakarta)议员 Syahroni S.E. 发起的“磨石节”(Festival Batu Penggilingan),自2023年以来每年在东雅加达Cakung区Penggilingan村RW 07的文化遗产保护地举行。今年的第四届活动再次带动了当地微型、小型和中型企业(UMKM)的经济发展。
不过,文化遗产保护以及相关历史知识的宣传,特别是面向年轻一代的历史教育,仍然需要持续开展,不能只依靠节庆活动等仪式性活动。
Penggilingan村社区协商机构(LMK)主席H. Bagyo Supomo, S.H.以及雅加达文化和旅游观察人士H. Abu Galih于2026年8月26日向Amunisi.co.id表示了上述看法。
第四届“磨石节”于8月20日星期四开幕,8月22日星期六举行主要活动,并于8月23日星期日结束。
Bagyo Supomo和Abu Galih都认为,目前仍有不少人认为这些“磨石”过去是用来碾米的。
“实际上,这些石头是用来压榨甘蔗,然后加工成糖的。”Bagyo强调说。
Bagyo介绍,关于“磨石”文化遗产历史的宣传活动,曾于2025年由Penggilingan村RW 09的LMK成员H. Sri Widodo在Penggilingan 09号公立小学(SDN 09)开展。
“当时的宣传活动与学校老师一起进行,参加者是四年级学生。”Bagyo说。
H. Sri Widodo也证实了这一情况。他补充说,这次活动由他与学校教师共同组织,参加者为四年级学生。
另一方面,Abu Galih表示,起初他也不确定这些磨石究竟是用于碾米还是压榨甘蔗。
原因是,从1980年至2010年,Penggilingan和Cakung地区仍有大量稻田,而甘蔗种植园却从未明显存在。
因此,他一度认为这些石头过去是用于碾米的。
后来,在认识Penggilingan RW 07居民代表Muhammad Jaya后,情况发生了变化。Muhammad Jaya曾邀请考古学家Candrian Attahiyat(已故)、研究人员Suhu Djadja以及Rusli Rawin(已故)一起查看当地成对分布的多组磨石。
经过实地观察,Abu Galih才确认这些磨石是过去用于夹压甘蔗的传统制糖设备。
Abu Galih还介绍说,Muhammad Jaya曾于2021年3月,在Penggilingan的Gang Aim、RT 11/RW 07现场(in situ)开展过关于磨石历史的宣传教育活动。
当时,Muhammad Jaya作为印度尼西亚巴达维族友好协会(FSBI)主席,与Penggilingan村LMK成员Adriansyah Putra Nasution共同开展活动。Adriansyah自幼居住在RW 07。
当天共有10名当地孤儿参加活动,年龄从小学到初中不等。
当时,RW 07 Penggilingan地区仍处于雅加达文化局申请将其确定为文化遗产保护地的过程中。
2022年第585号雅加达省长令随后正式将位于RT 010和RT 011/RW 07的6块磨石确定为文化遗产。这些石头属于17至18世纪传统制糖工业使用的甘蔗压榨设备。
节庆活动带动UMKM发展
Bagyo和Abu Galih也参加了第四届“磨石节”的主要活动。
2026年8月22日星期六,东雅加达市市长H. Munjirin以及印尼国会(DPR RI)第九委员会议员Surya Utama(艺名Uya Kuya)到现场参观节庆活动。
他们与节庆发起人H. Syahroni S.E.一起,为在团队协作和队列训练(PBB)比赛中获得第一名和第二名的公共设施和公共服务人员(PPSU)队伍颁奖。
来自Jatinegara Kaum村的PPSU队获得第一名,获得750万印尼盾奖金;来自Rawamangun村的PPSU队获得第二名,获得500万印尼盾奖金。
随后,市长、国会代表和Cakung区区长H. Rohmad还参观了位于Penggilingan Kali Buaran河畔的UMKM集市。
组委会主席Muhammad Sehu表示,参加此次UMKM集市的商贩和经营者约有70人。
Sehu同样承认,目前仍有不少居民认为这些磨石过去是用来碾米的。
有潜力发展为旅游目的地
东雅加达市市长Munjirin和国会议员Surya Utama(Uya Kuya)都认为,“磨石节”举办后,当地居民对居住环境的关注度和积极态度都有明显改善。
Uya Kuya表示,与2012年至2017年他居住在东雅加达时相比,如今Penggilingan地区的环境已经有了明显改善。
“现在这里有潜力发展成为旅游目的地。”他说。
不过,他同时指出,当地仍需要进一步改善环境卫生,并发展水上旅游项目。
这一想法其实早在2025年的类似节庆活动中就已得到Syahroni的关注。当时,当地开始对RW 07 Kali Buaran东侧约1,200米长的环境进行整理和改善。
Syahroni希望在下游建设拦河坝和水闸,使RW 07一带的水位提高,从而让船只可以进入,为发展水上旅游创造条件。
东雅加达市市长表示,将给予实际支持,推动相关工作。
“这一边已经整理得很好。那么另一边呢?”市长一边询问,一边寻找Jatinegara村村长,希望其尽快整顿Kali Buaran西岸的违章建筑。
他同时提醒Cakung区区长,也应推动Kali Buaran沿线环境的整体整治。
雅加达文化和旅游观察人士H. Abu Galih补充说,Penggilingan已经因为当地的“小型工业村”(PIK)而为公众所熟悉。PIK是一个可以购买服装等商品的购物旅游区域。
而文化遗产“磨石遗址”距离PIK并不远。
TransJakarta公交车以及JakLingko/Minitrans等公共交通也经过RW 07和PIK Penggilingan。因此,Abu Galih认为,这一文化遗产遗址具有较大的发展潜力,可以建设成为集历史、文化和购物于一体的旅游目的地。
在节庆主要活动期间,市长Munjirin、Uya Kuya和Syahroni还共同启动了在Kali Buaran河岸种植黄色Tabebuya花树的活动。
希望未来这些树木能够进一步美化Jalan Kali Buaran沿线环境。
植树结束后,Syahroni表示,“磨石节”每年都会增加新的活动,希望这些活动能够对当地居民产生积极影响,尤其是提高公众对环境和文化遗产保护的关注。
“从今年的队列比赛中,我们了解到,原来PPSU工作人员不仅纪律性很强,而且能够团结协作。”他说。
作为一项文化节庆活动,本届“磨石节”还安排了Gambang Kromong传统音乐表演,以及融合Betawi传统武术(Pencak Silat)的“Palang Pintu”传统文化表演。(PRI)


