Pantjoran Tea House yang ada di sudut area Jalan Pancoran Glodok, Jakarta Barat masih mempertahankan tradisi minum teh. Pengunjung tak hanya bisa menikmati seduhan teh, tapi juga bisa mempelajari seni menyeduh teh.
Kedai yang bernuansa oriental itu, terlihat dari dekorasi lampion dan ukiran di pintu, jendela, maupun penyekatnya, masih menyimpan beberapa tradisi masa lalu. Salah satunya adalah tradisi patekoan. Patekoan memiliki dua suku kata yang aslinya terpisah, yaitu ‘pa’ yang bermakna ‘delapan’ dan ‘teiko’ yang merujuk pada teko.
Tradisi patekoan lekat dengan cerita seorang kapitan keturunan Tiongkok bernama Gan Djie. Kapitan Gan Djie dan istrinya dikenal memiliki kepekaan dan kebaikan hati. Saat itu Gan Djie dan istrinya mempunyai kebiasaan menyajikan delapan teko teh gratis di depan kantornya untuk para pejalan kaki yang kehausan. Hingga saat ini, tradisi patekoan masih dipertahankan di Pantjoran Tea House.
Kedai teh berada di pintu selatan dari area Kota Tua Jakarta yang menuju ke daerah Pecinan (China Town). Gedungnya dibangun sekitar 1900 dengan nama Winkel The Lun Tai (Toko Pojok milik The Lun Thai). Pada 1920-an, gedung itu merupakan sebuah apotek terkenal, yakni Apotheek Chung Hwa. Banyaknya imigran dari Tiongkok membuat kawasan tersebut terkenal dengan toko-toko obat tradisional.
Tahun 2015, sesuai dengan instruksi Jokowi saat masih menjabat gubernur DKI, gedung ini masuk proyek Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) yang diinisiasi oleh Pak Lin Che Wei. Saat itu juga gedung ini masuk cagar budaya.
Pantjoran Tea House memiliki dua lantai. Kebanyakan warga yang berkunjung penasaran tentang sejarah teh serta seni penyeduhan Gong Fu Cha. Karena itu, hampir semua meja di-setting peralatan penyeduhan teh yang mengacu pada Gong Fu Cha.
Seni penyeduhan teh Gong Fu Cha adalah salah satu keunggulan di kedai teh ini. Seremoni Gong Fu Cha ini ada sejak Dinasti Qing atau Kerajaan China. Saat ini seremoni Gong Fu Cha dilakukan untuk menghormati orangtua, minta maaf, dan memperdekat tali persaudaraan. Itu biasa dilakukan orang Tionghoa.
Proses minumnya pun tidak bisa sembarangan. Teh pertama dituangkan ke tasting cup, kemudian ditutup menggunakan aroma. Setelah itu dibalik. Tasting cup biasanya digunakan untuk menghangatkan tangan. Sebelum minum, terlebih dahulu mencium tasting cup. Kenapa dicium dahulu? Karena di sinilah kita dapat menghargai para petani teh dari berbagai belahan dunia. (WEBSITE PANTJORAN TEA HOUSE)
Alamat: Jl. Pancoran Raya No.4-6, Jakarta 11120 Indonesia
Telp: +62 21 6905904
Website
Cek Menu




