在中国西北部,素有 “死亡之海” 之称的塔克拉玛干沙漠,数百年来因沙尘暴、干旱和贫瘠的土壤,几乎让农业生产成为不可能。然而今年夏天,就在这片沙漠的边缘地带,小麦却取得了令人瞩目的收成。
王玉峰来自中国北方的粮食主产区河北省,去年他投入超过 200 万元人民币(约合 29.4 万美元),在新疆维吾尔自治区塔克拉玛干沙漠西南边缘的麦盖提县试种杂交小麦品种。
麦盖提县三面被沙漠环绕,境内约 90% 的土地曾被沙丘覆盖。这里年降水量不足 100 毫米,而蒸发量却超过 2000 毫米。
在如此严酷的自然条件下,粮食种植似乎毫无希望,但全球科学家正在探索在沙质土壤上种植作物的方法。随着全球人口持续增长、耕地面积日益紧张,沙漠虽然贫瘠,却拥有广阔的土地资源。以色列、埃及以及海湾国家等已积极发展沙漠农业,将干旱地区视为未来耕地的潜在储备。
王玉峰在沙漠附近租赁了 93 公顷盐碱地,预计今年总产量将超过 97.6 万公斤。他原本是一名服装商人,长期以来对在此种植小麦心存疑虑,直到遇到一群来自北京的科研人员 —— 他们多年来一直致力于培育抗旱杂交小麦品种。
王玉峰在新疆种植的 “京麦 189”,是由北京市农林科学院历经九年研究培育而成。与其他杂交品种一样,它具备极强的耐盐碱、抗病、抗旱和耐寒能力。
自 20 世纪 90 年代起,该院科研团队便开展杂交小麦的研究与培育工作。“京麦 189” 因产量高且稳定,同时能在贫瘠土壤中良好生长,很快受到种植户的青睐。
在麦盖提县小规模试种成功后,科研人员进一步启动了在塔克拉玛干沙漠周边推广种植该品种的计划。
“这不仅关乎粮食增产,更承载着沙漠治理的长远目标。” 研究院项目组高级农艺师任立平表示。
据任立平介绍,小麦的生长周期长达 240 至 260 天,从每年 9 月下旬持续至次年 6 月下旬。这一较长的生长期,使小麦在冬季能有效起到防风固沙的作用。
杂交小麦还拥有发达且深入地下的根系,可牢牢固定沙土。收割后将秸秆翻埋入土,能改善土壤微生物环境,进而逐步提升土壤肥力。
从事杂交小麦育种研究长达 30 年、也是 “京麦 189” 核心研发专家的张凤廷表示,该品种最初在中国北方沿海盐碱地进行试验,后来发现它在内陆沙漠周边的试验田表现更为出色。
试验田的土壤平均含盐量达千分之 8.6,属于重度盐碱地。在这样的环境中,绝大多数植物难以存活,粮食种植几乎被视为不可能。多年来,当地农民在条件最好的地块种植传统小麦品种,每公顷产量也仅能勉强达到 3000 公斤左右。
今年 6 月中旬,王玉峰在沙漠边缘的麦田每公顷产量突破 5250 公斤,比其他品种高出约 750 公斤。对于育种专家而言,这一成果令人备受鼓舞。
不过,沙漠农业的试点规模受到严格控制。根据中国划定的生态保护红线,仅允许在沙漠边缘少量区域开展种植。该项目自 2023 年启动以来,开发利用的沙漠周边土地仅超过 6667 公顷,与全国 1.2 亿公顷耕地总面积相比,只是极小的一部分。
产量的提升进一步增强了农户的信心。王玉峰计划继续扩大在沙漠边缘的小麦种植面积。
科研人员也对此前景持乐观态度。任立平表示,目前研究已引入分子生物学、人工智能和生物育种等先进技术,国内外越来越多的同行也加入这一领域。他相信,在不久的将来,产量还有望进一步提高。
有趣的是,两年前科研人员在新疆开展了一项盲测实验。他们将当地传统小麦与杂交小麦分别磨粉制成面条,让参与者进行盲评打分。结果显示,“京麦 189” 获得了最高评价。
“我坚信,随着科学技术的不断进步,将沙漠变为良田的愿景终将逐步成为现实。” 任立平说。
Di Tepi Gurun Pasir Terbesar di Tiongkok, Gandum Tumbuh Subur
Di wilayah barat laut Tiongkok, Gurun Pasir Taklamakan yang telah lama dikenal sebagai “Lautan Kematian” selama berabad-abad membuat pertanian hampir mustahil dilakukan, karena seringnya badai pasir, kondisi kering dan tanah yang tandus. Namun pada musim panas tahun ini, di daerah tepat di pinggir gurun tersebut, tanaman gandum justru menghasilkan panen yang cukup mengesankan.
Wang Yufeng, warga asli Provinsi Hebei — salah satu daerah penghasil padi dan gandum utama di Tiongkok bagian utara — telah menanam varietas gandum hibrida sejak tahun lalu di Kabupaten Makit, yang terletak di sisi barat daya Gurun Taklamakan, Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang. Ia menginvestasikan lebih dari 2 juta yuan (sekitar 294.000 dolar AS) untuk usaha tersebut.
Kabupaten Makit dikelilingi gurun pasir dari tiga sisinya, dan sekitar 90 persen wilayahnya dulunya tertutup bukit pasir. Curah hujan tahunan di daerah ini kurang dari 100 milimeter, sedangkan tingkat penguapan air mencapai lebih dari 2.000 milimeter.
Kondisi alam yang sangat keras ini mungkin tampak tidak memungkinkan untuk bercocok tanam, namun para ilmuwan di seluruh dunia kini terus mengembangkan cara menanam tanaman di tanah berpasir. Di tengah keterbatasan lahan subur dan pertumbuhan jumlah penduduk dunia, gurun yang terlihat tandus justru menyediakan wilayah yang sangat luas. Negara-negara seperti Israel, Mesir dan negara-negara Teluk Persia telah aktif mengembangkan pertanian di lahan kering, dan memandang daerah semacam itu sebagai cadangan lahan pertanian di masa depan.
Wang menyewa lahan seluas 93 hektar yang bersifat asin dan basa di dekat gurun tersebut, dan memperkirakan panen tahun ini bisa mencapai lebih dari 976.000 kilogram. Sebelumnya ia adalah pedagang pakaian, dan sempat lama ragu apakah bisa menanam gandum di sana — sampai ia bertemu sekelompok peneliti dari Beijing yang telah bertahun-tahun mengembangkan varietas gandum hibrida yang tahan kekeringan.
Varietas gandum yang ditanam Wang di Xinjiang, yang diberi kode Jingmai 189, dikembangkan oleh Akademi Ilmu Pertanian dan Kehutanan Beijing melalui penelitian selama sembilan tahun. Sama seperti varietas hibrida lainnya, jenis ini memiliki daya tahan yang kuat terhadap tanah asin-basa, serangan hama dan penyakit, kekeringan serta suhu rendah.
Sejak tahun 1990-an, para peneliti di lembaga tersebut telah mengembangkan berbagai jenis gandum hibrida. Jingmai 189 dengan cepat disukai oleh petani karena hasil panennya tinggi dan stabil, serta kemampuannya tumbuh dengan baik di tanah yang kurang subur.
Setelah uji coba skala kecil di Makit berhasil, tim peneliti melanjutkan program penanaman di wilayah sekitar Gurun Taklamakan — gurun terluas di Tiongkok.
“Hal ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga memiliki tujuan jangka panjang untuk pengendalian kerusakan lahan dan gurun,” ujar Ren Liping, ahli pertanian senior dari tim peneliti tersebut.
Menurut Ren, masa pertumbuhan gandum berlangsung selama 240 hingga 260 hari, yaitu mulai akhir September hingga akhir Juni tahun berikutnya. Siklus yang cukup panjang ini membuat tanaman gandum berfungsi sebagai penahan angin dan pasir yang efektif selama musim dingin.
Gandum hibrida juga memiliki sistem akar yang kuat dan menjalar ke dalam tanah, sehingga mampu mengikat butiran pasir agar tidak mudah bergerak. Setelah panen, batang dan jerami gandum dibalikkan ke dalam tanah, sehingga memperkaya unsur hara dan mikroorganisme tanah, yang pada gilirannya membantu meningkatkan kualitas tanah secara bertahap.
Zhang Fengting, yang telah mengabdikan 30 tahun hidupnya untuk penelitian pemuliaan gandum hibrida dan menjadi ahli utama di balik varietas Jingmai 189, menyebutkan bahwa awalnya jenis ini diuji coba di daerah pesisir yang bersifat asin-basa di Tiongkok utara, namun justru memberikan hasil yang lebih baik di lahan percobaan di sekitar gurun pedalaman.
Kadar garam rata-rata tanah di lokasi percobaan mencapai 8,6 per seribu, sehingga termasuk dalam kategori tanah sangat asin dan basa. Di kondisi seperti ini, hampir tidak ada tanaman yang bisa bertahan hidup, sehingga usaha pertanian tampak mustahil dilakukan. Selama bertahun-tahun, petani setempat yang menanam gandum biasa di lahan terbaiknya hanya bisa memperoleh hasil sekitar 3.000 kilogram per hektar.
Pada pertengahan Juni tahun ini, lahan milik Wang di pinggir gurun menghasilkan lebih dari 5.250 kilogram gandum per hektar — sekitar 750 kilogram lebih banyak dibandingkan varietas lain. Bagi para ahli pertanian, hasil ini sangat memuaskan dan membuka harapan baru.
Meski demikian, pengembangan pertanian di daerah gurun tetap dibatasi secara ketat. Berdasarkan ketentuan perlindungan lingkungan di Tiongkok, hanya sebagian kecil wilayah di pinggir gurun yang boleh dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Sejak program ini dimulai pada tahun 2023, luas lahan yang berhasil dikembangkan baru mencapai sekitar 6.667 hektar, yang merupakan bagian sangat kecil dibandingkan total luas lahan pertanian nasional yang mencapai 120 juta hektar.
Peningkatan hasil panen ini semakin menumbuhkan kepercayaan diri para petani. Wang berencana memperluas lahan tanamannya di sekitar gurun.
Para ilmuwan juga tetap optimis. Menurut Ren, penelitian saat ini telah menerapkan berbagai teknologi mutakhir, seperti biologi molekuler, kecerdasan buatan, dan pemuliaan berbasis bioteknologi. Semakin banyak peneliti dari dalam dan luar negeri yang terlibat dalam bidang ini. Ia meyakini, peningkatan hasil panen yang lebih tinggi masih bisa dicapai dalam waktu dekat.
Menariknya, dua tahun lalu tim peneliti mengadakan uji rasa buta di Xinjiang. Tepung dari gandum lokal dan tepung dari varietas hibrida diolah menjadi mi, lalu disajikan kepada peserta yang diminta memberikan penilaian. Hasilnya, gandum Jingmai 189 mendapatkan nilai tertinggi.
“Saya yakin dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang terus berlanjut, harapan untuk mengubah lahan tandus menjadi tanah pertanian yang subur akan menjadi kenyataan secara bertahap,” kata Ren. Sumber Berita

